10 Hal Mengapa Kamu Harus Mengunjungi Solo

0
Solo Surakarta Java Indonesia

Solo. “Seize your moment”, sebuah ungkapan yang mengajak kita untuk meraih sesuatu yang kita inginkan mumpung masih diberi kesempatan. Kalau versi Indonesia/Arab-nya mungkin “Ingat 5 perkara (kesempatan sewaktu masih muda, sehat, kaya, luang, hidup), sebelum 5 perkara (tua, sakit, miskin, sibuk, mati)”.

Sebagai kaum urban ibukota (prettt..), tentu saja ungkapan ini benar-benar memotivasi saya untuk meraih segalanya selagi masih mampu: uang, karir, traveling, pergaulan, asmar…uhm.. marimar awww…

Satu yang selama ini lumayan terlupa buat saya: memperbanyak waktu untuk keluarga. Iya, ini semua gara-gara film Coco. Film ini seakan menonjok ubun-ubun kepala saya untuk  selalu ingat dan memperbanyak waktu bertemu dengan keluarga selagi masih diberi kesempatan. We’re too busy growing up. At the same time, we forget our family are growing older and older. Somehow.

Sebagian besar keluarga saya tinggal di Solo. Sekarang saya akan lebih sering mengunjungi Solo. Tentu saja keluarga menjadi alasan utama saya untuk mengunjungi kota yang mempunyai tagline ‘The Spirit of Java’ ini. Kalau kamu? Nih, saya kasih 10 alasan mengapa kamu harus mengunjungi Solo.

1. Satu-satunya kota yang mempunyai 2 kerajaan

Saat berada di bandara Adi Sumarmo, saya tidak sengaja mendengar (overheard)  sekelompok SPG yg di-briefing sama mas-mas mandor SPG (apa sih sebutannya?) bahwa Solo merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki dua kerajaan yang masih eksis. Dua kerajaan tersebut adalah Kraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran. Walaupun saya lahir dan besar di Solo, saya baru tahu lho kalau Solo menjadi satu-satunya kota yang mempunyai dua kerajaan. Hahaha.

Keraton Kausnanan Solo
Keraton Kasunanan Solo

2. Tempat wisata buanyak…
Pernah seorang teman bilang ke saya bahwa nggak banyak yang bisa dikunjungi di Solo. Wajar sih, karena wilayah kota Solo kan memang kecil. Keraton, Pasar Klewer, beberapa situs cagar budaya, kemudian apa lagi? Sedikit kan yang bisa dikunjungi?

Namun, jika kamu mau bergerak 1-3 jam saja dari Solo, kamu bisa menemukan begitu banyak yang bisa dikunjungi. Pantai, air terjun, gunung, candi, sumber mata air alami, semuanya ada! Baca artikel ini *klik* deh.

Gunung Bukit Cumbri Wonogiri Ponorogo
Bukit Cumbri
Air Terjun Grojogan Sewu Tawangmangu
Air Terjun Grojogan Sewu, Tawangmangu

3. Internet supercepat
Sebagai anak milenial, ini yang paling saya sukai dari Solo: Internet supercepat! Jumlah penduduk di Solo tidak sebanyak kota-kota besar lain. Dengan demikian, kita bisa leluasa berinternet dengan kecepatan tinggi tanpa harus bersaing dengan pengguna internet lainnya.

Saya iseng mengukur kecepatan internet dengan nomor SIM card XL dan Simpati (suatu saat saya akan mencoba SIM card lainnya). Speednya mencapai hampir mendekati 50mbps! Wow. Saya belum pernah merasakan speed sedahsyat ini di Jakarta. Real 4G cyin!

Sinyal internet 4G Solo Surakarta
Ini adalah kecepatan internet dengan menggunakan kartu SIM XL dan Simpati di Solo

4. Sudah ada Ojek Online
Kabar gembira buat pengguna jasa ojek online. Uber, Grab, Gojek kini sudah hadir di Solo. Bahkan, pagi-pagi jam 3 saya mencari ojek online pun ada! Jumlah driver-nya memang nggak melimpah seperti di Jakarta sih, namun lumayan lah buat mengobati kangen diboncengi abang jaket ijo-ijo.
Pilihan transportasi di Solo pun semakin banyak dan murah. Saya pernah ngobrol dengan pengemudi Uber, kalau dari Kota Solo ke bandara Jogja cuma butuh ongkos Rp165ribu. Padahal rute ini mempunyai jarak lumayan jauh lho. Terakhir saya menggunakan Uber, berangkat dari UNS ke Bandara Adi Soemarmo hanya membutuhkan ongkos Rp55ribu. Mungkin ongkos ojek online lain juga sekitar itu kali ya.

Baca juga:  Virgin Beach, Bali. Ketika Perawan Hanyalah Sebuah Mitos

Belum lagi, ada beberapa pilihan transportasi reguler, seperti taksi lokal, Batik Solo Trans (semacam busway transjakarta), angkot, mobil sewaan, dan juga becak. Transportasi yang disebut terakhir ini yang selalu bikin saya kangen Solo. Kira-kira berapa tahun lagi becak masih bisa bertahan ya? Kira-kira anak milenial yang kebanyakan bercita-cita menjadi Youtuber atau Selebgram masih mau nggak mengayuh becak?

5. Budaya Jawa masih kental
Suasana Jawa sudah sangat terasa ketika menginjakkan kaki di Solo. Pengumuman di bandara, selain menggunakan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, juga menggunakan Bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan pun Bahasa Jawa halus tingkat tinggi atau yang juga dikenal dengan sebutan Kromo Inggil.

Selain budaya Jawa yang tampak mata, juga masih banyak wong Solo yang berpegang pada budaya Jawa secara perilaku. Seorang driver ojek online keturunan Padang mengakui kalau orang Solo mempunyai toleransi yang tinggi. Semua umat hidup berdampingan mesra. Iya, saking tingginya toleransi, kursi duduk dekat jendela pesawat saya diserobot orang pun saya kudu toleransi juga. Huvt.

6. Wisata Rumah Sakit
Kota Solo sering menjadi destinasi kesehatan. Banyak sekali rumah sakit umum dan spesialisasi di Solo yang dijadikan rujukan untuk berobat. Kini, Solo juga mempunyai rumah sakit dengan tinggi 25 lantai. Namanya rumah sakit Indriati yang beralamat di Jl. Palem Raya, Langenharjo, Solo Baru (Klik untuk melihat di Google Map). Kabarnya, di atas rumah sakit ini dibangun helipad juga lho. Buat kamu-kamu yang punya helikopter silakan berobat kemari. Yakali.

Di kota budaya ini juga masih terdapat penjual yang menyediakan beragam pengobatan tradisional yang telah dipercaya secara turun temurun lho. Mulai dari pengobatan Jawa, hingga pengobatan China. Solo sangat serius membuatmu untuk tetap selalu sehat walafiat.

7. Anti Inflasi

Rata-rata harga makanan dan barang di Solo masih sangat murah. Inflasi sepertinya belum berani PDKT dengan kota ini. Misalnya, baru-baru ini saya mengunjungi Restoran bernuansa Jawa “Ayam Goreng Mbah Karto Tembel” *klik untuk melihat lokasi di Google Map*. Menu favorit di sini adalah ayam kampung goreng dengan sambal cabuk. Baru denger kan sambel cabuk? Saya juga baru pertama kali kok merasakan sambel ini. Uennnaakkk banget lho. Terbuat dari apa sih sambel cabuk? Menurut pelayan di sini sih sambal cabuk ini terbuat dari wijen dan ramuan khas lainnya.

Baca juga:  Sawah Jaring Laba-laba di Cancar, Flores

Katanya sih, rumah makan ini favorit para pejabat dan artis. Padahal, harganya lumayan miring. Kalau saya bilang bahwa saya memesan ayam goreng kampung 6 buah beserta nasi dan lalapan, ati ampela satu, dan es teh 6 gelas dengan total harga hanya Rp136.000 apakah kamu akan melaporkanku sebagai penyebar hoax? Murehnya bikin gak tahan buat nambah lagi dan lagi!

Sambel Cabuk
Sambel Cabuk yang terbuat dari wijen dan berbagai bahan unik lainnya

Ini saya belum cerita harga menu warung angkringan (di Solo lebih dikenal dengan sebutan ‘warung hik’) di pinggir jalan ya… Siap-siap saja kamu pulang ke kotamu membawa oleh-oleh kolesterol hahaha.

8. Penginapan banyak dan murah

Selain menjadi kota perdagangan, Kota Solo juga sudah mulai berevolusi menjadi kota MICE (meeting, incentive, convention, exhibition). Banyak sekali agenda yang diadakan di Solo. Mungkin melihat peluang ini lah, kini hotel-hotel begitu menjamur di kota ini.

Kalender Wisata Solo
Kalender Wisata Solo

Mau hotel yang bagaimana? Hotel berbintang, hotel modern pencakar langit, hotel bernuansa Jawa, atau villa dengan nuansa dingin ala-ala puncak? Khusus untuk hotel pencakar langit sendiri, sudah dibangun lebih dari lima hotel dan apartemen di atas 20 lantai. Belum lagi hotel belasan lantai yang tersebar di penjuru kota Solo. Tak perlu kawatir kantong jebol. Tarif hotel di Solo masih murah.

Skyline Solo
Skyline Solo yang mulai bertabur gedung-gedung bertingkat di atas 20 lantai

9. Pusat Perbelanjaan Banyak

Solo adalah kota yang maju karena sektor perdagangan. Dari zaman dulu hingga sekarang, ekonomi kota ini selalu bergeliat 24 jam, yang didorong dari sektor perdagangan. Jika kamu menemui banyak pedagang di kota-kota lain berketurunan Solo, ya begitulah takdir kami hahaha. Tak heran jika di kota sekecil ini pun sekarang juga dibanjiri dengan mall dan pusat perbelanjaan. Departemen store sekelas Centro dan Metro saja ada lho di Solo. Carrefour, Hypermart, Giant, Transmart, Alfamart, Indomart, Superindo, beuh… lengkap deh.

Solo Paragon Mall
Mall Solo Paragon dengan tulisan Jawa dan wayang raksasa

Oh ya, daya beli kota ini juga lumayan tinggi. Wilayah kotanya memang kecil. Namun, jangan kaget kalau Solo sudah mempunyai XXI premiere dua biji. Iya, studio premiere yang mevvah itu. Awalnya, saya agak ragu, apakah tidak berlebihan kota sekecil ini mempunyai dua bioskop papan atas tersebut?

Kemudian saya buktikan sendiri datang ke Mall Solo Paragon untuk menonton di bioskop kelas premiere. You know what? Saya batal nonton film di XXI premiere hanya gara-gara tempat duduknya penuh. I was like “What… Solo? How? Come?”
Udah ah, bahas pusat perbelanjaannya. Bosen. Di Jakarta udah sumpek ama mall, masak di Solo juga bakal disumpeki beginian hahaha.

Baca juga:  Bersantai di Taman Putri Raja: Taman Balekambang, Solo.

10. Jalur penerbangan yang banyak dan murah
Dulu, saya sering pergi ke Solo melalui bandara Adi Sucipto Jogja (posisi saya di Jakarta by the way). Alasannya klasik: karena harga tiket pesawat via bandara ini lebih murah dan pilihan penerbangan yang lebih banyak. Apalagi akses dari Bandara Adisucipto Jogja ke Solo juga lumayan mudah, bisa dengan menggunakan kereta api Prameks, bus antar kota yang beroperasi 24 jam, atau pilihan transportasi lainnya.

Namun sekarang, saya lebih sering pergi ke Solo melalui bandara internasional kebanggaan wong Solo, Bandara Adi Sumarmo. Sekali lagi karena alasan klasik: karena harga tiket pesawat lebih murah dan pilihan penerbangan sudah banyak. Saya realistis kalau soal ini. Hehehe

Yang bikin saya kaget adalah jalur penerbangan ke Solo kini bisa dijangkau dari berbagai kota! Jakarta, Bengkulu, Lampung, Denpasar Bali, Kupang, Medan, Jayapura, Ternate, Sorong, Jambi, Padang, Palembang, Pontianak, dan beberapa kota lainnya.
Sebenarnya sih, Solo beruntung ‘mempunyai’ 3 bandara. Kita bisa pergi ke Solo melalui Bandara Adi Sumarmo di Solo, Bandara Adi Sucipto di Jogja, maupun Bandara Ahmad Yani di Semarang. Jarak ketiga kota ini tidak terlalu jauh.

Kalau untuk urusan tiket pesawat, saya pasti pesan di Traveloka. Sekali lagi dan lagi dengan alasan klasik: harga lebih murah dan pilihan penerbangan banyak dari berbagai maskapai. Ada fitur yang paling saya suka di sini: bisa langsung chek in pesawat online melalui website atau aplikasi Traveloka di handphone. Menurut saya, fitur ini sangat membantu karena tidak perlu lagi repot-repot googling mencari alamat website check in online penerbangan saya. Tinggal klik-klik, tak sampai beberapa menit sudah selesai proses check-in. Sangat mudah check-in online di Traveloka. Coba saja kalau tidak percaya.

Online Check In Pesawat Traveloka
Fitur Online Check In Pesawat di aplikasi Traveloka

Itulah sekelumit dari jutaan kelumit alasan mengapa harus mengunjungi Solo. Nanti akan saya ceritakan kelumit-kelumit lain jika ada kesempatan mengunjungi Solo lagi. Btw, arti kata ‘kelumit’ apa sih?

Well, just like us, seiring modernisasi di berbagai bidang, Kota Solo juga keep growing up. Di sisi lain, Budaya Jawa juga growing older and older kemudian (semoga saja tidak terjadi) vanish. Mumpung masih punya kesempatan mengunjungi Solo dengan nuansa Jawa-nya, segeralah kemari. Jangan lupa membawa obat kolesterol karena kuliner Solo terbuat dari cinta dan goda.

SHARE

LEAVE A REPLY