Gerhana Matahari Jakarta 9 Maret 2016

6
Gerhana Matahari Jakarta 2016

“The right scent can make you feel a little more stylish, but it should never eclipse who you are. It should complement who you are.” – Justin Timberlake

Jakarta. “Panas! Matahari, bisa nggak sih volumenya dikecilin sedikit”, “Aku nggak mau ke pantai, mending berteduh di bawah payung. Takut kulitku menjadi hitam karena sinar matahari!”, “Aduh males bangun pagi! Hey matahari, kamu bisa sembunyi bentar saja nggak?”, “Males keluar siang-siang gini, berangkat agak sorean dikit ah biar gak panas!”

Seperti itulah kira-kira keluhan manusia yang tinggal di negara tropis. Kayaknya benci banget dengan yang namanya matahari. Giliran momen langka gerhana matahari terjadi, semua pada nongol foto-foto biar eksis di media sosial. Begitulah manusia, menyebalkannya tiada akhir.

Indonesia sangat beruntung bahwa pada tahun 2016 diberi kesempatan untuk menyaksikan gerhana matahari. Ada beberapa kota yang disinggahi gerhana matahari total pada tahun 2016 ini: Palembang, Tanjung Pandan Belitung, Balikpapan, Palu, dan Ternate. Bagi yang tidak punya kesempatan menyaksikan gerhana matahari total, kita masih diberi kesempatan menyaksikan gerhana matahari parsial di wilayah lain di Indonesia.

Saya sendiri tidak mengunjungi tempat-tempat yang disinggahi gerhana matahari total. Saya lebih memilih menyaksikannya di Jakarta, yang ‘hanya’ diberi gerhana matahari sebagian. Tapi tak mengapa, yang penting masih bisa mengabadikan momen yang mungkin puluhan atau ratusan tahun lagi datang menyambangi Indonesia.

Gerhana matahari itu apa sih? Sederhananya seperti ini. Gerhana matahari terjadi ketika posisi matahari – bulan – bumi (urutannya seperti itu, jangan dibolak-balik) dalam satu garis lurus sehingga cahaya matahari yang harusnya sampai ke bumi terhalang oleh bulan. Untuk menyaksikan gerhana matahari, posisi kita harus berada di bayangan umbra/penumbra, bayangan di mana matahari tertutup oleh bulan. Apakah Jakarta menjadi gelap saat gerhana matahari parsial akibat berada di bayangan umbra/penumbra ini? Tidak. Jakarta tetap terang benderang. Bahkan, saat puncak gerhana pun tidak lantas membuat Jakarta menjadi gelap.

Baca juga:  (Gagal) Mengejar Sunset di Borobudur

Gerhana matahari di Jakarta terjadi antara pukul 7 – 8 pagi dengan puncak gerhana pada pukul 7.20an. Pagi-pagi, saya sudah berangkat menuju Gedung Dhanapala yang mempunyai tinggi 20 lantai. Di atap gedung inilah, saya dan teman-teman saya berburu foto gerhana matahari. Haruskah kita ke atap gedung tinggi untuk mengambil foto gerhana matahari? Tidak harus. Saya berburu gerhana matahari sampai ke puncak gedung tinggi begini kan memang karena lebay saja hehehe.

Nah, untuk mengabadikan gerhana matahari, ada beberapa peralatan yang perlu disiapkan. Peralatan yang saya gunakan waktu itu adalah sebagai berikut:

1. Kamera mirrorless.

Saya membawa kamera jenis ini karena kamera yang saya punya adalah jenis mirrorless. Tidak harus menggunakan kamera mirrorless jika ingin memotret gerhana matahari. Kamu bisa juga menggunakan kamera DSLR atau kamera pocket/prosumer dengan optical zoom  di atas 20x.

2. Lensa tele

Penggunaan lensa tele adalah wajib jika kamera yang dipakai adalah jenis mirrorless/DSLR. Lensa tele biasa digunakan untuk memotret obyek dari jarak yang jauh. Lensa tele yang saya gunakan waktu itu adalah lensa 200mm untuk sensor kamera APSC (ekuivalen 300mm untuk sensor full frame yang biasa digunakan di kamera DSLR). Lensa ini cukup memadai untuk memotret bulan dan matahari. Hasil fotonya memang masih tampak jauh, namun demikian tak menjadi masalah karena masih bisa kita crop pada saat post processing selanjutnya.

Foto pertama di atas adalah foto yang sudah di-crop. Sedangkan foto di bawah ini adalah versi asli foto gerhana matahari tersebut, yang diambil dengan menggunakan lensa tele 200mm.

Gerhana Matahari Jakarta Indonesia
Gerhana Matahari di Jakarta dengan menggunakan lensa tele 200mm. Walaupun sudah menggunakan lensa tele, gerhana matahari masih tampak mungil bukan?

3. Filter ND 10 stops

Penggunaan Filter ND adalah opsional, bisa digunakan, bisa tidak. Kita masih bisa memotret gerhana matahari kok walaupun tanpa menggunakan filter ND.

Baca juga:  Samsung NX500 Review: Beli atau Tidak?

Namun demikian, banyak fotografer yang mewajibkan ‘harus’ menggunakan filter ND karena alasan keamanan. Fungsi filter ND adalah mengurangi cahaya yang masuk ke sensor kamera. Hal ini kemudian dapat melindungi sensor kamera dari kerusakan akibat cahaya matahari yang terlalu kuat.

Saya sih sependapat dengan fotografer-fotografer terebut. Saya menggunakan filter ND sampai 10 stops karena saya sayang dengan kamera saya. Filter ND yang digunakan untuk memotret gerhana matahari sebaiknya di atas 6 stop. Waktu itu, saya kesusahan mencari ND 6 stops, sehingga terpaksa membeli yang 10 stops. Menurut saya, filter ND 10 stops ini terlalu gelap. Filter ND 10 stops memang melindungi kamera dari sinar matahari yang destruktif, tapi sangat susah dipakai untuk pemotretan sehari-hari karena terlalu gelap. Apalagi digunakan di dalam ruangan, beuh… gelap gulita kayak masa lalumu!

4. Gorilla Pod

Karena saya lebih mengutamakan kepraktisan, saya membawa gorillapod, bukan tripod. Fungsinya sama, agar posisi kamera lebih stabil saat memotret gerhana matahari. Posisi kamera yang tidak stabil/bergerak-gerak bisa menyebabkan hasil foto buram/blur.

Setting kamera juga perlu diperhatikan. Mode ‘Auto’ sepertinya bukan pilihan yang bijak dalam memotret gerhana. Setting yang saya gunakan saat pemotretan gerhana matahari ini adalah ISO 100, F/22, 1/1250. Setting yang salah bisa menyebabkan foto matahari tampak sangat berpendar dan tidak tajam. Coba bandingkan foto di bawah ini.

Gerhana Matahari
Sebelah Kiri: Foto dengan setting ‘Auto’. Sebelah kanan: Foto dengan setting F/22, ISO 100.

Dan inilah video gerhana matahari di Jakarta, 9 Maret 2016. Karena cahaya matahari bergerak membesar dan mengecil, autofokus lensa saya pun juga kewalahan mengikutinya. Akibatnya, di video tampak begitu jelas pencarian fokus objek gerhana matahari. Maklum sih, lensa yang saya gunakan bukan jenis lensa yang autofocusnya cepat (biasanya harganya mahal!). Endorse aku lensa yang mahal dan bagus dong!

Baca juga:  Lebih Bagus Mana? Kamera Mirrorless Samsung, Fuji, Sony, Olympus, atau...?

Tertarik mengabadikan gerhana matahari? Siapkan tiket pesawat untuk memotret gerhana matahari pada tahun 2017? Kabarnya sih… Gerhana matahari tahun depan akan menyambangi Amerika Serikat.

SHARE

6 COMMENTS

  1. Mantap strateginya Bro! Betul itu pakai Mirrorless, lensa tele ASPC, sama filter ND (10 stop pula!).

    Eh, klo strategi nyari fokus sebenernya bisa diakalin Bro. Pas nyari fokus pakai ISO tinggi (800 an) dan bukaan diafragma besar (f/5.6). Kalau fokusnya sudah ketemu, matikan sistem autofokus. Kalau dari awal nyari fokus pakai bukaan diafragma kecil (f/22) ya susah dapetnya. Gitu sih menurutku.

LEAVE A REPLY