Jangan Anggap Terlalu Serius ‘Travelinglah Selagi Masih Muda’

9
Traveling Selagi Masih Muda

“The future belongs to those who prepare for it today.” – Malcolm X

Banyak propaganda dari beberapa ‘traveler sukses’ agar kita traveling mumpung kita masih muda. Ikuti passion-mu, jangan sampai menyesal jika kamu sudah tua nanti. Kalau perlu, tinggalkan pekerjaan yang mengekang untuk mewujudkan passion-mu. “Nih buktinya gue bisa!”

Inspiratif banget kan? Provokatif banget kan? Propaganda tersebut ada benarnya, namun kalau bisa jangan dianggap terlalu serius. Jika kamu mampu mengejar passion-mu, fine. Lanjutkan. Namun, kita hidup di dunia di mana passion terkadang tidak sesuai dengan realita.

Propaganda tersebut memang ada benarnya. Seiring bertambahnya usia, semakin berkurang pula waktu senggang karena semakin banyak tanggung jawab yang menjadi beban kita. Bisa jadi kamu harus mengurusi keluarga, bisa jadi pekerjaan semakin sibuk, atau memang sudah lewat masanya traveling karena bully-an “Usia segini, elo masih traveling? Noh temen lo dah punya anak 5 bijik!”

Saya juga mengalaminya. Sekarang sangat susah membagi waktu antara pekerjaan dan traveling. Dulu, cuti dua minggu untuk jalan-jalan pun oke. Hajar. Akhir-akhir ini, weekend pun sudah mulai kesusahan untuk traveling karena memang tidak punya banyak waktu senggang.

Masalah kesehatan. Semakin tua, raga kita juga semakin melemah. Ini alamiah. Sudah hukum alam. Jangankan lari marathon, jalan 100 meter saja sudah ngos-ngosan. Kamu pernah melihat orang-orang berusia tua yang mudah sakit-sakitan? Itu bukan hoax. Semakin tua, ragamu akan semakin melemah. Saya pun merasakan demikian. Sangat terasa sekali perubahan raga saya sekarang dan 5 tahun lalu. Sewaktu masih muda, tak peduli hujan atau panas, semua diterjang. Tetap sehat-sehat saja tuh. Sekarang? Kehujanan 15 menit di jalan saja, langsung pilek-pilek. So, yakin di usia tua masih kuat traveling?

Pun ada kalanya saya merasa menyesal menghambur-hamburkan banyak uang di masa muda untuk traveling. Walaupun penyesalannya hanya beberapa menit saja, namun lumayan menghantui.

“Mengapa dulu tidak menyisihkan uang untuk ditabung ya?” “Foto-foto traveling selama ini asal jepret dan banyak narsisnya. Dijual bakalan laku nggak?” “Sudah nerbitin buku juga. Lumayan sih royaltinya, tapi… sepertinya tidak cukup untuk membiayai hidup selamanya.” dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan nggak jelas lainnya yang intinya: mengapa saya tidak menyisihkan uang untuk ditabung? #NggakNyambung #YangPentingHellYeah

Terlalu sering traveling di waktu muda juga bisa mengganggu kesehatan (dompet). Berikut ini beberapa alasan yang tak berhubungan langsung dengan traveling, tapi ada baiknya kamu pikirkan lagi sebelum terlambat.

1. Rumah

Harga rumah semakin meningkat. Tahun lalu, saya mengincar salah satu rumah di Serpong, Tangerang Selatan dengan luas tanah 60m2, tinggi dua lantai, dengan harga Rp500juta. Kini, harga rumah tersebut menjadi Rp595juta. Hanya dalam setahun harga rumah sudah naik Rp95 Juta! Dan saya belum bisa membelinya karena terlambat mengumpulkan uang muka/DP.

Baca juga:  Omah Semar: Penginapan Unik Bernuansa Jawa di Jogja

Beberapa minggu lalu, saya kembali mengincar sebuah rumah di Serpong dengan harga yang sama: Rp500juta. Rumah ini mempunyai ukuran lebih kecil dari rumah sebelumnya dengan luas tanah 50m2. Itupun hanya satu lantai! Harga rumah memang meroket bukan? Mau tahu harga rumah sejenis ini di komplek perumahan yang sama 3 bulan sebelumnya? ‘Hanya’ Rp 475.000. Hanya membutuhkan waktu 3 bulan, rumah dengan tipe yang sama naik Rp25 Juta!

Kenaikan gajimu mampu mengejar kenaikan harga rumah tersebut?

“Ah, orang tua masih punya rumah. Ntar juga dapat warisan.” Ya, beruntunglah kamu mempunyai orang tua yang mampu memberimu warisan. Tapi satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah berapa jumlah anggota keluarga yang berhak mendapat warisan tersebut. Jangan hanya gara-gara rebutan warisan, hubungan persaudaraan menjadi hancur. Dan ini sering terjadi. Walaupun dulu hubungan persaudaraan sangat baik sebagai keluarga, ketika sampai pada pembagian warisan, bisa jadi retak tak karuan.

Jikapun kamu ternyata rukun-rukun saja dengan anggota keluarga yang lain, pikirkan lagi hal yang satu ini: Kamu berkeluarga, saudaramu berkeluarga. Apakah kamu akan sama-sama tinggal satu atap di rumah warisan tersebut?

Belum lagi jika kamu punya anak, saudaramu juga punya anak. Suatu saat, apakah kamu akan memberi warisan dari orang tuamu yang dibagi berdua dengan saudaramu sekarang dibagi lagi ke anak cucumu? Lama-kelamaan cucu cicitmu hanya mendapat warisan satu genteng saja.

2. Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Masih berhubungan dengan pembelian rumah, sekarang kita akan membahas mengenai pembiayaan rumah. Karena jumlahnya sangat besar, rata-rata pembiayaan rumah menggunakan mekanisme Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Jangka waktu KPR ini antara 5-20 tahun. Saya kira agak mustahil mengambil rumah dengan jangka waktu KPR hanya 5 tahun karena perjuangan ngiritnya akan sangat luar biasa. Paling wajar antara 10-15 tahun.

Mari kita sedikit berhitung. Usiamu sekarang 25 tahun. Jangka waktu KPR 15 tahun. Saat umurmu 40 tahun, cicilan rumahmu baru lunas. Usia 40 tahun sudah lumayan tua bukan? Padahal kamu memulai utangmu saat masih kinyis-kinyis lho.

Dalam memberikan kredit, bank terkadang juga mempertimbangkan usia nasabahnya. Dengan pendapatan yang sama, orang yang berusia 40 tahun mungkin mendapat prioritas pemberian utang yang lebih rendah dibanding orang berusia 25 tahun. Semakin tua, biaya hidup pun semakin meningkat, misalnya biaya kesehatan, biaya sekolah anak, dan biaya lainnya. Dari mana uang untuk mengangsur rumah jika biaya hidupmu semakin membengkak gitu? Hah?

3. Uang Muka Rumah (Down Payment/DP)

Masih berhubungan dengan nomor 1. Mari berhitung lagi. Kamu terlalu asyik traveling yang hanya untuk dipamerkan di Path, Instagram, Facebook, Twitter, dan sosial media lain, sehingga sampai berusia 30 tahun belum membeli rumah. Tiba-tiba, kamu berubah pikiran bahwa di usia 35 tahun harus membeli rumah. Lima tahun kamu menabung untuk membayar uang muka rumah yang kisarannya antara 20-30% dari harga rumah (Kebanyakan bank mewajibkan DP antara 20 – 30% dari harga rumah). Di masa 5 tahun itu, harga rumah sudah menjadi-jadi dan uang tabunganmu keok tak mampu mengejar kenaikan harga rumah tersebut (masih ingat cerita di atas, harga rumah naik 25juta dalam 3 bulan dan 95juta dalam setahun?). Di usia 35 tahun, tabungan yang sebelumnya kamu prediksi mampu membayar uang muka 20% dari harga rumah, ternyata hanya bisa membayar 5% saja atau bahkan kurang. Mau menabung lagi? Sampai usia berapa?

Baca juga:  7 Fakta Menarik tentang Ikan Nemo

Let’s say, kamu berhasil mengumpulkan uang muka KPR sebesar 20%. Kamu mengambil cicilan selama 15 tahun. Usiamu sekarang 35 tahun. Artinya, utangmu baru lunas saat usia 50 tahun. Kamu sudah tuwir kiwir kiwir!

3. Cicilan Rumah

Masih berhubungan lagi dengan nomor 1. Mari kita berasyik masyuk bermain-main dengan matematika. Mulai pusing nggak dengan angka-angka?

Kebanyakan bank hanya memberi plafon cicilan sebesar 30% dari penghasilan kamu. Misalnya, jika penghasilanmu Rp 9 juta sebulan, bank hanya memberi pinjaman maksimal Rp3juta/bulan untuk cicilan rumah.

Dengan cicilan Rp3juta/bulan dan masa pinjaman selama 15 tahun, harga rumah tersebut adalah sekitar Rp250juta. Kamu tahu rumah dengan harga Rp250juta di Jabodetabek itu bentuknya seperti apa? Rumahnya sangat super sederhana sekali sampai selonjoran saja susah suit-suit sigh sedih (RSSSSSSSSSSSSSS). Padahal, itu dengan asumsi penghasilanmu Rp9Juta sebulan yang bisa dikategorikan tidak miskin lho.

*******

Alasan-alasan tersebut sebenarnya bermuara pada satu alasan saja: membeli rumah. Hehehe. Uang saya selama ini sudah banyak saya keluarkan untuk traveling, yang mengakibatkan tabungan saya kurang cukup untuk membayar 20% uang muka rumah. Curcol banget kan si mimin blog ini? Mberrrr… Makanya mimin share pengalaman mimin dimari.

Traveling selama masih muda memang perlu, mumpung raga masih kuat. Tapi kamu juga harus realistis dengan masa depanmu. Mau jadi apa kamu di masa depan? Jika hanya menjadi pegawai kantoran, lebih baik hidup seimbang: traveling iya, nabung buat masa depan iya. Lebih baik, banyakin nabungnya dibanding travelingnya.

Traveling itu sebenarnya buat apa sih? Memang kalau kamu sudah menginjakkan kaki di Paris, manfaatnya apa? Kepuasan? Bisa. Buat pamer? Bisa. Mencari pengalaman? Boleh.

Namun sebaiknya jangan terlalu kemakan omongan “Ikuti passion-mu, banyak-banyaklah traveling selama masih muda. nanti menyesal kalau sudah tua dan tidak bisa traveling”. Well, it’s okay jika kamu mampu mengikuti passion-mu dan mendapatkan uang dari situ.

Namun satu hal yang perlu dipikirkan: lebih baik menyesal di hari tua karena tidak traveling atau menyesal di hari tua karena tidak punya rumah? Lebih baik tidak menyesal dua-duanya bukan?

Baca juga:  Save Me Please...

Bisa jadi kamu sekarang ‘sangat berpengaruh’ sehingga bisa mendapat uang dari traveling ataupun sosial media. But hey, pernahkah kamu menyangka Friendster tutup, MySpace menjadi sarang laba-laba, Tumblr isinya link dari Instagram doang, Google Plus seperti kota mati, pengguna BBM pindah ke Whatsapp/LINE, dan Twitter…. sekarang mulai sepi karena banyak yang pindah ke Path dan cinta lama bersemi kembali pindah ke Facebook? Masih ingatkah dulu orang berbondong-bondong pindah dari Facebook ke Twitter, dan kini mereka kembali ke Facebook lagi? Pernahkah kamu secara akurat memprediksi itu semua terjadi hanya dalam hitungan beberapa tahun saja? Padahal sosial media yang saya sebutkan tadi ‘sangat berpengaruh’ di zamannya.

“Ah gampang, kan dari pengalaman traveling bisa dibuat buku, kemudian dijual, dapet deh duit untuk biaya hidup dan biaya traveling.”

Kamu tahu media cetak seperti Aneka Yess, Sinar Harapan, FHM, Penthouse, Jakarta Globe, Chic, dan majalah populer lainnya? Dulu, media tersebut sangat jaya. Sekarang, media cetak tersebut sudah tiada, kalah bersaing dengan media online. Bisa jadi bukumu sekarang sukses, seiring waktu, bisa saja ada media lain yang menghancurkan pasar bukumu. Atau bisa juga sebaliknya, karirmu di dunia media cetak malah semakin menggelegar. Who knows?

Well, tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi. Memang sih sewaktu masih muda usia di bawah 20 tahun, saya menyisihkan gaji untuk ditabung. Di usia sebelum 30 tahun, saya bisa membeli rumah di Solo. *Iya Si mimin pamer!*

Yang menjadi penyesalan adalah setelah itu saya tidak menabung lagi. Uang saya habiskan untuk traveling karena mengejar passion tadi.

Kini, di usia yang boleh dikatakan muda enggak, tua juga enggak. Saya sangat kesusahan mencari rumah di Jabodetabek. Seharusnya, jika tidak terlalu kebanyakan menghambur-hamburkan uang untuk traveling, mungkin saya mampu membayar DP rumah yang jumlahnya harus minimal 20% tadi. Tapi apa daya, nasi telah menjadi tai.

Maka dari itu, cobalah sisihkan sedikit uangmu untuk membeli rumah selagi masih muda. Tapi jangan lupa sisihkan uang untuk traveling juga, biar ada yang bisa buat pamer alay-alay gemulay. Apa sih yang kamu cari dari traveling? Supaya bisa foto narsis untuk dipamerkan di Path? Supaya mendapat follower banyak di Instagram? Supaya mendapat like banyak di Facebook? Sudah berhasilkan kamu mendapatkan hal-hal tersebut? Lebih penting mana jumlah like/follower dibanding beberapa tahun ke depan kamu mempunyai rumah dari hasil jerih payahmu sendiri? Kita hidup di antara mimpi dan realita. Pertimbangkan kembali.

SHARE

9 COMMENTS

  1. Hahaha,,,, sering – sering travelling mengganggu kesehatan ya kak yang jelas (dompetnya cepat kering),,, wokelah pumpung masih muda intinya sering – sering traveling,,,, lanjutkan 🙂

  2. Baca blog ini kok berasa KETAMPAR!!!!!
    Makasih loh mimin udah ngingetin. Dulu waktu pernah nganggur 2 bulan berasa sedih karena gak punya tabungan sama sekali dan baru deh mikir kenapa juga duit dihambur-hambur buat travelling. Kalau ada tabungan kan walaupun nganggur 2 bulan bisa hidup tenang. Semenjak itu udah mulai maksain untuk nabung #diancurcol

    • @Dian Juarsa
      Harus menyisihkan uang untuk ditabung/investasi. Jangan kemakan omongan traveler kejarlah mimpimu jalan ke mana saja. Hidup itu berada di antara impian dan realitas, lebih banyak realitasnya hahaha. Jalan-jalan iya, nabung iya.

LEAVE A REPLY