Drama Membuat Paspor Online

31
Cara Membuat Paspor Online
(Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

“I made mistakes in drama. I thought drama was when actors cried. But drama is when the audience cries.” – Frank Capra

Perjuangan saya membuat paspor online yang harusnya lebih mudah, malah penuh drama dan air mata. Saya sudah khatam membaca cara membuat paspor online dari situs resmi imigrasi maupun dari beberapa blog. Namun ada saja hal-hal yang saya sengaja maupun saya tidak sengaja yang membuat pembuatan paspor online ini menjadi lebih ribet dibanding membuat paspor tidak online.

Awalnya, saya mendaftar paspor online dengan lokasi pengurusan di Kantor Imigrasi Jakarta Barat. Lokasinya sangat dekat dengan Kota Tua. Asyik juga buat jalan-jalan setelah bikin paspor. Harapan saya demikian. Namun, setelah sampai di sini, permohonan paspor saya ditolak!

Dokumen yang diperlukan untuk memperpanjang paspor hampir tidak berbeda dengan pengajuan paspor baru. Tidak ada hak istimewa bahwa kamu pernah membuat paspor dan tidak pernah bermasalah dengan imigrasi atau tidak bermasalah di luar negeri. Tidak. Dokumenmu harus lengkap, malahan jika melakukan perpanjangan paspor , harus membawa paspor yang lama pula. Karena berharap hak istimewa pernah membuat paspor tersebut, saya membawa dokumen yg menurut saya ‘yang penting-penting’ saja. Saya tidak membawa akta kelahiran karena saya kira sudah terdaftar di arsip Imigrasi saat dulu mendaftar paspor. Ijazah yang saya bawa pun ijazah kuliah yang tidak mencantumkan nama orang tua. Saya kira nama orang tua saya juga tidak berubah. Kartu keluarga (KK) yang saya bawa juga KK jadul yang nomer NIK-nya berbeda dengan nomer NIK di KTP yang saya pegang. Trus salah siapa NIK nya gonta-ganti? Permohonan saya pun ditolak karena dokumennya tidak lengkap dan tidak sesuai. Ah, jadi nggak mood lagi jalan-jalan ke Kota Tua. Saya pun memutuskan langsung pulang dengan air mata berderai *Oke, yang terakhir ini lebay*.

Di Kantor Imigrasi Jakarta Barat ini, saya juga membawa surat keterangan kerja untuk jaga-jaga jika diperlukan karena KTP saya bukan KTP Jakarta. Memang sih tidak disebutkan di persyaratan pembuatan paspor, tapi tidak ada salahnya saya bawa. Pikir saya waktu itu. Dulu, prosedur pembuatan paspor memang memerlukan surat keterangan kerja dari kantor jika domisili atau kantor imigrasi tempat pengajuan paspor tidak sama dengan alamat di KTP. Di kantor Imigrasi Jakarta Barat, sepertinya tidak diperlukan karena sewaktu petugas pemeriksa dokumen melewatkan begitu saja surat keterangan kerja yang saya lampirkan.

Saya pun pulang dengan nelangsa. Kekurangan dokumen tersebut harus dilengkapi maksimal 7 hari setelah tanggal pengajuan. Sedangkan dokumen saya tersebut saya tinggal di rumah saya di Solo. Dalam 7 hari, saya mendapat tugas ke luar kota. Karena sudah lebih dari 7 hari tidak memproses pengajuan paspor, saya sudah malas mengurusnya lagi. Saya lihat di pengajuan online, juga sudah tidak bisa diubah lagi. Saya tidak tahu apakah bisa diurus kembali pengajuannya jika datang ke kantor imigrasi langsung. Antara malas dan bodoh, saya ikhlaskan uang pendaftaran paspor sejumlah Rp355.000 hangus. Yang jelas bukan karena alasan tajir.

Saya pun mengurus paspor untuk kali kedua. Dengan membayar lagi untuk kedua kalinya tentu saja. Karena sudah malas mengurus ke kantor Imigrasi Jakarta Barat, saya berpindah mengurus paspor ke Unit Layanan Paspor Wilayah II Jakarta Selatan. Bukan. Bukan karena petugas kantor Imigrasi Jakarta Barat yang menyebalkan. Justru sebaliknya, petugasnya ramah kok. Karena saya saja yang males ke kantor tersebut. Jauuuh. Juga, dengar-dengar mengurus paspor di kantor Jakarta Selatan paling gampang dibanding kantor imigrasi lain di Jakarta. Benarkah demikian?

Baca juga:  Lebih Bagus Mana? Kamera Mirrorless Samsung, Fuji, Sony, Olympus, atau...?

Setelah dokumen yang disyaratkan saya lengkapi, saya pun mendaftar paspor online untuk kali kedua. Saya tidak mau ditolak lagi dengan alasan dokumen tidak lengkap. Kali ini saya memilih Unit Layanan Paspor Wilayah II Jakarta Selatan. Saya pasti bisa!

Awalnya begitu sama dengan para pemohon paspor online lainnya. Langkah-langkah membuat paspor online kira-kira seperti ini:

  1. Buka situs imigrasi.go.id, buka menu ‘Layanan Publik’, kemudian klik ‘Layanan Paspor Online’
  2. Klik bagian pra permohonan, isi data data diri di situ.
  3. Tak ada pilihan e-paspor/paspor elektronik, hanya ada paspor biasa 48 halaman. Jadi, mau tak mau jenis paspor inilah yang harus kita pilih.
  4. Pilih kantor imigrasi: Unit Layanan Paspor Wilayah II Jakarta Selatan. Sampai di sini tidak ada masalah. Lancar.
  5. Kemudian muncul pop up tulisan ‘Jenis paspor yang dipilih adalah 48 Halaman. Apakah anda yakin dengan data yang diisi?’ Bo abo, memang hanya dikasih pilihan paspor jenis itu doang, gimana saya nggak yakin?
  6. Informasi selanjutnya, kita disuruh mengisi data diri. Isi saja sesuai dengan KTP. Klik lanjut.
  7. Mengisi alamat. Isi saja alamat sesuai KTP.
  8. Kemudian kita disuruh mengisi data orang tua. Diisi boleh, dikosongkan juga tidak apa-apa. Lanjut.
  9. Kemudian lanjut ke pembayaran paspor Rp355.000 net. Untuk menuju ke langkah selanjutnya, diperlukan nomor bukti pembayaran. Jadi harus melakukan pembayaran terlebih dahulu.

Hanya ada satu bank yang dapat digunakan untuk melakukan pembayaran, yaitu bank BNI. Kita bisa membayar melalui teller atau melalui ATM. Karena sudah tidak sabar ingin melanjutkan ke proses selanjutnya, saya pun bela-belain malam-malam ke ATM hanya untuk membayar paspor. Cara membayar melalui ATM BNI kira-kira seperti ini

  1. Masukkan kartu ATM dengan password yang benar *yaiyalah ya*
  2. Pilih menu ‘Pembayaran’, cari pilihan ‘Imigrasi’
  3. Masukan nomor permohonan yang sudah dikirim melalui email
  4. Muncul nama kita, nomor permohonan, dan nama penerima yaitu Imigrasi.
  5. Harusnya setelah selesai, struk bukti pembayaran keluar beserta nomor verifikasi untuk menuju proses selanjutnya. HARUSNYA.

Namun apa yang terjadi saat saya selesai melakukan transfer pembayaran melalui ATM? Struk bukti transaksi tidak keluar! Waduh, mengapa drama pembuatan paspor online ini terulang lagi sih? WHYYYY????

Di struk bukti pembayaran tersebut, ada kode verifikasi untuk melanjutkan proses berikutnya: Memilih tanggal kedatangan untuk foto dan wawancara. Tanpa adanya struk ini, saya tidak bisa melanjutkan ke langkah selanjutnya. Saya pun menelpon ke call center Bank BNI, melaporkan masalah yang saya alami. Tidak ada solusi. Jawabannya maaf.. maaf… doang tidak ada solusi sama sekali kecuali menyuruh saya melapor ke kantor imigrasi tempat saya mendaftar. 🙁

Sesuai saran CS Bank BNI, saya pun datang ke kantor Unit Layanan Paspor Wilayah II Jakarta Selatan untuk melaporkan kejadian ini. Petugasnya sangat ramah dan mau membantu saya mengurus masalah saya ini. Mereka menelpon ke entah siapa yang dia telepon. Namun tetap saja tidak ada solusi. Saya disuruh ke kantor pusat Imigrasi yang entah di mana alamatnya. Datang dan pulang dari kantor Imigrasi Jakarta Selatan ini dalam keadaan hujan badai, dan saya mengendarai motor pula. Mengapa dramanya semakin menjadi-jadi gini sih.

Baca juga:  Inilah 5 Jenis Traveler yang Asyik Jadi Teman Perjalanan

Akhirnya, saya berinisiatif ke bank BNI di dekat kantor Imigrasi. Saya malas mengurus ke kantor Imigrasi pusat. Saya memang sengaja membawa buku tabungan BNI untuk jaga-jaga jika masalah belum bisa diselesaikan di kantor imigrasi. Dan benar saja, masalahnya belum bisa terpecahkan di kantor imigrasi.

Setelah dipersilakan duduk oleh mbak-mbak customer service Bank BNI yang cantik tapi make up-nya terlalu menor seperti pemain kabuki, saya pun menceritakan masalah saya. Kemudian dicetaklah transaksi di buku tabungan yang hampir satu tahun tidak pernah saya cetak tersebut. Tidak ada kode verifikasi sama sekali. Saya pun minta dicetakkan rekening koran. Masih saja tidak ada nomor kode verifikasinya. Saya pun bertanya kepada mbak-mbak tadi:

‘Mbak, ada nggak nomer lain yang tercantum dari transaksi saya ini?’

‘Sebentar saya lihat dulu’ jawab mbaknya sambil scroll mouse dengan tatapan ke arah komputer. ‘Ini ada nomer jurnal, hanya itu saja Pak’.

‘Ya udah, nomernya berapa mbak?’ Saking putus asanya, nomer apapun akan saya catat. Kalau perlu nomer handphone mbaknya juga saya catat. *modus*

Sekembalinya dari bank, saya buka lagi link pendaftaran online yang dikirim ke email saya. Saya masukkan nomor jurnal tadi, kemudian klik ‘lanjut’. Voila! Saya berhasil masuk ke proses selanjutnya: memilih tanggal kedatangan. Hore!!!!

Jika kamu mengalami masalah struk pembayaran paspor online di ATM tidak keluar, laporkan ke bank, kemudian minta nomer jurnal. Gunakan nomer jurnal ini untuk verifikasi proses online selanjutnya. Verifikasi ya, bukan Veri AFI *plis deh min, gak lucu*

Karena kesibukan pekerjaan, saya datang ke kantor imigrasi siang hari dihari yang telah saya pilih. Lagi-lagi saya ditolak! Alasannya: pengurusan paspor melalui online hanya dilayani pukul 7-10. Haduh, mengapa drama ini tidak segera berakhir sih? Hiks.

Di dalam lembar permohonan, memang tercantum jadwal kedatangan pukul 8-10 pagi. Memang salah saya datang pukul 1 siang, tapi masak sih… Ah sudahlah. Petugasnya menjelaskan bahwa pelayanan paspor online hanya dilayani pukul 7 – 10 pagi. Saya kira bisa datang kapan saja asal masih jam kantor di tanggal kedatangan yang telah ditentukan, ternyata tidak!

Karena sudah capek dengan drama pembuatan paspor online ini, saya pun akhirnya patuh dengan apapun yang tercantum di peraturan. Keesokan harinya, saya datang lagi ke kantor imigrasi pukul 7.45 pagi. Sudah banyak yang mengantre. Saya masukkan dokumen, kemudian menunggu di luar kantor lama banget. Di depan kantor imigrasi sudah terpampang peraturan-peraturan mengenai persyaratan dan pakaian. Ya, HARUS mengenakan pakaian yang sopan. Jangan coba-coba ya menggunakan kaos, celana pendek, atau baju sexy. Baju jelek kusam tapi kemeja lebih mending dibanding kaos branded baru yang harganya semilyar. Oke?

Setelah menunggu lama, nama saya dipanggil oleh petugas imigrasi. Saya masuk ke dalam kantor dan menuju ke petugas pertama yang memverifikasi dokumen. Drama selanjutnya terjadi.

“Mas, alamat KTP-nya di luar Jakarta. Mas punya surat keterangan domisili atau surat keterangan kerja dari kantor?”

“Loh Pak, kan di persyaratan yang tercantum di website tidak menyebutkan harus membawa surat keterangan domisili atau surat keterangan kerja? Bukannya pembuatan paspor bisa dilayani di kantor imigrasi manapun juga?” debat saya karena kali ini saya yakin betul saya tidak salah.

“Jadi gini mas, untuk pemohon luar Jakarta harus membawa dokumen tersebut.”

Baca juga:  Djakarta Warehouse Project 2015: Raksasa yang Digerogoti Virus

Aduh, sudah melakukan prosedur yang benar saja masih bermasalah gini.

“Terus gimana Pak? Kemarin dokumen saya sudah diperiksa oleh petugas di lantai atas dan katanya sudah lengkap lho”

Sewaktu saya melapor ke kantor imigrasi karena struk ATM tidak keluar, saya memang meminta dokumen saya diperiksa sekalian oleh petugas imigrasi dengan maksud ketika saya ke kantor imigrasi sudah tidak ada masalah lagi. Dan memang petugas yang memeriksa dokumen saya tersebut menyatakan dokumen yang diperlukan sudah lengkap.

“Gini saja mas, bawa kartu pegawai atau name tag atau apapun yang menunjukkan mas bekerja di kantor mas sekarang?”

“Ada Pak, saya membawa name tag

“Ya sudah, mas fotokopi sekarang ke Snapy di depan sana, saya tunggu di sini. Segera ya.”

Ya sudah, walaupun saya benar karena dokumen yang saya bawa sudah lengkap, saya pun ikuti instruksi petugas tadi. Males ribut. Pengen urusan paspor segera selesai. Pengen segera mengakhiri drama ini!

Setelah seluruh dokumen saya lengkapi termasuk dokumen ‘plus-plus’ tadi, prosedur selanjutnya adalah wawancara, foto, dan pengambilan sidik jari. Ikuti saja apa yang diinstruksikan petugasnya. Oh ya, nanti kamu difoto petugasnya dengan menggunakan kamera DSLR, pastikan kamu dandan se-chantique mungkin ya… Tahu sendiri kan kamera jenis ini biasanya jahat banget soal detail. Itu keriput sama jerawat bisa tampak jelas.

Saya datang pukul 7.45, nunggu antrian kemudian difoto dan wawancara. Selesai jam 10. Lama kan? Jalani saja. Percuma mengeluh.

Langkah selanjutnya adalah pengambilan paspor, yaitu 3 hari setelah proses foto dan wawancara tadi, antara pukul 1-3 sore. Proses terakhir ini sangat cepat, tak sampai setengah jam semuanya selesai. Hanya mengambil nomor antrian, antri sebentar sambil duduk-duduk nyantai, kemudian dipanggil oleh petugas untuk mengambil paspor dan mencatat tanda terima paspor. Sudah, itu doang. Saya taati betul waktu yang telah ditentukan. Saya benar-benar sudah malas dengan drama pembuatan paspor ini. Salah tetap salah, sudah benar pun tetap saja salah. Huft.

Tips membuat paspor online:

  • Saat pendaftaran online, gunakan Google Chrome, bukan browser lain. Entah mengapa, dulu saya pernah menggunakan Mozilla Firefox, namun tidak bisa mengakses situs imigrasi. Setelah saya coba menggunakan Google Chrome, ternyata bisa. Saya tidak tahu masalahnya di mana, mungkin kamu mengalami hal yang sama atau lancar-lancar saja jika menggunakan browser lain?
  • Lakukan proses pembayaran di teller bank BNI. Sebaiknya JANGAN melalui ATM. Saya sudah mengalami struk pembayaran tidak keluar. Rempong ngurusnya. Fotokopi bukti pembayaran ini karena saat pengambilan paspor ditanyakan lagi, padahal bukti pembayaran asli sudah dikumpulkan di tahap sebelumnya.
  • Sebelum kepedean mendaftar, LENGKAPI dulu semua dokumen yang diperlukan. JANGAN ada satupun dokumen yang kurang.
  • Jika alamat KTP-mu berbeda dengan kantor imigrasi tempat mengajukan paspor, BAWA surat keterangan domisili/surat keterangan kerja. Sepertinya di peraturan tidak menyebutkan dokumen ini. Daripada membuang energi berdebat dengan petugas, lebih baik dibawa.
  • Datang ke imigrasi dengan pakaian ‘rapi’. Saya tidak tahu mengapa definisi ‘rapi’ untuk cowok di sini harus mengenakan kemeja atau kaos berkerah. Memang kaos berkerah lebih rapi dibanding kaos biasa? Buat cewek, kenakan baju yang sopan dan tidak sexy. Tahu sendiri orang Indonesia agak sensistif dengan hal-hal yang berbau-bau sexy.
  • Ikuti jadwal yang telah ditentukan. Daripada ditolak dan harus bolak-balik? Males kan?
SHARE

31 COMMENTS

  1. Drama abis, ikutan capek bacanya, hahaha!
    Tapi salut deh karena berhasil melalui semua cobaan di atas. Paspornya sudah pake yang baru dong ya, yang ada gambar-gambar berbeda di tiap halamannya? 🙂

  2. Gan mau nanya, saya jumat barusan input paspor online malam”.. nah sabtu pagi.. sy ke teller bank bni ( buka sabtu) tapi katax blum bisa lakukan pmbayaran, senin gitu juga, selasa juga gitu.. sy baca” di situs lain klo masalah gini biasax imigrasi jaringanx bermasalah. Makax gak konek ama bni… kira” ada saran gak gan? Sy pikir bakal antri berkas manual aja… hiksss. Mohon bantuan. Tq

    • Just sharing. Saya hari ini bayar via atm Bank Mandiri utk 5 permohonan paspor online (1 keluarga), walaupun beberapa kali sempat muncul di layar atm bahwa saat ini transaksi tidak dapat diproses, namun saya coba aja terus dan akhirnya saya berhasil bayar 5 paspor @Rp355.000,- via atm bank mandiri. Semua struk keluar dengan informasi NTPN (untuk diinput pada langkah selanjutnya pada aplikasi paspor online).

  3. Kalau pakai atm mandiri gemana cara nya ya?,g ada menu nya …aku g ada atm bni ..helep mi dong hiks hiks

    • @efa
      Belum pernah menggunakan mandiri. Kalau ada Mandiri, dulu saya juga akan menggunakan ATM Mandiri. Mending ke teller BNI aja bukan melalui ATM biar aman dan tidak kena kasus seperti saya di atas.

  4. Waduh kok ribet amat yah .. waktu saya bikin paspor online tahun 2014 lalu kok lancar-lancar aja.
    Bukannya makin maju malah tambah mundur aja nih Ditjen Imigrasi.

  5. Saya kena kasus yg sama ? Trus akhirnya minta nomer jurnal, tp ttep ga bisa dimasukin ke nmr NTPN yg diminta. Udah bolak balik k bank ttep di blg tidak ada nmr lain selain nomer jurnal. Harus gimana inih ?????

  6. ane barusan ke bank mandiri buat bayar tagihan onlinenya. sebelumnya wktu ngurus punya teman saya bayarnya di bank BNI trus kode dimasukkan itu jurnal bank. dan itu berhasil. tpi saya yg diinput itu no NTPN. dan selalu salah kode. ada solusi??

  7. Pusing kok gak muncul metode pembayarannya … harus pakek simponi online mesti buat akun simponi dulu… hadeh
    nyerah aja gua gan, buat offline ajalah… huh

LEAVE A REPLY