Djakarta Warehouse Project 2015: Raksasa yang Digerogoti Virus

2
Djakarta Warehouse Project 2015

“An inefficient virus kills its host. A clever virus stays with it.” – James Lovelock

Jakarta. Jika menyebut satu festival musik di Indonesia yang kelasnya layak disandingkan dengan festival musik papan atas dunia, saya akan menyebut Djakarta Warehouse Project (DWP). Mengapa? Pertama kita lihat artis yang tampil. DWP mampu menghadirkan DJ level juara dunia yang bertengger di top 10, top 20, top 50, dan top-top lainnya. Kedua adalah penataan panggung, sound, dan laser show-nya. Keren parah. Saya membandingkan event sejenis di Amerika Serikat, kualitas sound dan permainan laser DWP tak jauh beda. Yang ketiga tentu saja pentontonnya. Penonton DWP tak hanya berasal dari Indonesia, banyak penonton dari berbagai negara yang berbondong-bondong ke Jakarta untuk menonton DWP. Nggak percaya? Coba buktikan sendiri di DWP berikutnya.

Djakarta Warehouse Project yang diselenggarakan pada tahun 2015 masih menunjukkan taringnya, yang semakin tajam. Namun, penyelenggaraan kali ini sedikit ternoda. Virus-virus maha nggak penting mulai tumbuh dan menggerogoti tubuh raksasa festival ini. Ibarat macan, buat apa bertaring tajam tapi tubuhnya pesakitan?

Okay, mari kita mulai dari hebatnya Djakarta Warehouse Project 2015. Sekali lagi inilah taringnya DWP: DJ papan atas dunia! Silakan cari di Google peringkat DJ ini di dunia: Tiesto, Jack U (Skrillex & Diplo), Galantis, Armin van Buuren, Headhunterz, Porter Robinson, DJ Snake, Axwell v Ingrosso, Oliver Heldens, R3HAB, Major Lazer, Cashmere Cat. DJ-DJ inilah yang mengisi panggung DWP 2015. Jika kamu mengikuti perkembangan musik DJ tersebut, saya yakin bahwa pandanganmu terhadap DJ tersebut bukan sekedar DJ yang cuma muter turntable nggak jelas, tapi juga musisi yang jago. Di Youtube, banyak beredar video mereka sedang memainkan alat musik manual/akustik. Saya akui mereka memang mempunyai kecerdasan yang luar biasa di indera pendengaran. Salut!

Baca juga:  Save Me Please...

DWP 2015 juga masih menunjukkan kehebatannya di sound dan penataan panggung. Garudha Stage masih sangat gagah menghiasi halaman Jakarta International Expo Kemayoran. Panggung berbentuk Burung Garudha ini seolah-olah menyihir ribuan umat yang memadati panggung untuk mendengar alunan musik dari imam di belakang turntable dengan ayat-ayat EDM-nya. Belum lagi dua panggung lainnya: The Dark Side dan Neon Jungle. Sangat berkelas!

Satu hal lagi yang saya suka dari DWP 2015 ini adalah ketegasan security di pintu masuk. Ada penonton yang masih di bawah umur ditolak secara tegas tidak boleh masuk lokasi oleh petugas security. Event seperti ini harus dijaga kesuciannya dari anak-anak di bawah umur. Teruskan seperti ini bapak-bapak security! Kamu sungguh mulia.

Video DWP 2015 hari pertama

Tapi raksasa itu mulai digerogoti virus. Tahukan virus itu seperti apa? Kecil tapi lama-lama membunuh. Ukurannya sepele, tapi bikin bete.

Tahun 2014 adalah tahun pertama saya mengunjungi DWP. Semua tampak sempurna waktu itu. Ibarat kata, Tomorrowworld dan Ultra (Event yang sudah diakui di dunia EDM sebagai event musik kelas wahid) itu remaja yang sudah kuliah, DWP remaja yang masih SMA kelas 3 lah. Selisih dikit. Sekarang, DWP mulai menginjak ke dunia perkuliahan juga. Namun sepertinya belum siap dengan ‘pendidikan’ yang lebih tinggi karena masih terdapat virus-virus menyebalkan. Virus apa sih kok kayaknya melukai hati banget?

Virus pertama adalah ‘virus tega banget sih’. Antrian masuk menuju pemeriksaan security sangat padat dan lama. Rasanya seperti naik KRL di jam sibuk. Kentut aja harus ditahan saking padatnya jumlah penonton yang mengantre di pintu masuk. Apalagi hujan turun lumayan deras waktu itu dan tidak ada atap yang melindungi kami dari hujan. Tahu sendiri kan DWP diselenggarakan di bulan Desember, bulan musim penghujan. Oke lah jika kami harus basah-basahan saat DJ manggung. Nah ini? Musiknya belum mulai saja kami sudah basah kuyup.

Baca juga:  Konser Third Eye Blind (Live @ Tabernacle, Atlanta)

Virus berikutnya adalah ‘virus pelit info’. Semua informasi dan larangan tidak dijelaskan sedari awal. DWP tahun sebelumnya disarankan membawa kamera. Penonton disuruh merekam dan menyebarkan serunya DWP. Tahun ini, penonton dilarang membawa kamera profesional. Jika dari awal tidak boleh membawa kamera atau pun tidak boleh merekam, ataupun tidak boleh melakukan ini itu, sebutkan saja di tiketnya. Atau paling tidak diinfokan di official website-nya. Pasti penonton akan patuh kok. Jangan diinfokan mendadak di depan pintu masuk gini.

Virus berikutnya adalah ‘virus Standar Ganda’. Lagi-lagi saat pemeriksaan menjadi masalah yang nggak banget. Petugas melarang penonton membawa tongsis masuk. Di area panggung, masih banyak pentonton yang menggunakan tongsis. Kan tidak adil bagi penonton yang disuruh membuang tongsis atau menyimpan tongsisnya di mobil kemudian harus mengantre lagi dari awal. HARUS MENGANTRI LAGI DARI AWAL inilah hal paling menyebalkan dari ketidakjelasan ini. Soalnya, antriannya bisa berjam-jam!

Virus terakhir adalah ‘virus matre’. Harga minuman di DWP sangat mahal. Bisa dimaklumi kok jika fair. Tapi jika diakal-akalin supaya menjadi lebih mahal, ini yang nggak banget. Awalnya satu minuman seharga 2 kupon, malamnya naik 2,5 kupon. Padahal ingin membeli satu minuman saja. Sedangkan di counter penjualan kupon, tidak boleh membeli 0,5 kupon, harus membeli kelipatan satu. Terpaksa kan harus beli 3 kupon. Saya lupa harga kuponnya, yang jelas jauh lebih mahal jika dibanding dengan membeli minuman di minimart. Akhirnya saya buang setengah kupon tersebut karena tidak terpakai.

Video DWP 2015 hari kedua:

Saya menulis artikel ini karena rasa sayang dengan Djakarta Warehouse Project. Kedepannya, semoga DWP memperhatikan hal-hal sepele yang bikin bete tersebut. Saya berharap event tahunan ini bisa abadi selamanya. Indonesia krisis festival musik berkelas internasional. DWP punya taring di sini. Tajam. Sangat tajam.

Baca juga:  Bromo (Lagi?)
SHARE

2 COMMENTS

    • @cumilebay.com
      DJ yang kakak sebutkan itu DJ ekslusip kaak.. levelnya di atas DJ papan atas jadi dikeluarkan dari peringkat karena akan mengganggu peringkat DJ lainnya

LEAVE A REPLY