Bakpau & Siomay Lim Thiam Kie: Kuliner Tahun 1943

4
Lim Thiam Kie

“As long as there’s pasta and Chinese food in the world, I’m okay.’ – Michael Chang

Jakarta. Bangun tidur ku terus mandi is so last century. Kebiasaan bangun tidur anak alay zaman sekarang, bangun tidur langsung ambil handphone, kemudian ngecek apakah ada notifikasi masuk atau tidak. Ssbagai anak alay, saya jg demikian kok. Wuih, ada pesan masuk via grup Whatsapp.

“Ada yang mau ikut trip ke Baduy besok nggak? Ada satu slot kosong nih karena ada yang batal ikut”

“Ikut” saya langsung membalas pesan di Whatsapp

“Ya udah, hari ini kamu pesan tiket Kereta Rangkas Jaya dari Tanah Abang tujuan Rangkas Bitung ya buat besok, takutnya kehabisan tiket”

Kemudian saya pun bergegas mandi dan segera menuju ke Stasiun Tanah Abang. Untuk membeli tiket, bukan untuk membeli toket. *halah… jayus, min!*

“Mbak, pesan satu tiket Rangkas Jaya tujuan Stasiun Rangkas Bitung buat besok jam 8 pagi ya”

“Maaf mas, tiket Kereta Rangkas Jaya tidak bisa dipesan. Harus beli go show

What? Ternyata tiket Kereta Api Rangkas Jaya hanya bisa dibeli di hari keberangkatan, tidak bisa di pesan sebelumnya. Huft!

Akhirnya saya menuju ke parkir Stasiun Tanah Abang yang ala kadarnya itu. Dengan harapan yang sirna, saya pun memutuskan untuk pulang.

Krucuk-krucuk. Yah, perut kelaparan deh. Hmm… Tempat makan recommended di dekat stasiun Tanah Abang apa ya? Kemudian saya membuka aplikasi Foursquare di handphone.

Aha! Ini nih yang saya suka, tempat makan jadul yang biasa ada embel-embel ‘berdiri sejak tahun bla bla blaheula’!

Nama tempat makan tersebut adalah Bakpau & Siomay Lim Thiam Kie. Lokasi rumah makan ini berada di Jalan Jati Baru No.2 atau di koordinat GPS -6.1817207,106.8167404, hanya sekitar 600 meter dari Stasiun Tanah Abang. Tempat makan ini berdiri sejak tahun 1943 lho, bahkan sebelum Indonesia merdeka, wow! *ucapkan wow dengan suara rendah dan ekspresi datar*

Baca juga:  Djakarta Warehouse Project (DWP) 2014. Pesta Rakyat Berdansa

Suasana tempat makan ini tak seperti restoran-restoran jadul yang memajang foto-foto lama untuk nostalgia. Di tempat makan ini, hanya terdapat satu gerobak, dua meja, dan beberapa kursi saja. Pokoknya mirip jualan gerobak kaki lima gitu deh.

Lim Thiam Kie
Warung Lim Thiam Kie yang ala kadarnya

“Pesen apa mas?” tanya bapak penjaga gerobak.

“Menunya ada apa saja Pak?” padahal di depan gerobak jelas-jelas terpampang menu dan harganya, masih saja nanya. Dasar pemalas!

“Ada bakpau daging, bakpau ayam, bakpau tausa, bakpau spesial, dan siomay”

“Bakpau Spesial dan Siomay deh Pak”

“Siomay-nya berapa buah?”

Loh, kok siomay berapa buah sih? Bukannya biasanya satu paket komplit?

“Uhm, 2 buah deh Pak” saya mau nyobain 2 buah dulu. Nggak tahu kenapa, asal sebut saja.

“Makan sini atau bawa pulang?”

‘Makan sini aja Pak, males nenteng-nenteng makanan”

“Ini Bakpau-nya”

Wuih, cepet juga bakpaunya dihidangkan.

Bakpau Lim Thiam Kie
Bakpau Lim Thiam Kie

“Mas dari mana?” Tanya bapak yang jual.

“Tadi abis dari Stasiun Tanah Abang Pak. Mau pesan tiket ke Rangkas Bitung, eh ternyata nggak bisa, harus beli pas tanggal keberangkatan. Akhirnya, saya mampir kemari aja.”

“Oh, mas asalnya dari Rangkas ya?”

“Oh, nggak Pak, hanya main-main saja kok. Kalau saya asalnya dari Solo”

“Kalau saya aslinya Semarang mas, tapi ikut bos sudah #$* tahun lalu” saya lupa bapaknya ngomong berapa tahun, kalau tidak salah 30 tahun ikut bosnya.

“Oh, kirain bapak yang punya tempat ini.”

“Enggak mas, saya pegawai saja. Hanya ikut bos.”

“Sudah nikah mas?” astaga dot com (masih ada nggak sih website itu?), bahkan tukang bakpau pun nanyain KAPAN KAWIN, kutukan apa ini yaolo!??

“Belum Pak, masih belum cukup umur” jawaban andalan ketika ditanya kapan kawin.

Baca juga:  Sangiran, "Jurassic Park"-nya Indonesia

“Pak, ada es teh?” saya langsung mengalihkan pembicaraan sebelum ditanya umurnya berapa, udah punya pacar belum, dan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya sepaket dengan pertanyaan KAPAN KAWIN lainnya.

“Wah, kalau minuman nggak ada. Mungkin bisa beli di apotik sebelah”

Say what? Hmm… Guweh disuruh minum air infus gitu kali ya?

Kemudian dua buah Siomay dihidangkan di depan saya.

“Ini Siomay-nya sudah matang”

“Terima kasih Pak”

Oalah, kirain Siomay yang dijual seperti Siomay pada umumnya, sejenis cireng ikan yang diiris-iris kecil, ditambahin kubis dan tahu, kemudian digejrot dengan sambal kacang. Ternyata Siomay yang dimaksud adalah Shumai yang biasanya menjadi menu dimsum!

Siomay a.k.a Shumai Lim Thiam Kie
Siomay a.k.a Shumai Lim Thiam Kie

Rasanya lumayan enak menurut saya. Dibilang uenak buanget sih nggak juga. Dari segi harga juga lumayan, dibilang murah juga enggak, dibilang mahal juga enggak. Tempatnya saja sih yang nggak enak. *yaiyalah, mau makan gerobak?*

Yang pasti, bertahan selama 72 tahun sejak 1943 itu bukanlah sesuatu yang mudah bagi suatu tempat usaha kuliner. Tangguh juga ya? Yang saya khawatirkan justru keberlangsungan usaha tempat makan ini. Dengan kondisi ala kadarnya (jual minuman pun enggak), di kawasan macet, plus berada di tengah persaingan usaha kuliner yang sangat ketat di Jakarta, apakah tempat makan ini mampu bersaing?

Yup, hanya kita sebagai pembeli lah yang bisa membuatnya mampu bersaing. Jangan sampai hanya berkomentar “Yah sayang banget yah, kuliner bersejarah itu tutup” tapi tidak membeli barang dagangannya. Kalau tidak ada pembeli, mau dapat duit dari mana untuk bisa bertahan?

SHARE

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY