Xiaomi Piston 3.0 Review

2
Xiaomi Piston 3.0
(Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

“Music is the movement of sound to reach the soul for the education of its virtue.” –  Plato

Dammit! Di saat bosan menunggu boarding pesawat, saya colokin earphone ke handphone, nyalain musik, pasang earphone ke telinga, eh… yang terdengar suara kresek-kresek seperti suara tivi bersemut saat siaran habis. Earphone kesayangan guweh rusak. Sekarang tidak hanya bosan menunggu pesawat, tapi juga ketambahan kesel karena tidak bisa mendengar musik. Hiks. Kalau gini sih, sudah jatuh tertimpa reaktor nuklir 🙁

Harus cari gantinya. Harus! Saya masih punya headphone sih, tapi untuk keperluan traveling, tentu saja butuh earphone yang ukurannya lebih praktis. Kira-kira, earphone yang lagi ngetren apa ya??? Hmmm…

Beberapa hari kemudian, saya pun Googling, membaca review earphone yang paling bagus dengan harga yang terjangkau. Mengingat saya lumayan sembrono dalam menyimpan earphone, sehingga menyebabkan earphone selalu rusak, saya tidak begitu berani beli earphone dengan harga yang mahal.  Dari beberapa review, selalu saja ada satu merek yang masuk dalam daftar earphone murah dengan kualitas bagus, yaitu Xiaomi Piston!

WTF, setelah heboh dengan handphone Xiaomi (yang sudah saya buktikan sendiri memang kualitasnya bagus, walaupun desainnya murahan). juga mengeluarkan action cam Xiaomi Yi yang juga sudah saya buktikan sendiri kualitasnya (Baca reviewnya di sini), sekarang Xiaomi mengeluarkan produk earphone juga? Wow! Lama-lama Xiaomi bikin pesawat ulang-alik kali ya?

Kemudian saya survey harga Xiaomi Piston 3.0. Huanjirrrrr… Mahal banget bo’! Eh, nggak pake banget ding. Lebay. Pokoknya mahal deh untuk ukuran earphone merek kurang terkenal di jagat per-earphonenan. Namun demikian, orang-orang di luar negeri memasukkan Xiaomi Piston 3.0 sebagai earphone dengan harga yang murah lho.

Berapa sih harga Xiaomi Piston 3.0 di Indonesia? Rata-rata pedagang olshop menjual earphone ini dengan harga Rp300-400ribu. Di Jakarta Notebook, produk ini dijual dengan harga Rp288ribuan. Mahal?

Menurut saya, harga Xiaomi Piston 3.0 ini mahal. Sudah pemain baru di dunia earphone, merek China pula… Eh… berani mematok harga segitu? Dengan harga yang sama dengan Xiaomi Piston 3.0 atau bahkan bisa lebih murah lagi, kita bisa membeli earphone dengan merek terkenal yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, seperti Sennheiser, Sony, Philips, Koss, Shure, dan lain sebagainya. Nah ini? Xiaomi. Meh. Produk dengan merek China ini kan terkenal dengan harga produk-produknya yang murah tapi tidak murahan. Kok produk yang ini harganya mahal?

Setelah khatam membaca beberapa review tentang Xiaomi Piston 3.0 di internet, saya pun mengambil kesimpulan bahwa review-review tersebut mempunyai pendapat yang sama:

  • Hampir semua pengguna Xiaomi Piston 3.0 maupun seri sebelumnya Piston 2.0 merasa puas dengan produk ini.
  • Karakteristik suara earphone ini adalah V-shaped.
  • Hampir semua review membandingkannya dengan earphone dengan harga yang jauh lebih mahal.
  • Desain bagus, nyaman digunakan, kualitas suara bagus,
  • Isolasi suara dari luar kurang, sehingga gangguan suara dari luar masih sedikit terdengar. Tapi sedikit banget kok, tidak signifikan. Toh sepertinya bukan untuk music production/DJ-ing di club.

Desain

Sama seperti yang dibilang review-review lainnya, menurut saya desain Xiaomi Piston 3.0 ini sangat keren. Kemasan produknya saja sangat ‘menghargai’ pembeli. Diberi kotak ala-ala cincin kawin gitu deh.

Xiaomi Piston 3.0 adalah jenis in-earphone. Tahu dong in-earphone apa? Itu lho yang cara menggunakannya sampai diseselin ke lorong-lorong lubang telinga kalau perlu sampai menusuk gendang telinganya. Selain mendapat ear cup utama, kita juga mendapat bonus 3 pasang ear cup dengan ukuran yang berbeda-beda, sehingga bisa menyesuaikan gedenya lubang telinga si pemakai.

Baca juga:  Green Canyon, Pangandaran (Xiaomi Yi Review)

Warna hitam-platinum memberi kesan berkelas pada earphone yang sudah masuk generasi ketiga ini. Jika ada orang untuk pertama kalinya melihat Xiaomi Piston 3.0, tanpa melihat mereknya, saya yakin pasti dia mengira earphone ini adalah earphone mahal. Padahal sebenarnya adalah earphone merek China hahahaha… *underestimate banget sih sama merek China?*

Xiaomi Piston 3.0
Desain Xiaomi Piston 3.0 yang berkelas itu (Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

Desain Xiaomi Piston 3.0 sendiri bagus, tidak biasa, dan sedikit ‘mencong-mencong aneh’. Beda banget dengan desain earphone pada umumnya. Justru desain aneh inilah kunci mengapa earphone ini sangat nyaman digunakan. Sekali lagi, AMAT SANGAT NYAMAN DIGUNAKAN!

Saya merasa seperti tidak ada benda asing yang masuk di telinga ketika menggunakan earphone ini, beda banget rasanya ketika menggunakan in-earphone murah merek lain yang berasa ada batu kerikil yang mengganjal di dalam lubang telinga. Bahkan terkadang membuat iritasi! Ini saya menulis artikel ini berjam-jam dengan Xiaomi Piston 3.0 menyumpal di lubang telinga dan masih nyaman-nyaman saja tuh.

Kabel Earphone Xiaomi Piston 3.0 dilapisi dengan semacam kain mirip tali sepatu (entah apa namanya) sehingga mengurangi risiko karet kabel lecet. Terdapat controler di kabel untuk mengatur volume dan play/pause sehingga tak perlu repot-repot lagi memencet tombol di handphone jika ingin memindah atau menghentikan lagu yang sedang diputar. Lebih praktis!

Kualitas suara sebelum di-burn

Banyak yang percaya bahwa earphone akan menghasilkan suara yang bagus setelah di-burn antara 50-100 jam. Banyak pula yang mengatakan hal tersebut hanyalah mitos belaka. Saya termasuk orang yang percaya akan perlunya burn earphone.

Apa sih burn earphone itu? Dibakar pakai api gitu? Yakeleus…

Proses burning earphone adalah proses di mana kita memutar musik/suara melalui laptop/handphone/MP3 player selama waktu tertentu, earphone dicolokkan ke gadget tersebut, dan dibiarkan begitu saja tanpa perlu kita mendengarkannya. Rata-rata proses burning membutuhkan waktu sekitar 50 jam sampai 100 jam. Mau mendengar musik hingga 50-100 jam nonstop? Teler kaleee…

Proses burning yang biasa saya lakukan tidak nonstop, tapi putus-putus. Misalnya hari pertama 10 jam. Matikan gadget. Besoknya burn 10 jam. Matikan gadget. Lusa burn lagi 10 jam, dan seterusnya.

Beberapa orang melakukan burning dengan metode santai. Sembari burn, sekalian saja dipakai earphone-nya. Banyak orang tidak menyarankan metode santai ini karena otak akan termanipulasi dengan perubahan suara yang berangsur-angsur sehingga tidak bisa membedakan kualitas sebelum dan sesudah burning.

Setiap kali membeli earphone baru atau headphone baru, saya pasti merasa kurang puas karena suaranya yang jelek. Selalu saja suaranya mendem, tidak jernih, dan kasar. Sehingga perlu dilakukan proses burning ini. Begitu pula dengan Xiaomi Piston 3.0. Saya merasakan suara yang mendem dan detail yang kurang. Namun demikian, sudah terasa kok kualitasnya. Sepertinya bagus. Kita tunggu saja sampai proses burning selesai.

Memang benar yang disebutkan oleh review-review di luar negeri sana, sound signature atau karakteristik Xiaomi Piston 3.0 ini adalah V-Shaped. Seperti apa sih karakteristik suara V shaped itu? Low-nya tinggi, midnya agak rendah, high-nya tinggi. Bingung jelasinnya. Yang jelas suaranya tebal/gelap, maskulin, berat, dan jauh dari kata cempreng/bright/cerah ceria. Pernah menggunakan earphone merek Creative? Karakteristiknya hampir mirip-mirip itu.

Buat yang belum tahu V-shaped, coba deh buka player musiknya, ubah settingan equalizer dengan membentuk huruf V. Ya seperti itulah karakteristik suaranya. Namun kalau di equalizer, itu kan V-shape nya agak dipaksakan sehingga suaranya agak aneh. Karakteristik V-shape ‘alami’ sebuah earphone itu beda. Detailnya masih terasa dan tidak lebay.

Baca juga:  Lebih Bagus Mana? Kamera Mirrorless Samsung, Fuji, Sony, Olympus, atau...?

Sebenarnya karakter V-shaped ini bukan selera saya. Saya juga bukan penggemar earphone jenis basshead yang dentuman bass nya bikin kepala pusing. Saya juga bukan penggemar earphone jenis warm yang agak-agak mellow. Selera saya cenderung lebih ke earphone/headphone yang mengandalkan balance, detailnya terasa, bright, clear, agak cold, bening, punchy. Merek Sennheiser/Sony biasanya mampu memuaskan selera saya.

Rada ragu-ragu awalnya sebelum membeli earphone ini karena karakteristiknya yang V-shaped tadi. Tapi sekali-sekali lepas dari zona nyaman boleh lah ya. Mari kita tes kualitas suaranya sebelum di-burn:

Lagu pertama: Get Lucky – Daft Punk. Detail bassnya terasa banget euy. Namun menurut saya kurang punchy. Padahal lagu-lagu seperti ini butuh yang punchy. Treble-nya pas, tidak lebay. Mid-nya rada mendem sih. Overall lumayan. Tetep enak kok lagu ini didengerin menggunakan Xiaomi Piston 3.0.

Lagu kedua: Liquid State – Muse. Sengaja nyari lagu rock yang bass-nya banyak. Beuh… Gak suka. Kurang cocok aja sih. Ganti lagu Nights of Cydonia yang gitarnya banyak. Tetep gak suka. Agak-agak mendem suaranya.

Lagu ketiga: This is What it Feels Like – Armin van Buuren. Lagu EDM/Progressive House. Jedag-jedugnya mantap. Kurang punchy sih, tapi tetap mantap. Kurang bright juga. Dengerin lagu-lagu EDM pake earphone ini sepertinya tidak bikin capek.

Lagu keempat: Biggy Bounce – Diplo. Nyobain lagu-lagu yang mengandalkan drum semacam trap, hip-hop, moombahton. Hmm… Asyik juga. Penggemar hip-hop kayaknya agak kurang suka karena treble-nya kurang cring.. Tapi saya suka aja. Treble dan hi-hat nya hip-hop/trap yang berlebihan itu menyiksa telinga!

Lagu kelima: Perahu Kertas – Maudy Ayunda. Salah satu lagu melow favorit saya. Tapi kok agak kurang bright ya… Kurang pas lah…

Lagu keenam: Here with Me – The Killers. Lagu band agak-agak pop rock. Cocok nih earphone dengan lagu seperti ini.  Drum, bass, dan vokal semuanya pas. Suara gitar agak kurang menonjol sih, tapi dentuman drumnya suka banget!

Lagu ketujuh: This Dance – Five for Fighting. Lagu yang penuh iringan piano. Suka lagunya sih, tapi tidak suka jika mendengarnya dengan earphone ini.

Lagu ke delapan: No Goodbyes – Tiesto. Lagu trance. Gak suka. Sumpah gak suka banget dengerin lagu ini dengan earphone Xiaomi Piston 3.0. Kurang balance dan kurang bright.

Lagu kesembilan: First of The year – Skrillex. Gokil! Lagu ini kerasa banget kejamnya. Macho banget jedag-jedugnya. Sekali lagi bassnya tetap kurang punchy, tapi tetap gokil!

Lagu ke sepuluh: Enter Sandman – Metallica. Wah… earphone ini sepertinya menemukan jodohnya! SUKAAAA!!!

Kesimpulan awal sebelum proses burning selesai:

  • Karakteristik suaranya memang V-Shaped beneran. Tebal dan gelap.
  • Bass-nya memang tidak se-lebay earphone jenis basshead, tapi bass-nya macho banget dan detailnya oke menurut saya sih. Kurang punchy sih, tapi tetep okelah.
  • Cocok untuk lagu-lagu gahar, macho, dan kejam seperti lagu-lagu Skrillex, Marilyn Manson, Metallica, System of A Down, dan sejenisnya.

Kualitas suara setelah di-burn

Nunggu di burn 50-100 jam dulu ya… Baru juga sejam lalu beli earphone ini… Harusnya sih jauh lebih bagus.. xixixi

Baca juga:  Samsung NX500 Review: Beli atau Tidak?

——————- 50 jam lebih kemudian ————-

Okay, earphone sudah di burn. Mari kita lanjutkan reviewnya, masih dengan lagu yang sama.

Lagu pertama: Get Lucky – Daft Punk. Masih tetep enak didengerin pakai Piston. Bass-nya terasa banget detailnya, snare drum-nya jernih, tapi ya itu, kurang punchy. Mid yang mendem sebelum burn sudah hilang. Enak aja sih.

Lagu kedua: Liquid State – Muse. Lagu ini sudah lumayan mending setelah proses burning selesai. Namun demikian, saya masih kurang suka dengerin lagu ini dengan menggunakan Piston.

Lagu ketiga: This is What it Feels Like – Armin van Buuren. Biasa saja. Bagus banget enggak, jelek juga enggak. Biasa saja. Kurang bening aja sih.

Lagu keempat: Biggy Bounce – Diplo. Sama seperti sebelumnya. Lagu ini enak didengerin dengan Piston. Karena bukan jenis earphone untuk basshead, drum hip-hop/trap yang berlebihan itu pun tidak terlalu menyiksa telinga. Tapi bass drumnya tetap enak kok.

Lagu kelima: Perahu Kertas – Maudy Ayunda. Agak mendingan sekarang suaranya. Sebelum earphone di-burn, suaranya agak-agak kasar dan mendem.

Lagu keenam: Here with Me – The Killers. Tak ada perubahan signifikan, baik sebelum di-burn dan setelah di-burn. Sama-sama enak didengerin.

Lagu ketujuh: This Dance – Five for Fighting. Masih tidak suka dengerin lagu kesukaan saya ini dengan Piston. Bhay!

Lagu ke delapan: No Goodbyes – Tiesto. Kenapa jadi agak mendingan ya. Padahal sebelum di-burn, lagu ini benar-benar jelek banget didengerin pakai Piston. No hope banget awalnya.

Lagu kesembilan: First of The year – Skrillex. Tidak jauh berbeda antara setelah di-burn dengan sebelum di-burn, masih gokil!

Lagu ke sepuluh: Enter Sandman – Metallica. Makin kece banget dah. Kecehh!! banggget!!

Kesimpulan:

Desain Xiaomi Piston ini sangat berkelas, berasa earphone dengan harga di atas sejuta rupiah. Piston bukan termasuk earphone murah dan murahan. Harga Piston yang sekitar Rp288.000-300.000an membuatnya agak susah dimasukkan ke kategori earphone murah. Dengan harga segitu, kita bisa membeli earphone dengan merek ternama. Tapi, dengan harga segitu juga agak mustahil mendapat earphone dengan kemasan ekslusif seperti Piston ini. Dari sisi desain, saya sangat puas. Nilainya 9.5/10.

Kualitas suara Xiaomi Piston 3 bagus menurut saya. Earphone ini cocok untuk mendengarkan lagu rock, pop rock, dubstep, dan sejenisnya (walaupun saat mendengarkan lagu Muse, saya agak kurang suka). Oh ya, jika suka lagu-lagunya Jack U, earphone ini cocok banget untuk dengerin lagu-lagu duo Skrillex-Diplo tersebut. Dari segi kualitas suara, saya kasih nilai 8,5/10.

Xiaomi Piston 3 cocok untuk digunakan saat traveling, karena amat sangat nyaman di telinga. Saya belum pernah punya earphone senyaman ini saat digunakan. Bass-nya yang tidak berlebihan pun juga cocok untuk menemani perjalanan yang berjam-jam. Bass yang berlebihan hanya enak didengarkan sesaat, setelah beberapa lama bikin pusyiiing mendengarnya. Untuk sisi kenyamanan, saya beri nilai mentok 10/10.

Untuk music production, sepertinya agak kurang mendukung ya. Saya pengguna headphone AKG K67 Tiesto. Karena sudah terbiasa dengan headphone AKG 67, earphone Piston ini terasa kebanting untuk masalah detail suara. Sorry to say.

Overall, tidak rugi beli earphone ini. Cuekin saja image ‘Made in China’ dan ‘Merek China’-nya. Dengan harga di bawah Rp400 ribu, kita sudah mendapatkan earphone dengan desain kece badai dan kualitas suara yang oke lho.

REVIEW OVERVIEW
Rating
SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY