Terjebak Badai Salju Bersama ‘Mbah Sujiwo Tejo’

10
Lexington Kentucky USA
(Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

“Money Can’t Buy Life’ – Bob Marley

Kentucky. Buzz… *Handphone bergetar* Oh, rupanya ada email masuk… Hmmm… Dari Megabus…

THIS IS AN AUTOMATED EMAIL, PLEASE DO NOT REPLY DIRECTLY TO THIS.
WE CAN BE CONTACTED FROM THE CONTACT US SECTION OF OUR WEBSITE.
Valued megabus.com Customer,
Due to the hazardous winter weather occurring and forecast, we have cancelled your trip. Please follow the links provided to reschedule without additional charge, or to obtain a refund. We apologize for the inconvenience, however safety takes priority.
Reservation summary for order ACxxxOY
Date: Sun, Feb 2 2014
From: Lexington, KY, Lextran Transit Ctr - High Street side – 185 East High Street (10:25 PM)
To: Atlanta, GA, MARTA Civic Center - 435 W Peachtree St NW (6:05 AM)
Passengers: 1
Reservation Number: 19-4329-020214-L4-xxx-LEX-ATL
You will have 14 days, from the date of this email, to reschedule or receive a refund. If no action is taken by you at the end of the 14 day period, then a full refund will be processed automatically. Please click this link to refund or reschedule your trip at no extra cost.
We apologize for any inconvenience this may cause.
Sincerely,
The megabus.com Team

DHUARRR!!!! Jadwal bus dari Lexington ke Atlanta dibatalkan perjalanannya karena badai salju. Aku menatap luar jendela bus Greyhound. Tampak gelap. Benar memang, salju turun begitu lebat. Padahal siang hari aku masih sempat jalan-jalan mengitari kota Louisville. Ah, semoga nanti ada bus yang langsung berangkat ke Atlanta. Kalau tidak ada, nanti beli tiket lagi untuk pemberangkatan keesokan harinya terus tidur di terminal bus deh seperti biasanya saya ngetrip di Amerika Serikat. Toh hanya menunggu bus beberapa jam saja. Sayang jika harus membayar mahal untuk penginapan. Ngirit…

Louisville, 2 Februari 2014

Looavul

Luhvul

Lewisville

Looaville

Looeyville

Hahaha… Banyak banget ya cara menyebut Louisville? Semuanya boleh. Pertama kali melihat tulisan Louisville sih, saya membacanya dengan pelafalan Lewisville. Eh ternyata ada cara lain untuk membaca Louisville. Banyak pula.

Louisville adalah kota terbesar di negara bagian Kentucky. Ya. Mungkin kita sudah familiar dengan nama yang disebut terakhir. Sebuah franchise ayam goreng yang kasirnya selalu menawarkan CD lagu artis-artis lokal tapi tak pernah menawarkan layanan jodoh.

Namun, saya yakin sebagian besar orang Indonesia belum begitu familiar dengan nama ‘Louisville’. Demikian juga dengan saya. Kota apaan tuh? Kentucky sih jelas tahu. Ayamnya ada di mana-mana. Louisville? Meh.

Ternyata Louisville tidak se-‘meh’ itu lho. Kantor pusat (headquarter) Kentucky Fried Chicken berada di kota ini. Atau barangkali pernah mendengar nama Muhammad Ali? Petinju legendaris sepanjang masa tersebut lahir di kota yang pernah luluh lantak akibat terjangan angin tornado pada tahun 1890 ini.

Walaupun merupakan kota terbesar di negara bagian Kentucky, jangan bayangkan kota ini ramai dengan hiruk pikuk manusia dan segala aktivitasnya ya. Suasana kota ini justru lumayan tenang. Jumlah penduduknya saja tak lebih banyak dari Kota Malang, Jawa Timur. Malah, jauh lebih ramai kota Malang dibandingkan dengan Louisville!

 Louisville, Kentucky
Suasana kota Louisville, Kentucky yang gloomy

Setelah mengunjungi Museum Muhammad Ali, jalan-jalan mengelilingi downtown kota yang tak seberapa luas, membeli kaos Hard Rock, merenung lama di tepian sungai Ohio (saking tak ada lagi tempat wisata yang bisa dikunjungi), saya pun memutuskan kembali ke Terminal Bus Greyhound. Yay… pulang!

Tiket bus Greyhound dari kota Louisville menuju ke kota Lexington, serta tiket bus Megabus dari kota Lexington menuju kota Atlanta tempat saya tinggal sudah ada di tangan. Saya sudah membeli tiket tersebut beberapa minggu sebelum perjalanan ini. Saya sengaja membeli tiket putus-putus begini untuk menghemat ongkos perjalanan. Tiket bus langsung dari Louisville menuju Atlanta amat sangat mahal seharga tiket pesawat!

Pukul tujuh malam, bus Greyhound dari Louisville menuju Lexington pun berangkat. Sopirnya ibu-ibu berusia sekitar 50 tahun. Di Amerika Serikat, sudah menjadi hal yang biasa bagi ibu-ibu berusia sekitaran empat puluh sampai dengan setengah abad menjadi pengemudi bus besar. IBU-IBU BERUSIA 4x USIA CABE-CABEAN.. MENYETIR. BUS BESAR. SEBESAR BUS ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI MACAM SUMBER KENCONO, LORENA, ROSALIA INDAH, DLL. WISBIYASAK!

Baca juga:  Perjalanan Impian ke Bromo, Madakaripura, dan Sempu

Ah senangnya bisa segera pulang ke Atlanta. Membayangkan tidur di kamar yang hangat bersama… Ehm.. Sendirian. Musim dingin ini begitu menyiksa!

Buzz… *getaran handphone yang menandakan ada notifikasi masuk* Email dari Megabus tentang pembatalan jadwal karena cuaca buruk tadi. Setelah membaca email tersebut, badanku seperti tanpa daya, keluar keringat dingin. Gelisah, panik, kalut, kosong, lunglai sekujur badan. 🙁

Lexington. Dari informasi yang saya dapat, itu kan kota kecil banget. Saking kecilnya, kota ini hanya saya jadikan tempat transit saja. Tak perlu dikunjungi.

Lexington, 2 Februari 2014

Bus tiba di Lexington menjelang tengah malam. Oh ya, Lexington dikenal sebagai “Horse Capital of the World”. Bagi penggemar kuda, pasti senang banget mengunjungi kota ini. Sayangnya saya penggemar pecel lele sih.

Bus berhenti di luar terminal bus Greyhound. Ini adalah salah satu terminal Greyhound terkecil yang pernah saya lihat. Mungil. Semungil upil yang menyempil di balik tonsil. Hmm… Ada sesuatu yang mencurigakan, kok pintu terminalnya tertutup?

Semua penumpang turun dari bus. Mereka telah ditunggu keluarga masing-masing yang menjemput mereka dengan mobil untuk mengantar mereka kembali ke rumah masing-masing. Rona muka mereka semua tampak bahagia. Beda dengan saya. Kalut.

Saya mendekati bu sopir, kemudian bertanya ke beliau.

“M’am, terminal bus Greyhound Lexington sepertinya kok tutup ya?”

“Oh, bus kita datang terlalu cepat. Sebentar lagi petugasnya datang untuk membukakan terminal. Kamu duduk saja di kursi ya. Tenang saja” jawab bu sopir berambut blonde tersebut dengan senyum ramah.

Terminal Greyhound kok hanya buka saat bus datang sih? Biasanya kan terminal bus Greyhound selalu buka setiap saat. Saya pun penasaran dan riwil kembali bertanya ke pengemudi bus.

“M’am, bukannya terminal bus Greyhound buka 24 jam ya?”

“Tidak semua terminal Greyhound buka 24 jam, dear. Kamu tenang saja duduk di situ ya”

Kemudian aku mengecek jadwal keberangkatan bus Greyhound dari Lexington ke Atlanta melalui website resminya. Ah, pagi hari. Saya pun kembali bertanya ke sopir bus tersebut dan menceritakan kronologi yang sebenarnya, bahwa bus Megabus ke Atlanta dibatalkan, sehingga nasib saya terkatung-katung tidak jelas begini. 🙁

“Jika terminalnya tidak dibuka, bolehkah saya tidur di dalam bus sampai besok pagi? Rencananya, saya akan beli tiket bus Greyhound ke Atlanta besok pagi.” pinta saya dengan tampang memelas walaupun tanpa acting memelas pun sudah dari sononya tampak memelas.

“Maaf, sebentar lagi saya dijemput suami saya. Bus akan diparkir dan ditutup. Tidak boleh ada orang di dalam bus.” jawab si ibu tanpa rasa belas kasihan sama sekali. Rada ketus kali ini.

Perasaan gelisah mulai muncul. Aku tidur di mana malam ini? Di luar tampak sepi dengan tumpukan salju yang menyelimuti tanah. Apakah ada penginapan di luar sana? Ataukah aku harus tidur di luar? Apakah aku bisa bertahan di dinginnya salju Lexington malam ini?

Aku mulai membayangkan tidur di luar dengan tumpukan salju yang amat sangat dingin. Membayangkan bagaimana salju tersebut mencair terkena panas badan kemudian berubah menjadi air es dan merembes ke sela-sela sarung tanganku. Membayangkan badan yang menggigil karena hipotermia. Beku. Apakah ajal itu akan datang di hari ulang tahunku ini?

Petugas terminal bus Greyhound pun datang dan membuka pintu terminal.

“Tuh, petugasnya sudah datang. Nanti kamu tanya-tanya ke dia saja ya.”

Saya pun masuk ke dalam terminal. Huft, baru keluar bus saja salju sudah masuk ke sela-sela sepatu. Dingin. Basah. Bagaimana nanti jika aku tidur di luar beralaskan salju?

Ah, hangat kembali terasa saat masuk ruangan terminal. Kalau musim dingin seperti ini kadang jadi kangen Indonesia. Cuaca oke sepanjang tahun.

“Sir, apakah terminal buka sampai besok pagi” tanya saya ke petugas terminal.

“Tidak, setelah ini pintu terminal akan saya tutup lagi. Terminal akan dibuka lagi besok jam 8 pagi.” jawab petugas tersebut dengan ketus.

Ya, petugas terminal bus Greyhound di mana-mana memang ketus. Wisbiyasak. Bikin kzl. Di Indonesia kalau ada petugas pelayanan ketus kayak gitu bisa dilempar kutang tuh.

Baca juga:  Konser Third Eye Blind (Live @ Tabernacle, Atlanta)

“Tiket ke Atlanta besok pagi masih available kah?”

“Masih, mau beli?”

“Iya, saya beli satu Sir untuk besok pagi”

Kemudian saya serahkan kartu debit saya, dan petugas tersebut mencetak tiket bus saya. Saya pun bertanya lagi.

“Bolehkah saya tidur di dalam terminal sampai besok pagi? Saya kan sudah beli tiket bus Greyhound.” Tanya saya sambil mengiba. Yakali, sudah beli tiket masak jahat banget sama pelanggannya?

“Tidak. Terminal sebentar lagi saya tutup!” Yah, ternyata dia jahat beneran.

Greyhound Bus Station, Lexington
Pagi hari di terminal tempat ketemuanku dengan Mbah Sujiwo Tejo made in USA itu. Tsaah…

Huft. Saking juteknya si petugas tersebut, saya sampai malas mau bertanya tentang penginapan terdekat. Kemudian saya buka Yelp, sebuah aplikasi semacam Foursquare yang tidak bisa digunakan di Indonesia, untuk mencari informasi penginapan terdekat dengan terminal bus.

Aha! Ada penginapan terdekat dengan jarak sekitar 700 meter! Yay.

Saya sendirian saja waktu itu bersama petugas jutek tadi, sampai tiba-tiba ada seorang dengan rambut gondrong panjang ikal, kurus, kumisan, baju kumal, muka tak terawat, menyapa saya dari belakang. Saya kaget bukan kepalang, ini orang muncul dari mana??

“Hey, kamu menunggu bus besok pagi? Saya juga menunggu bus ke kota… (tidak jelas dia menyebut kota apa, yang jelas bukan kota Atlanta ataupun kota-kota terkenal di Amerika Serikat lainnya)” Saya masih syok dengan kehadirannya yang tiba-tiba seperti kemunculan hantu di dalam film horor.

Cimeng. Bau nafasnya sangat khas sekali bahwa orang ini penghisap ganja.

Saya paham dengan pepatah yang mengatakan “Don’t judge book by it’s cover”, jangan menilai orang dari penampilannya. Tapi terus terang saja. Jika ada sesosok orang yang tak kamu kenal, berpenampilan seperti Mbah Sujiwo Tejo versi tidak terawat, tiba-tiba menyapamu dari belakang, kamu merinding gak? Maaf ya Mbah Jan*cuk, bukannya menghina. Tapi, saya memang benar-benar ketakutan waktu itu.

Saya sangat merinding. Takut, jika orang ini berbuat yang tidak-tidak terhadap saya. Hanya ada kami bertiga lho. Sedangkan petugas Greyhound pun mau menutup terminal dan pulang ke rumahnya. Aku tidak mau berduaan saja dengan mbah-mbah ini karena yang ketiga adalah syaiton. Ketakutan ganda! Uhuk.

“Iya, besok pagi” jawab saya sekenanya seolah-olah memberi isyarat ‘agak menjauh gih dari gue, serem niy…’

Saya pun keluar terminal untuk menuju penginapan yang saya dapat dari Yelp tadi. Brrr.. Dingin bangettt… Iseng amat sih si Elsa nyebar salju di Lexington. Frozen niy.. bodi dan hati akoh.

‘Mbah Sujiwo Tejo’ mengikuti saya dari belakang. Saya mempercepat langkah. Aduh biyung, kenapa jadi kayak gini sih?

“Hey, wait” pinta dia karena langkah dia tidak bisa menyamai langkah cepat saya. Kaki dia pincang satu. Dia berjalan dengan menyeret-nyeret salah satu kakinya. Seperti zombie berjalan. Saya pun berhenti dan mengambil sikap bertahan terhadap serangan. Jika orang ini berbuat macam-macam, bakal saya patahin kaki satunya lagi biar pincang dua-duanya. Hadeuh, kalau lagi ketakutan begini bawaannya curigaan dan jadi berotak kriminal.

“Hey, kamu mau tidur di mana malam ini? Saya juga senasib denganmu.” tanya dia.

“Oh, di sebelah sana ada motel. Saya mau menginap di sana, semoga saja masih ada kamar kosong”

“Nama saya… (Saya lupa nama dia siapa, saya tidak peduli, karena persepsi saya dia orang yang gak beres). Bolehkah saya menumpang sekamar denganmu. Nanti saya tidur di lantai saja.”

“Let’s see” duh kenapa gak bilang tidak saja sih, malah ngasih harapan gini.

Ada saja di saat kalut seperti ini bertemu dengan mbah-mbah serem. Saya menatap matanya. Dari caranya memandang, orang ini sepertinya mempunyai masalah hidup yang pelik. Kecurigaan saya mulai sedikit memudar berubah menjadi rasa iba.

“Lewat sini nih” dia menunjukkan jalan kecil.

“Di situ untuk jalan mobil, nanti kamu ketabrak”

Memang benar sih. Saking acak adutnya perasaan, saya berjalan di bahu jalan raya! Habisnya semua tertutup salju, tidak  bisa membedakan mana jalan, mana trotoar.

“Uang ku tinggal sedikit. Makanya aku memohon agar bisa menumpang tidur denganmu. Aku sedang sakit sekarang. Uangku banyak terbuang untuk membeli ganja. Hanya itu yang bisa mengobati sakitku ini.”

Baca juga:  Ngintip Kasino di Genting Highland, Kuala Lumpur

FYI, semenjak berada di Amerika Serikat, saya mulai toleran dengan penghisap ganja. Melihat orang menghisap ganja ya biasa saja, bukan seperti melihat seorang kriminal. Teman saya yang kuliah S3 saja nyimeng. Nonton konser selalu tercium bau ganja yang baunya kayak kencing kambing itu. Jadi ketika simbah bilang dia penghisap ganja, ya biasa saja.

“Oh… i feel you sir” jawabku masih singkat saja sambil melihat gerakan tangan dia. Kawatir dia mengeluarkan pistol atau pisau dari sakunya.

Ternyata satu tangannya memegang kaki pincangnya. Mengangkat kaki pincangnya untuk membantu berjalan. Rasa iba mulai bertambah.

Kami pun berjalan bersama menuju penginapan sambil berbincang. Dia menceritakan masalah hidupnya. Bagaimana kondisi ekonominya yang amburadul, bagaimana keluarganya yang bermasalah, sampai dengan laptopnya yang rusak yang dia bingung bagaimana cara memperbaikinya. Jarak yang aku jaga dengan dia tadi mulai memudar. Kami mengobrol saja sepanjang jalan.

“Hey, aku kan tidak punya tanda pengenal. Nanti aku tunggu di luar hotel, kamu check in hotel. Kalau sudah selesai, nanti beri kode ke aku. Nanti aku masuk ke kamarmu.”

WTF, tanda pengenal saja orang ini tidak punya. Bisa jadi dia psikopat. Bagaimana jika nanti di dalam kamar aku dibunuh oleh dia? Identitasnya saja masih misterius, siapa nanti yang jadi tersangka pembunuh gueeeeeee??? Muncul lagi deh rasa curiga yang tadi telah sirna. Aku pun kembali jahat.

Saya masuk menuju ke resepsionis. Di Indonesia, penginapan ini masuk kategori losmen kelas kumuh. Tapi tidak mengapa. Yang penting ada tempat untuk berlindung dari salju yang terkutuk!

“Permisi pak, ada kamar kosong”

“Ada, mau berapa malam?”

“Saya pesan dua kamar untuk satu malam pak”

Akhirnya aku pesan dua kamar: satu untukku dan kesendirianku, satu kamar lagi khusus untuk ‘Mbah Sujiwo Tejo’. Aku sangat kawatir dengan keselamatanku ketika dia bilang tidak mempunyai tanda pengenal.

Setelah resepsionis menyerahkan kunci, aku berjalan keluar menemui si mbah tadi.

“Hey, sudah dapat kamar?” tanya dia.

“Iya dapat kamar. Malam ini aku mau menelpon lama dengan keluargaku. Aku takut mengganggu tidurmu. jadi aku pesankan satu kamar khusus untukmu” saya berbohong dengan membawa-bawa keluarga. Maap ya keluargaku. Kalian memang penyelamat di saat seperti ini.

Simbah tadi menatap saya dengan tatapan yang berbinar dan berkaca-kaca.

“Thanks man. You’re beautiful… You’re beautiful…”

Ughhh.. baru kali ini aku dipuji ‘chantique’ oleh mbah-mbah lakik…

“No problem..” jawab saya sambil tersenyum

Saya pun masuk ke kamar. Penghangat ruangan tidak berfungsi maksimal. Tetap saja saya menggigil kedinginan di dalam kamar. Aku butuh kehangataaan! *kemudian nelpon call center Taman Lawang*

Empat puluh dollar melayang guna membayar kamar untuk orang yang tidak aku kenal. Orang yang telah membuatku begidik ketakutan. Merasa rugi? Awalnya iya, tapi beberapa saat kemudian aku merasa ‘Cih, cuman empat puluh dollar doang’.

Bahagia memang sederhana. Aku merasa sangat bahagia waktu itu. Bukan karena pujian chantique tadi ya. Bahagia ini lebih karena, di saat semua orang pada hari ulang tahunnya mendapat kado, aku justru memberi kado untuk orang yang membutuhkan. Benar-benar antimainstream!

Aku sendiri tidak bisa membayangkan jika mbah-mbah tadi tidur di luar dengan suhu udara di bawah nol derajat Celcius dengan salju basah bergunung-gunung. Besoknya dia sudah menjadi es krim kali ya?

Kalau dia menjadi es krim rasa kakek-kakek karena aku tidak mengizinkan dia tidur bareng ((TIDUR BARENG)), justru aku akan makin merasa bersalah. Pelit berujung hilangnya nyawa seseorang. Somehow, money can buy life, Bob Marley… Money can buy life at this moment.

Buat Mbah Sujiwo Tejo made in You ES Ei… Semoga penyakitmu lekas sembuh, masalah dalam keluargamu segera kelar, dan laptopmu tiba-tiba berubah secara ajaib menjadi Macbook Air.

———————————————————————

PS: Jika Mbah Sujiwo Tejo membaca artikel ini, bukan berarti saya menghina fisik lho mbah. Sudah terbukti Mbah Tejo berhati baik. Ini hanya menceritakan dengan jujur rasa takut saya waktu itu.

SHARE

10 COMMENTS

LEAVE A REPLY