Solo Traveling: Pilihan atau Keharusan?

7
Solo Traveling
(Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

“It’s better to be unhappy alone than unhappy with someone – so far.” – Marilyn Monroe

Akhir-akhir ini, beberapa traveler menganjurkan untuk mencoba solo traveling atau jalan-jalan seorang diri. Bagi sebagian orang, solo traveling adalah pencapaian tertinggi seorang traveler, pembuktian bahwa “Ini lho, gue berani jalan-jalan sendirian. Hebat kan?”. Menurut saya, tidak ada masalah kok apakah kita mau jalan seorang diri atau mengajak teman satu pleton. It’s your own choice. Tapi, sekali-kali nyobain solo traveling tidak ada salahnya dong ya?

Saya sudah beberapa kali melakukan solo traveling, yang saya artikan berangkat jalan-jalan sendirian tanpa teman. Beli tiket sendiri, cari informasi sendiri, booking hotel sendiri, kemana-mana sendiri. Di jaman serba online sekarang ini, solo traveling tidak berarti 100% sepi sendirian kok. Percayalah. Kita masih bisa berinteraksi dengan teman, keluarga, atau bahkan orang-orang yang baru kita temui.

Mengapa sih harus solo traveling? Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa harus solo traveling.

Pertama, jadwal liburan yang tidak cocok dengan jadwal liburan teman/keluarga. Ketika saya punya waktu lowong, teman saya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sebaliknya ketika teman saya ngajak jalan-jalan, seringkali saya masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Belum lagi jika ada teman yang mensyaratkan Si A harus ikut. Kalau si A gak ikut, dia nggak mau ikut. Bakal panjang lagi potensi kegagalan jalan-jalan barengnya hehehe. Dulu, saya sering menunggu jadwal semua teman match kemudian kita jalan bareng. Seiring jadwal pekerjaan saya mulai kurang fleksibel, sekarang saya malah lebih sering solo traveling dibanding jalan bareng teman-teman.

Kedua, teman gaul yang kurang cocok menjadi teman traveling. Banyak lho teman yang asyik diajak gaul kesana-kemari tapi kurang cocok diajak traveling. Misalnya, kamu punya temen nggosip yang asyik banget diajak ngobrol di mall berjam-jam. Pas diajak ke pantai, dia hanya duduk mencari tempat berteduh, sedangkan kamu butuh temen buat bercanda haha hihi di lautan. Sebaliknya, teman tersebut hobi banget belanja dan kamunya paling gak betah nemenin dia wisata belanja. Ada lagi teman yang tidak mau capek naik gunung, padahal hasrat kamu mendaki gunung sudah memuncak seperti nafsu hewan dalam masa birahi. Belum lagi teman yang manja, egois, suka menggerutu, mengeluh terus sepanjang jalan, gak mau ini gak mau itu. Tujuan awal traveling dengan harapan bikin bahagia, ujung-ujungnya malah bikin kesel sendiri. Makan ati. Kalau sudah seperti ini, daripada keinginanmu tidak terwujud hanya gara-gara temanmu gak demen dengan selera travelingmu, lebih baik jalan sendiri bukan?

Ketiga, memang lagi pengen menyendiri. Pernah suntuk dengan pekerjaan? Pernah kesel memuncak karena teman-teman yang menyebalkan? Kalau sudah seperti ini, saya biasanya langsung berangkat jalan-jalan sendirian. Tanpa teman.

Tantangan terberat solo traveling adalah diri-sendiri. Awalnya, seringkali kita ragu akan kemampuan diri sendiri sehingga timbul pertanyaan seperti ini:

Baca juga:  Tips Mendaki Gunung dari Pemula untuk Pemula

1. “Mampu gak ya gue jalan-jalan seorang diri?”

Jawabannya adalah mampu, tapi jangan dipaksakan untuk mampu. Jika kamu sudah merasa “Ya, saya mampu!” segeralah berangkat solo traveling. Jika masih ada keraguan di benakmu, jangan dipaksakan. Menurut saya, solo traveling adalah pilihan, bukan keharusan.

2. “Kalau terjadi kenapa-kenapa dengan saya bagaimana? Siapa yang menolong saya?”

Jalan-jalan sendirian atau bersama teman mempunyai risiko ‘terjadi kenapa-kenapa’. Di rumah gak kemana-mana saja bisa ‘terjadi kenapa-kenapa’ kok hehehe. Persiapkan semuanya untuk menghindari risiko tersebut, misalnya selalu mengabari ke teman, keluarga, media sosial mengenai keberadaan kita. Paling tidak, jika terjadi sesuatu hal, mereka tahu lokasi kita di mana.

Tak ada tempat di dunia ini yang bebas dari risiko bahaya, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir risiko bahaya tersebut. Traveling sendiri atau dengan teman, sebaiknya selalu mencari cara untuk meminimalkan risiko yang terjadi. Caranya? Persiapkan itinerary dengan matang, hindari daerah-daerah rawan, gunakan kartu ponsel yang jangkauan sinyalnya luas, bawa perlengkapan yang lengkap, perhatikan kondisi cuaca, dan lain sebagainya.

3. “Terus yang motret kita siapa?”

Ada tripod, monopod/tongsis, dan mulut. Memang sih agak sedikit repot jika menggunakan tripod. Harus memasang tripod dulu ke kamera, padahal kalau ada teman ngetrip kan tinggal minta tolong jepretin. Tapi mau bagaimana lagi?

Bisa juga menggunakan monopod (yang istilah bekennya tongsis a.k.a tongkat narsis). Banyak yang mencibir tongsis karena dianggap norak. Kalau menurut saya sih… bodo amat, foto-foto kita sendiri kenapa situ yang bawel? Yang penting punya foto narsis kan? Banyak lho foto/video di Instagram dan Youtube pake tongsis dan hasilnya keren mampus.

Cara lain adalah cara yang paling klasik: minta tolong orang untuk fotoin kita. Terkadang memang agak sungkan meminta tolong orang untuk fotoin kita. Padahal, kebanyakan mereka yang kita mintain tolong malah dengan senang hati fotoin kita lho. Pernah gak ada orang yang minta tolong kamu fotoin mereka? Bagaimana perasaanmu? Kalau saya sih seneng banget dimintain tolong motret, walaupun tidak kenal dengan yang kita jepret. Sama halnya jika kita meminta tolong orang lain untuk fotoin kita, bisa jadi mereka malah seneng bantuin kita.

4. “Aduh, aku takut kesepian nih kalau lagi jalan sendirian. Gak ada teman ngobrol”

Ehmm.. memang selama ini sebagian besar waktu ngobrolmu dengan teman-temanmu selalu harus bertemu langsung? Pasti sebagian besar waktu ngobrol dihabiskan melalui media sosial online: Whatsapp, Path, Twitter, Facebook, dan media sosial lainnya. Bahkan, ketika ngumpul bareng teman-teman saja masih pencet-pencet hape buat buka media sosial tersebut kan? Hayo ngaku…. Saya juga demikian kok hahaha…

Secara tidak sadar, sebenarnya kita sudah siap solo traveling? Walaupun sendirian, ngobrol dengan teman-teman lewat media sosial tersebut masih tetep asyik dan gak bikin kesepian. Selama ini sih, saya tidak pernah merasa kesepian karena adanya media sosial online ini. Di bandara sendirian, masih bisa ngobrol. Bosan di dalam perjalanan bus sendirian, masih bisa godain temen di grup Whatsapp. Bengong sendirian di pantai, masih bisa foto-foto kemudian diunggah ke media sosial, pasti ada yang iseng komen. Terus, kesepian di mananya?

Baca juga:  Bokeh vs Starburst

Jujur, sampai sekarangpun pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu muncul di kepala saya saat mau memutuskan solo traveling. Setelah dijalani… Enjoy-enjoy aja tuh. Go with the flow.

Keuntungan, kerugian, dan tips solo traveling.

Keuntungan:

1. Melatih keberanian

Saat solo traveling, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan orang-orang baru/orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Ini adalah syarat mutlak, karena siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang bertanya untuk kepentingan kita sendiri. Malu, enggan, tidak percaya diri adalah penyakit. Dengan solo traveling, kepercayaan diri kita akan terlatih sehingga penyakit-penyakit tersebut perlahan akan lenyap dengan sendirinya.

3. Kebebasan

Simpati-empati terhadap teman selama traveling itu WAJIB. Misalnya, ada teman yang tidak bisa makan ini itu padahal kamu suka makan ini itu. Ya jangan egois maksain temenmu makan ini itu sesukamu. Bisa jadi teman gak bisa makan ini itu karena alasan kesehatan atau karena keyakinan. Misalnya lagi, ada teman yang tidak suka dugem padahal kamu suka dugem. Trus kamu tinggalin sendirian gitu temenmu di kamar, sedangkan kalian bisa merencanakan malam yang indah di tempat lain?

Di sinilah letak asyiknya solo traveling. Bebas seenak udelmu, tanpa harus mikirin teman traveling. Kamu mau mabok kek, mau tidur di pelabuhan ferry kek (pengalaman pribadi hiks), mau berbuat asusila kek (pengalaman pribadi juga gak ya?), apapun itu semua terserah kamu. Mau merubah itinerary perjalanan? Boleh.. boleh… Gak ada yang ngomelin kok. Bebas pokoknya.

4. Disiplin

Selalu ada teman yang mengingatkan bahwa sudah saatnya berangkat ke bandara, sudah saatnya bangun pagi mengejar sunrise, sudah saatnya pindah lokasi, dan lain sebagainya jika kita jalan-jalan bersama teman. Ketergantungan antar teman menjadi sangat tinggi jika kita ngetrip bersama. Hal ini wajar dan justru bisa menjadi perekat hubungan pertemanan.

Karena sendirian, itinerary jalan-jalan saat solo traveling pun harus diatur sendiri. Dengan demikian, kita akan terlatih disiplin mematuhi itinerary yang sudah kita bikin sebelumnya. Gak mau kan terlambat pergi ke bandara, terlambat memotret matahari terbit, terlambat ini, terlambat itu akibat kelakuan kita yang kurang disiplin? Siapa yang mau ngingetin?

5. Menambah teman baru

Jika ngetrip bareng teman-teman, kita akan selalu merasa nyaman berada bersama geng kita tersebut. Akibatnya, kita tak terlalu butuh berinteraksi dengan orang-orang baru. Lha wong temen yang di dekat kita aja asyik-asyik kok, ngapain ngobrol dengan orang yang tidak kita kenal?

Baca juga:  Solo Traveling ke Pantai Lombang, Madura

Jika pergi sendirian, mau tak mau kita akan lebih banyak berinteraksi dengan orang baru. Nah, kalau chemistry-nya cocok, bisa lanjut tuh jadi teman baru. Kadang ada kejutan-kejutan yang tidak kita sangka pada teman baru kita ini, misalnya dia adalah temannya teman sepupu tetangga. Dia punya info lowongan kerja yang menggiurkan. Dan masih banyak lagi kejutan lainnya. Asal tahu saja, beberapa teman saya bahkan sampai lanjut ke pelaminan lho.

Kerugian:

1. Fotonya kok sendirian

Traveling bersama teman itu serunya tidak hanya saat jalan-jalan bareng saja, tapi juga masih berlanjut pasca jalan-jalan. Biasanya, setelah jalan-jalan, kita saling tag di Facebook/Twitter/Instagram/Path/Whatsapp. Komentar iseng teman-teman kita itulah yang membuat traveling menjadi lebih seru dan nagih. Kalau traveling sendirian? Krik.. krik.. krik…

2. Biaya traveling membengkak

Sewa penginapan sendiri, sewa kapal sendiri, sewa mobil/motor sendiri. Wah, kok banyak juga ya biaya yang dikeluarkan? Memang banyak. Solo traveling itu lumayan boros dong? Memang boros.

Biar tidak membengkak, ikut grup wisata lain atau ajak orang-orang baru untuk jalan bareng (misalnya melalui forum online, facebook, de el el) supaya biayanya bisa dibagi bareng-bareng. Ujung-ujungnya gak jadi solo traveling sih hahaha.

Tips Solo Traveling

1. Bawa perlengkapan traveling selengkap-lengkapnya. Berikut ini perlengkapan wajib solo traveling:

  • Smartphone (sumber semua informasi dan komunikasi).
  • Powerbank (Supaya smartphone dan peralatan elektronik lainnya tetap mendapatkan asupan energi)
  • Tripod/Monopod/Tongsis (Fotografer kamu nih)
  • Dry bag (Lindungi peralatan elektronik kamu)
  • Kamera (Yakin hanya mengandalkan smartphone untuk foto-foto?)
  • Dompet berisi uang yang agak lebih dari cukup, ATM, KTP, SIM, dan kartu penting lainnya (Solo traveling atau tidak solo traveling tetap wajib dibawa sih).
  • Charger (Biarkan dia bekerja kala colokan tersedia)
  • Buku (Jika memang hanya itu yang bisa menghiburmu di kesendirianmu)

2. Cari info dan rute perjalanan selengkap mungkin sebelum kamu berangkat jalan-jalan. Hal ini untuk mengantisipasi tempat wisata yang dikunjungi miskin sinyal.

3. Hindari lokasi-lokasi rawan

4. Jika kamu berada di laut, selalu ingat jimat para guru diving ‘Never dive alone’

5. Nikmati kesendirianmu

Solo traveling atau bergerombol traveling sebenarnya hanyalah pilihan. Kalau disuruh memilih, sejujurnya saya lebih suka jalan-jalan bergerombol bersama teman-teman. Lebih ramai, lebih seru, lebih murah, saling bercanda, gila-gilaan bersama, dan bisa saling berbagi jika ada yang membutuhkan. Karena takdir mengatakan lain, akhir-akhir ini saya malah lebih sering solo traveling. Hal yang saya kawatirkan pun mulai muncul, yaitu ketagihan jalan-jalan sendirian. Hiks.  Kalau kamu? Apakah kamu lebih memilih jalan sendirian atau jalan bareng teman-teman?

SHARE

7 COMMENTS

  1. enaknya bebas mo kemana yg kita inginin, ga enaknya ya itu jadi mahal kemana2 karena serba sewa sendiri

    • @guritatidur
      Betul… mau ubah itinerary suka-suka juga bisa. Mau extend atau mempercepat pulang juga bisa. Pokoknya bebas. Tapi ya itu tadi, biaya traveling sering membengkak karena ditanggung sendiri.

  2. Sip mas, ane juga senang solo traveling. Semuanya yg memenej ya diri kita.
    tapi ya itu susahnya kalau mau foto . Hehehe
    kalau bawa tripod pundak ane pegel sih mas soalnya ane pakai sepeda motor, kalau enggak bawa ya minta orang buat dipotoin.. atau kalau ada pagar ya itulah pengganti tripod ane. Hehehehe

LEAVE A REPLY