4th of July, “I’m Proud to be American!”

10
4th-of-July

“No other date on the calendar more potently symbolizes all that our nation stands for than the Fourth of July.” – Mac Thornberry

Centennial Olympic Park, Atlanta

“Ayo cepet ntar keburu acaranya mulai” ajak teman saya. Tanpa menjawab, kami semua langsung lari tergopoh-gopoh melalui lorong-lorong kampus Georgia State University yang sudah bertebaran hiasan bendera bintang dan garis di dindingnya. Kami harus segera menuju Centennial Olympic Park, sebuah taman raksasa di pusat kota Atlanta yang dulu dibangun untuk menyemarakkan Olimpiade Atlanta tahun 1996. Walaupun jarak kampus ke taman ini lumayan dekat, jadwal kuliah kami yang memang kebanyakan malam hari membuat kami harus buru-buru menuju ke perayaan yang beberapa menit lagi diadakan di taman Centennial Olympic Park. Acaranya diadakan antara pukul 6-9 malam. Kuliah kami juga sekitar jam segitu. Kan mefet beut! Acara apa sih kok sampai begitu bela-belainnya datang?

If tomorrow all the things were gone I’d worked for all my life
And I had to start again with just my children and my wife
I’d thank my lucky stars to be livin’ here today
‘Cause the flag still stands for freedom and they can’t take that away

…And I’m proud to be an American where as least I know I’m free
And I won’t forget the men who died, who gave that right to me
And I’d gladly stand up next to you and defend her still today
‘Cause there ain’t no doubt I love this land God bless the USA….

Sepenggal lirik lagu lama milik Lee Greenwood yang berjudul “God Bless the USA” sayup terdengar dari stasiun subway yang tak jauh dari lokasi taman. Lagu patriotik ini selalu didengungkan saat acara yang berbau-bau nasionalisme. Coba cermati liriknya, mirip lagu-lagu kebangsaan yang diajarkan waktu SD bukan?

Jika lagu ini diperdengarkan, biasanya acara puncak peringatan 4th of July sudah dimulai. Ya, kami ke sini untuk menyaksikan perayaan 4th of July. Apa sih perayaan 4th of July itu? Perayaan 4th of July adalah peringatan hari kemerdekaan (Independence day) Amerika Serikat setiap tanggal 4 Juli. Di tanggal yang sama pada tahun 1776, tiga belas koloni di benua Amerika memproklamasikan diri sebagai negara baru bernama The United States of America dan melepaskan diri dari kerajaan Inggris. Kalau di Indonesia, peringatan kemerdekaan kan pada tanggal 17 Agustus tuh, tanggal saat proklamasi kemerdekaan.

Baca juga:  Nonton Konser Keane (Live @ Tabernacle, Atlanta)

Setelah lari-lari panik, sampailah kami di gerbang taman Centennial Olympic Park. Di depan taman sudah ada tulisan seperti ini:

  • No bags or backpacks larger than 11×17. Attendees and their belongings are subject to search.
  • No coolers
  • No glass containers of any kind
  • No outside food or beverage may be brought into the event
  • No large umbrellas or tents
  • No skateboards, scooters, or bicycles inside the event
  • No pets
  • No grills
  • No fireworks or explosive of any kind
  • No weapons of any kind
  • No illegal drugs of any kind
  • Alcohol may not be brought into the Park
  • Centennial Olympic Park reserves the right to refuse service to anyone for any reason.
  • Park visitors under 16 years of age are required to be accompanied by a parent or guardian 18 years of age or older at all times.

No ini no itu. Banyak banget larangannya. Tuh, siapa bilang Amerika Serikat negara bebas? Mereka punya aturan ketat di mana-mana!

Benar saja, sesampainya di gerbang taman Centennial Olympic Park, warna-warni kembang api mulai menghiasi langit Atlanta di musim panas waktu itu. Meriah banget, bahkan lebih meriah dibanding perayaan tahun baru di Atlanta. Kondisi sebaliknya terjadi di Indonesia, kembang api tahun baru lebih semarak dibanding kembang api 17 Agustus. Wait, ada gak sih pesta kembang api pada perayaan 17 Agustus?

Atlanta 4th of July
Langit Atlanta “meledak” saat perayaan 4th of July (Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

Stone Mountain, Georgia

Seolah tak mau rugi untuk melihat perayaan yang hanya diselenggarakan setahun sekali ini, kami juga mengunjungi tempat yang konon menjadi salah satu tempat tercetar untuk merayakan 4th of July. Tempat itu adalah Stone Mountain, sebuah nama kota kecil yang berjarak satu jam perjalanan dari Atlanta. Sesuai dengan namanya, di kota ini memang terdapat gunung batu raksasa mirip-mirip bebatuan raksasa di Belitung. Namun demikian, ukuran batu di sini lebih mencengangkan lagi, sampai-sampai disebut sebagai gunung batu (Stone Mountain). Perayaan 4th of July di sini, oleh pengelola kasan wisata Stone Mountain dinamai dengan perayaan “Fantastic Fourth Celebration”.

Baca juga:  Padang Pasir Putih di Mui Ne

Siang hari, kami bermain-main di sekitaran Stone Mountain yang memang telah disediakan berbagai macam wahana permainan, seperti minigolf, cable car menuju puncak gunung, naik kereta mengelilingi gunung, dan lain sebagainya. Ketika matahari mulai sembunyi di balik cakrawala, semua orang mulai memadati area di depan tembok gunung batu (mountainvision). Mereka (termasuk kami ding hehehe) berebut mencari tempat yang strategis supaya dapat melihat atraksi laser show dari sudut pandang yang pas. Emang ya, dasar negara kapitalis, atraksi laser show pun ditunggangi iklan perusahan-perusahaan sponsor. Huft banget gak sih? Hahaha.. Becanda. Halah.

4th of July Stone Mountain
Permainan laser di depan gunung batu raksasa Stone Mountain sembari menunggu acara puncak perayaan 4th of July. Tuh bandingkan ukuran gunung batunya yang gedong dengan penonton di depannya (Follow Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler)

Satu demi satu kisah-kisah seru ditampilkan melalui warna-warni sinar laser. Yah semacam pagelaran wayang kulit gitu deh, tapi ini menggunakan teknologi laser. Setelah selesai, ada break sebentar, pengunjung pun mulai berisik random kayak di pasar. Di tengah hiruk pikuk gak jelas itu, tiba-tiba terdengar suara intro sebuah lagu. Ya, intro lagu ini sangat familiar sekali di telinga rakyat Amerika Serikat. Sontak semua pengunjung terdiam, kemudian berdiri, mengepalkan tangan di dada, dan kemudian ikut menyanyikan lagu dengan khidmat.

Oh, say can you see by the dawn’s early light
What so proudly we hailed at the twilight’s last gleaming?
Whose broad stripes and bright stars through the perilous fight,
O’er the ramparts we watched were so gallantly streaming?
And the rocket’s red glare, the bombs bursting in air,
Gave proof through the night that our flag was still there.
Oh, say does that star-spangled banner yet wave
O’er the land of the free and the home of the brave?

Semua orang menyanyikan lagu “The Star Spangled Banner”, lagu kebangsaan (national anthem) Amerika Serikat. Saya sendiri juga ikut berdiri untuk menghormati sakralnya perayaan ini. Walaupun tahu lagu “The Star Spangled Banner”, sayang sekali saya tidak hapal lirik lagunya. Sehingga, saat yang lain pada khusyuk menyanyi, kita diem aja kayak orang bego hehehe. Saya yakin kok, walaupun hapal liriknya, tak semua orang Amerika bisa menyanyikan lagunya. Nadanya tinggi banget euy. Coba cek versi Jennifer Hudson yang ini deh. Pasti pita suara berasa putus membayangkan cara menyanyi seperti ini. Hahaha…

Baca juga:  Gatlinburg, Kota di Belantara Smoky Mountains

Setelah lagu “The Star Spangled Banner” selesai diperdengarkan, pengunjung kemudian duduk kembali. Kemudian muncul lagu lain yang membuat wajah-wajah Amerika ini begitu sumringah. Ya, petikan gitar sebagai intro lagu tersebut juga khas banget. Apalagi kalau bukan lagu “God Bless the USA”, yang seolah-olah menjadi lagu wajib setelah “The Star Spangled Banner” jika ada perayaan-perayaan patriotik seperti ini. Kemudian, perayaan 4th of July di Stone Mountain ditutup dengan muncratan kembang api yang membahana di angkasa malam dengan latar belakang gunung batu segede kingkong obesitas. Tak sampai selesai, kami terpaksa harus pulang karena bus terakhir yang mengantarkan kami balik ke Atlanta segera tiba. Padahal lagi seru-serunya. Huft.

Dari perayaan 4th of July ini, dapat kita lihat bahwa se-individualis-nya orang Amerika Serikat, mereka sangat bangga sekali dengan negaranya. Individualis tak berarti egois. Berbuat yang terbaik untuk diri sendiri dengan tidak mengesampingkan kepentingan bangsa dan negara. *Halah bahasa guweh kok PPKn banget ya* Semenjak usia dini, sudah ditanamkan jiwa patriotisme pada diri mereka, hingga saat dewasa, mereka bisa bilang “I’m proud to be an American, I’d gladly stand up and defend my country still today!“. Sebuah janji yang sangat mulia bukan?

SHARE

10 COMMENTS

  1. Meriah seperti 17-an juga ya. Mungkin lebih meriah dari perayaan ultah Indonesia. Yang jelas di Amerika gak ada lomba tarik tambang, makan kerupuk dan panjat pinang dalam memperingati kemerdekaan meraka 🙂

    • @Evi
      Kalo secara keseluruhan sih meriah di Indonesia. Tapi acara puncak kembang apinya kalo di Indonesia jarang, lebih sering kembang api malah saat taun baru 🙂

    • @Cumilebay.com
      Wah kalo lomba-lomba sebelum hari kemerdekaan justru lebih seru di Indonesia. Kalo orang sana makan krupuk bisa kembung perutnya secara tanpa makan kerupuk aja udah banyak yang ‘kembung’ perutnya hahaha 🙂

  2. 4th of July memang seruuu yaaa…di NYC kembang apinya luar biasaaaa..enaknya di Astoria tempat kami tinggal ada perayaan sama sebelum hari D..then we had a blast on the 4th of July 🙂

    • @winnymarch
      Betul kaak…

      You just gotta ignite the light and let it shine
      Just own the night like the 4th of July
      ‘Cause, baby, you’re a firework
      Come on, show ’em what you’re worth
      Make ’em go, “Aah, aah, aah”
      As you shoot across the sky-y-y

      Ahzeeeg…. 😀

LEAVE A REPLY