Pulau Tunda, Surga Nemo yang Tetunda-tunda

6
Pulau Tunda
(Follow juga Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)
“I postpone death by living, by suffering, by error, by risking, by giving, by losing.” – Anais Nin

Pulau Tunda, Banten. Sebenarnya saya sudah tahu ada sebuah pulau bernama Pulau Tunda sejak zaman Multiply.com masih merupakan website yang asyik buat nge-blog. Waktu itu, saya pengen banget jalan-jalan ke Pulau Tunda karena ngiler melihat foto-foto underwater-nya yang begitu menggiurkan. Tak banyak informasi yang saya dapat di blog lain kecuali di Multiply tersebut. Akhirnya, keinginan tersebut baru kesampaian sekarang, di zaman Multiply.com berubah menjadi website gak jelas dan wagu (masih sakit hati koleksi foto dan blog guweh dihapus karena perubahan konsep Multiply eaaakkk…). Dan, ternyata apa yang saya lihat di blog tersebut tidak menipu. Apa yang saya saksikan di Pulau Tunda pun tak jauh beda dengan apa yang saya lihat di blog tersebut. Seperti apa sih pemandangan di Pulau Tunda itu?

Blog di Multiply yang membahas tentang Pulau Tunda tersebut memamerkan foto-foto terumbu karang dengan liukan anemon dan ikan nemo yang berhasil membuat saya ngiler sampai luber. Kapan ya saya bisa mengunjungi Pulau Tunda? Kapan ya saya bisa merasakan guncangan kapal karena laut begitu berombak menuju Pulau Tunda? Kapan ya bisa melihat lumba-lumba di Pulau Tunda? Selalu saja timbul pertanyaan “kapan-kapan” lainnya yang selalu tertunda-tunda hingga sekarang.

Saat itupun tiba. Di suatu long weekend di bulan April, saya memutuskan untuk ikut open trip ke Pulau Tunda. Ah senangnya beberapa hari lagi mimpi saya ke Pulau Tunda yang tertunda dari sejak lama akan segera terwujud. Namun, ada sesuatu yang membuat trip ini menjadi kurang begitu sempurna: Angin barat!.

Baca juga:  Amed, Surga Bawah Laut di Timur Bali

Angin (muson) barat adalah sebutan untuk angin musiman yang berhembus dari arah barat yang selalu dibenci para pelaut dan pecinta lautan. Angin ini biasanya membawa cuaca buruk dan ombak yang besar di lautan. Efeknya? Air lautpun menjadi keruh dan visibilitasnya menjadi kurang bagus. Terus kalau kondisinya seperti ini apa yang mau dilihat?

Saya datang ke Pulau Tunda pada bulan April, bulan di mana angin barat biasanya enyah tak berbekas di lautan. Namun kenyataan mengatakan sebaliknya. Saya bertanya ke nahkoda kapal mengapa air lautnya kok tidak tenang. Beliau menjawab bahwa angin barat masih belum juga pergi. Ternyata, angin barat masih bercokol di bulan April pemirsah! Huffttt.

Perasaan saya sudah mulai tidak enak. Saya menduga bahwa air laut menjadi keruh dan permukaannya akan menjadi tidak tenang. Benar saja, waktu berada di beberapa spot snorkeling, selalu dihiasi riak-riak yang tidak menyenangkan. Air lautnya pun begitu keruh mengganggu pemandangan. Walaupun saat itu air laut Pulau Tunda tidak dalam kondisi terbaiknya, tapi lumayan puas kok melihat terumbu karang Pulau Tunda yang lumayan bagus dan dihiasi banyak anemon.

Halaman berikutnya, pemandangan sunset Pulau Tunda yang dahsyat.

1
2
3
4
SHARE

6 COMMENTS

  1. Kereeen tp jauuh bgt.,,, pas ke sawarna aja ampe 7 jam lbih, dari bandung.
    klo ksini dari sawarna brpa jam ya?

LEAVE A REPLY