Tips Mendaki Gunung dari Pemula untuk Pemula

12
Mendaki Gunung untuk Pemula

“It’s the way you ride the trail that counts.” – Dale Evans

Mendaki gunung memang tidak semudah wisata pantai. Banyak hal yang harus kita persiapkan sebelum mendaki gunung. Hal ini berbeda dengan wisata pantai yang tinggal bawa ransel, berangkat ke pantai, beres. Mendaki gunung tidak segampang itu, banyak hal yang harus diketahui dan dipersiapkan secara matang agar semua berjalan sesuai dengan harapan. Kalau begitu, mending wisata ke pantai dong karena lebih praktis? Belum tentu, baca di sini dulu supaya tahu nikmatnya naik gunung itu seperti apa. Berikut ini adalah beberapa tips mendaki gunung dari pemula untuk pemula.

1. Latih kaki dan badanmu paling tidak sebulan sebelum pendakian

Dua kali mendaki gunung, dua kali pula kaki saya cedera. Pendakian pertama adalah pendakian Gunung Lawu. Sesampainya di puncak Lawu, kaki saya masih sehat walafiat. Sewaktu turun otot betis saya cedera karena tidak kuat menahan beban. Bayangkan saja dari puncak gunung sampai dengan pos penjagaan pertama, saya harus berjalan berjam-jam terseok-seok menahan sakit yang luar biasa. Waktu itu saya memang kurang persiapan sama sekali. Saya tidak pernah melatih kaki untuk dengan berlari/jogging, atau bahkan sekedar berjalan kaki lebih sering. Kemudian nekat naik gunung begitu saja. Akibatnya, otot betis saya kaget dan cedera. Beberapa hari saya tak sanggup beranjak dari tempat tidur. Kaki akooh sakidh beut!

Pendakian kedua adalah beberapa hari lalu di Gunung Gede. Banyak orang yang menyebut Gunung Gede cocok untuk pendaki pemula. Memang benar. Ketinggian Gunung Gede “hanya” sekitar 2958 mdpl (meter di atas permukaan laut). Tidak “terlalu tinggi” jika dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya. Jalurnya pun sangat gampang karena tak banyak percabangan. Namun, jangan pernah menyepelekan kemampuan kaki kamu. Tanpa persiapan yang cukup, mendaki gunung di sini pun dapat membuat kaki saya cedera. Kejadiannya hampir sama dengan pendakian pertama. Saya memang mampu mendaki sampai puncak Gunung Gede. Namun, saat hendak turun, sendi lutut saya cedera. Dan kejadian serupa terulang lagi, saya harus terseok-seok berjalan dari puncak sampai ke kaki gunung. Teman saya yang sehat mampu turun dari Puncak Gunung Gede ke bawah hanya dalam waktu 3 jam. Karena cedera, saya membutuhkan waktu 7 jam! Kesalahan yang saya lakukan pun sama: Tidak melatih kaki sebelum melakukan pendakian. Di pendakian kedua, saya juga berangkat bersama 2 orang yang baru pertama kali mendaki gunung. Keduanya mengalami cedera engkel dan cedera otot paha. Kesalahan mereka juga sama: tak pernah berolahraga sebelum naik gunung. See, “semudah-mudahnya” Gunung Gede juga dapat menyebabkan cedera kaki kalau tidak melakukan persiapan yang cukup. Nah, sebelum kejadian ini menimpa kamu, cobalah melatih kakimu sebelum naik gunung. Sering-sering jalan kaki, naik sepeda, lari/jogging, atau apapun terserah. Yang penting kakimu HARUS dilatih.

Baca juga:  Save Me Please...

2. Never hike alone

Dalam dunia diving/freediving, ada istilah populer “Never dive alone”, jangan pernah menyelam sendirian. Begitu juga dengan mendaki, jangan pernah mendaki sendirian. Selain sebagai teman perjalanan, buddy kita saat mendaki gunung juga menjadi teman berbagi barang bawaan dan berbagi suka duka. Jika kamu tiba-tiba cedera kaki, siapa yang mau membantumu? Orang lain? Ngerepotin banget ya… Lebih baik merepotkan teman kamu. Di situ kamu akan sangat bersyukur memiliki teman seperti dia. Dia pun pastinya sangat senang membantu sohibnya. Begitu juga sebaliknya, dampingi selalu rekanmu dalam suka dan duka. Jangan pernah tinggalkan dia sendirian hanya karena langkah kakimu secepat rusa. Di gunung, teman adalah teman, bukan pembantu atau sumber masalah. Persahabatan dijamin makin erat dan langgeng jika saling membantu saat mendaki gunung.

3. Ajak pendaki yang sudah berpengalaman

Sebagai pemula, apalagi yang baru pertama kali naik gunung, mendaki bersama orang yang sudah berpengalaman is a must! Kamu akan banyak belajar dari dia, seperti bagaimana cara memasang tenda yang benar, cara mengemas tas gunung yang benar, etika mendaki gunung yang benar, jalur mendaki yang benar, dan lain sebagainya. Plus, dia akan membantumu banyak hal mulai dari persiapan naik gunung sampai pulang ke rumah.

4. Minimalkan membawa makanan yang harus dimasak

Sebenarnya ini masalah preferensi. Sebagai penganut Lazy Traveler’s Paradigm, saya sih malas masak makanan di gunung. Bayangkan saja kita harus membawa kompor, bahan bakar, bahan makanan mentah, beras, dan lain sebagainya. Kecuali pendakian butuh berhari-hari, bahan mentah tersebut memang wajib dibawa. Jika hanya semalam di puncak gunung sih, saya ogah rempong membawa barang-barang seperti itu. Yah, sekali-kali puasa semalam makan makanan yang “normal”. Untuk mengakalinya, bawa makanan yang mengenyangkan, berkalori/karbohidrat tinggi, dan berprotein tinggi. Daftar makanan matang dan siap santap tersebut dapat dilihat di sini.

Masukkan makanan tersebut dalam kaleng/tempat makanan, kecuali coklat/coki-coki yang ditaruh di tempat yang mudah di ambil saat mendaki. Atur seringkas mungkin sehingga tidak memakan tempat dan tidak membawa banyak sampah. Seriously, males banget saat turun gunung harus membawa banyak sampah. Kalau begitu tinggalkan saja sampahnya di gunung, repot amat sih. Hmm, kalau meninggalkan sampah di gunung berarti kamu belum siap naik gunung, mendingan main ke mall saja, mau buang sampah gampang karena sudah disediakan tempat sampahnya. Lebih tidak repot kan? Konsekuensi naik gunung itu harus mau repot. Yang kita bisa lakukan adalah meminimalisasi kerepotan tersebut.

5. Jangan pup dan pipis di sungai!

Saya bisa pastikan bahwa kebutuhan air minum saat mendaki gunung itu luar biasa banyak. Selain memang cepat haus karena energi kita terkuras cepat saat mendaki, minum air yang cukup juga dapat menghindarkan kita dari bahaya dehidrasi. Padahal, kita hanya mampu membawa maksimal 4 botol air mineral ukuran 1 liter, sedangkan kebutuhan air minum lebih dari itu. Tidak mungkin bukan membawa segalon air mineral naik gunung? Mustahil bukan di atas gunung ada minimart? Tahukah kamu air sungai di gunung menjadi satu-satunya harapan terakhir saat air minummu habis? Bagaimana jika orang lain pup dan kencing di air sungai tersebut, sedangkan air tersebut menjadi penyelamat hidupmu? Pilih mati tapi tidak minum air yang jorok, atau bertahan hidup dengan meminum air yang terkontaminasi pup/kencing? Maka dari itu, berak dan kencing di gunung pun juga ada etikanya.

Baca juga:  Perjalanan Impian ke Bromo, Madakaripura, dan Sempu

Pup/kencing di alam liar saat mendaki gunung memang wajar. Semua makhluk hidup butuh buang air besar/kecil. Begitu juga manusia. Sangat manusiawi jika di gunung kita kebelet boker. Jika memang sudah saatnya membuang tangki kotoran di perutmu, carilah tempat yang lumayan rimbun untuk bersembunyi, agak jauh dari jalan setapak dan sumber air. Gali lubang secukupnya agar pup kamu tidak nyundul ke pantatmu. Cebok dengan tisu basah, kemudian tutup kembali lubang yang penuh pup tadi dengan tanah supaya segera terurai menjadi pupuk kandang dan tidak menjadi polusi udara hehehe… Lakukan hal yang sama jika kamu kebelet kencing, namun tidak perlu sampai menggali tanah.

6. Jangan jadi anak alay sampah as*hole motherf*cker

Kamu kira dengan mencoret-coret di gunung begini membuat kamu keren? Salah besar! Kamu memang punya bakat besar dalam coret-mencoret, tapi kamu bakal keren banget kalau bakat mencoret-coret tersebut dituangkan ke kanvas lukis.

Sampah Gunung
Grafiti norak dan sampah menjijikkan di gunung seperti ini masih ada lho di zaman orang sudah melek internet seperti sekarang.

Miris rasanya gunung kita bertaburan bungkus plastik dan segala macam sampah. Gunung yang indah menjadi tempat yang kotor dan menjijikkan. Mau tahu apa yang dilakukan oleh teman saya seorang bule dari Amrik saat mendaki ke Gunung Rinjani? Dia memunguti sampah sebisanya dan itupun lumayan banyak sampai berkantong-kantong plastik besar, berat, dan bukan sampah milik dia! Sampah tersebut berasal dari anak alay yang buang sampah sembarangan di gunung. Jika tak sanggup membawa sampah kembali saat turun gunung, jangan membawa sampah. Seriously, saya juga malas membawa sampah saat turun gunung. Berat-beratin bawaan. Jika bisa menghindari membawa plastik, hindari. Maka dari itu, siasati dengan mengemas makanan dengan membuang plastiknya terlebih dahulu di rumah. (baca bagian nomer 2)

7. Perhatikan cuaca

Hindari bulan-bulan saat musim penghujan. Sebagai pendaki pemula tentu saja kita menginginkan kesan pertama yang begitu menggoda. Hujan membuat perjuangan saat mendaki menjadi berkali-kali lipat. Jalanan becek dan licin, barang bawaan menjadi berat, sepatu basah, dan semua menjadi serba tidak asyik. Jangan hanya karena hujan, kita menjadi kapok mendaki gunung. Jangan! Kesan pertama mendaki gunung itu benar-benar tak terlupakan. Maka dari itu, sebaiknya mendaki gunung dilakukan saat musim kemarau.

Baca juga:  16 Tempat Wisata Kece di Magelang

8. Bawa Barang-barang yang Penting

Gunung yang terkenal sebagai tempat mendaki untuk pemula saja membutuhkan waktu paling tidak 5-7 jam perjalanan dari kaki gunung hingga ke puncak. Bayangkan saja kamu harus berjalan kaki menanjak selama itu dan membawa tas gunung yang superberat. Sudah membayangkannya? Berat bukan? Memang berat jika dibayangkan, tapi setelah dilakukan ternyata tidak seberat yang dikhawatirkan. Maka dari situ, kita harus bisa mensiasatinya dengan membawa barang-barang yang penting dan secukupnya saja. (Baca lebih lengkap di 15 daftar barang yang sebaiknya dibawa saat mendaki gunung).

9. Safety first

Mendaki gunung merupakan kegiatan yang berisiko tinggi. Tak usah kawatir, semua hal pasti mengandung risiko. Sebagai makhluk hidup, kita tidak bisa menghindari risiko. Yang kita bisa lakukan adalah meminimalisasi risiko berat yang terjadi pada kita. Bagaimana dengan risiko mendaki gunung? Hal yang paling utama adalah ketahui kondisi kesehatanmu sendiri. Jika terdapat penyakit kronis yang tidak memperbolehkanmu untuk beraktivitas berat, lebih baik jangan dipaksakan mendaki gunung. Bawa peralatan-peralatan penting yang sekiranya mendukung kesehatanmu. Baju hangat sangat mutlak dibawa untuk menghindari hipotermia (tubuh membeku karena kedinginan), karena di puncak gunung biasanya hawanya sangat dingin. Jika kamu merasa aman melakukan sesuatu, just do it. Jika kamu merasa ragu untuk melakukannya, just don’t. Jangan lupa melapor ke pos jaga sebelum mendaki dan melapor lagi ke pos penjaga setelah kembali.

Ada beberapa prosedur yang wajib diketahui sebelum mendaki gunung, yaitu:

1. Prosedur logistik, yaitu makanan minuman yang dibawa. Bawa dalam jumlah yang cukup.

2. Prosedur perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Bawa perlengkapan wajib naik gunung, seperti senter, jaket yang hangat dan nyaman, baju dan celana yang hangat dan nyaman, sepatu, kupluk/balaclava/syal, dan lain sebagainya.

3. Prosedur perjalanan dan prosedur darurat. Ambil risiko boleh-boleh saja, namun selalu utamakan keselamatan.

Jika memang belum siap mendaki gunung, jangan dipaksakan. Seriously, mendaki gunung itu bukan sesuatu yang mudah. Petugas di pos jaga di gunung pun selalu mewanti-wanti bahwa naik gunung itu sesuatu yang berisiko besar. Jika dalam pendakian terjadi masalah, lebih baik turun lagi. Jangan dipaksakan mendaki. Safety first, itu yang harus selalu ditanamkan di manapun juga, baik itu di gunung maupun di laut. Namun demikian, jika tidak mau naik gunung karena kekhawatiran yang enggak-enggak, hal tersebut juga sesuatu yang nonsense. Worry gets you nowhere. Cari informasi sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum naik gunung. Ikuti tip-tip naik gunung yang benar. Jika kamu sudah merasa siap, segera berangkat selagi raga masih kuat. Sekali kamu naik gunung dan tidak ada masalah yang berarti, dijamin bakal ketagihan naik gunung lagi! Saya saja yang dua kali naik gunung dan cedera lumayan berat masih ketagihan kok. Yuk… naik gunung yuk…

SHARE

12 COMMENTS

  1. Tips yang bermanfaat buat yang ingin mencoba mendaki gunung! bagaimanapun, meski gunungnya keliatan gampang, enggak boleh santai dan meremehkan. Masalah cuaca apalagi, kan kalau kedinginan di gunung bisa bikin hipotermia! Selain itu paling benci sama pendaki alay yang suka buang sampah sembarangan 🙁 kasian gunungnya euy~

  2. Ini tips yang bermanfaat banget…
    Syukur dpt tips kayak gini, jadinya tggal persiapkan diri n peralatan yang perlu di bawa aj…

    Thanks yah suumpah ini bermanfaat banget…

LEAVE A REPLY