Suatu Musim Panas di Tybee Island

0
Tybee Island

“Life is a mirror and will reflect back to the thinker what he thinks into it.” –  Ernest Holmes

Savannah, USA. Jika mendengar kata Tybee Island, dalam benak kita pasti membayangkan sebuah pulau bernama Tybee karena ada embel-embel “Island” dibelakang namanya. Bukan, bukan Chelsea Island si artis cantik itu. Tapi “island” yang dibaca “ailen” #diperjelas.  Tybee Island adalah sebuah pulau yang bukan “pulau”. Nah bingung kan? Eh… sebelum kita lanjutkan cerita tentang Tybee Island, kita sepakat arti kata pulau/island terlebih dahulu yuk. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “pulau” merupakan tanah (daratan) yg dikelilingi air (di laut, di sungai, atau di danau). Sedangkan menurut Oxford dictionary, “island” berarti a piece of land surrounded by water atau tanah yang dikelilingi oleh air. Contohnya banyak, seperti Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Lombok, sampai dengan pulau terbesar di dunia yaitu Pulau Greenland. Daratan pulau tersebut terpisah oleh air dengan daratan lainnya. Kalau Tybee Island sendiri bagaimana? Apakah memenuhi definisi tersebut?

Aren’t you somethin’ to admire?
‘Cause your shine is somethin’ like a mirror
And I can’t help but notice
You reflect in this heart of mine

Lagu yang berjudul Mirror dari Justin Timberlake yang diputar di radio tersebut menghentikan canda tawa kami di mobil selama 4 perjalanan dari Atlanta menuju Tybee Island. Kamipun bernyanyi bersama mengikuti alunan lagu Mirror sampai selesai. Lalu, canda tawa kami lanjutkan selama perjalanan yang lumayan panjang tersebut. Beberapa menit kemudian, intro musik yang sangat familiar muncul lagi. Yup, apalagi kalau bukan lagu favorit kami tersebut. Kamipun berhenti bercanda dan kembali bernyanyi bersama sampai selesai.

‘Cause I don’t wanna lose you now
I’m lookin’ right at the other half of me
The vacancy that sat in my heart
Is a space that now you hold
Show me how to fight for now
And I’ll tell you, baby, it was easy
Comin’ back here to you once I figured it out
You were right here all along

Nggosip, ketawa-ketiwi, nyanyi, repeat. Itulah yang kami lakukan bersama dalam mobil. Beberapa menit kemudian muncul lagi lagu Mirror. Waktu itu, lagu ini memang sedang ngehits banget. Kami serempak bernyanyi bersama lagi. Beberapa menit kemudian, muncul lagu ini lagi dan lagi dan lagi dan lagi sampai bosan. WHAT!!! Kami memang menyukai lagu ini, tapi gak segitunya juga muncul berkali-kali di stasiun radio yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Gokil, itulah satu kata yang pantas untuk stasiun-stasiun radio di Amerika Serikat. Penyiarnya memang tak banyak bicara, sehingga lagu yang diputar lebih sering. Tapi lagu-lagu yang diputar ya itu-itu mulu. Pagi, siang, sore, malam, playlist lagu yang dimainkan selalu sama. Awalnya memang menyenangkan karena lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang baru dan sedang populer-populernya. Namun, lama-kelamaan bosan juga mendengar lagu yang sama diputar berulang-ulang. Sepertinya, menjadi penyiar di Indonesia lebih berat dibanding menjadi penyiar radio di Amerika Serikat karena harus banyak bicara dan harus bisa membawakan suatu topik yang sedang hangat-hangatnya.

Baca juga:  Pride Atlanta: Salah Satu Festival LGBT Terbesar
Jalan Raya di Amerika Serikat
Perjalanan kami melalui jalan raya antar kota antar negara bagian di Amerika Serikat yang sangat mulus

Okay, kita lanjut lagi ke Tybee Island. Lelah sebenarnya menempuh perjalanan yang lumayan panjang tersebut. Namun, setelah sampai di Tybee Island, semangat kita kembali bangkit. Balik lagi ke topik awal tadi, sebenarnya Tybee Island ini pulau atau bukan sih? “Pulau” ini memang mempunyai pantai dan sungai, namun daratannya tidak terpisah dengan daratan lainnya. Tanah Tybee Island masih menyatu dengan Benua Amerika. Menurut saya, seharusnya sih tidak bisa disebut pulau ya. Namun demikian, sampai sekarang namanya tetap bertahan dengan sebutan Tybee Island. Ya sudahlah ya. Pulau ini dinamai demikian oleh suku Indian yang pertama kali mendiami kawasan ini. Nama Tybee sendiri berasal dari bahasa Indian Euchee yang berarti “garam”.

Pantai di Tybee Island memang indah. Pasirnya berwarna putih (walaupun tidak putih-putih amat sih) dan lembut. Jika pernah mengunjungi Pantai Kuta Bali atau Pantai Sawarna, ya seperti itulah jenis pasir pantainya. Bedanya, ombak di pantai Tybee Island cenderung datar, tak seperti ombak di Pantai Kuta Bali atau Sawarna yang besar.

Tybee Island berada di dekat kota Savannah, negara Bagian Georgia, Amerika Serikat. Lokasi persis “pulau” ini berada di sekitar koordinat 32.003378, -80.842786. Pantai yang merupakan ujung paling timur negara bagian Georgia ini secara langsung menghadap Samudera Atlantik. Sesampainya di pantai, kamipun segera bergegas menggelar tikar, meletakkan barang-barang kami di tikar tersbut, terus nyebur deh ke laut. Yay… Perasaan kami senang bukan main karena itu adalah kali pertama kami berenang di Samudera Atlantik. Airnya yang cenderung tenang membuat kami keasyikan berenang di lautan. Ehm.. Lebih tepatnya mengambang di tengah laut sambil bergosip sih hehehe…

Baca juga:  Pantai Nampu dan Pantai Indah Lainnya di Wonogiri

Sekali lagi, walaupun pantai ini indah, jangan pernah membandingkannya dengan pantai-pantai di Indonesia ya. Kalah telak! Jauh lebih bagus pantai-pantai di Indonesia. Tapi suasana yang berbeda membuat pantai ini begitu menarik. Banyak sekali burung camar dan spesies burung lain yang terbang bebas di angkasa. Di sana memang dilarang keras menangkap hewan liar tanpa izin pemerintah yang berwenang. Sehingga, tak heran burung-burung di pantai ini begitu banyak jumlahnya. Dan seperti biasa yang kita lihat di film-film Hollywood, selalu ada pier menjorok ke laut yang dibangun di pantai.

pier pantai
Pier dan burung-burung camar di Pantai menjelang sore itu

Di Tybee Island juga terdapat mercusuar kuno yang dibangun pada tahun 1736. Mercusuar setinggi  27 meter ini terbuat dari batu bata dan kayu. Dengan tinggi seperti itu, mercusuar ini pernah menjadi bangunan tertinggi di Amerika saat itu. Tingginya memang tak lebih tinggi dari menara seluler atau  BTS. Tapi pada masa itu? Tentu saja menjadi sesuatu yang WOW. Kira-kira, Indonesia pada tahun tersebut seperti apa ya?

Tybee Island
Mercusuar Tybee Island di balik ilalang pada suatu senja

Pantai di Tybee Island juga menjadi rumah bagi reptil laut yang terancam punah (endangered species), Penyu Tempayan atau Loggerhead Turtle (Caretta caretta). Setiap tahun, induk penyu akan mendatangi pantai ini untuk menggali pasir dan membuat sarang bagi telur-telurnya. Setelah bertelur dan menguburnya dengan pasir, sang induk penyu akan kembali lagi mengarungi samudera Atlantik. Telur-telur ini ditinggal begitu saja di bawah pasir pantai. Tak ada yang mengerami, tak ada yang menjaga. Setelah 60 hari, telur penyu akan menetas dan lahirlah penyu-penyu kecil atau yang biasa disebut tukik. Perjuangan hidup mereka yang keras tak sampai di sini. Mereka harus kembali ke habitatnya di lautan Atlantik. Biasanya, hanya 1 dari 3000 penyu yang dapat bertahan hidup hingga dewasa. Hidup menjadi seekor penyu memang begitu berat. Ketika masih di dalam telur, mereka sudah yatim piatu ditinggal orang tuanya. Begitu lahir, mereka harus belajar berenang sendiri, mencari makan sendiri, dan menghadapi predator-predator yang siap memangsanya. Wajar jika hanya ada 1 dari 3000 tukik yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Jadi, mulai dari sekarang, pikir-pikir dulu deh jika hendak memakan telur penyu. Masih tega gitu memakannya?

Baca juga:  Baluran: Padang Rumput di Ujung Timur Pulau Jawa

It’s like you’re my mirror
My mirror staring back at me
I couldn’t get any bigger
With anyone else beside of me
And now it’s clear as this promise
That we’re making two reflections into one
‘Cause it’s like you’re my mirror
My mirror staring back at me, staring back at me

(Mirror – Justin Timberlake, 2013)

Foto-foto Tybe Island Lainnya

SHARE

LEAVE A REPLY