Anak Gaul Pasar Santa

0
Pasar Santa

“You now have to decide what ‘image’ you want for your brand. Image means personality. Products, like people, have personalities, and they can make or break them in the market place.” – David Ogilvy

Jakarta. Pasar Santa, nama sebuah pasar yang hampir tenggelam di tengah hiruk pikuk pusat perbelanjaan di Jakarta. Bahkan, sebelum pusat perbelanjaan modern begitu menjamur pun gaung nama pasar ini kurang begitu terdengar. Kemudian, tiba-tiba banyak orang membicarakan Pasar Santa di media sosial dengan hashtag #jajandipasar #anakpasar yang menampilkan foto-foto aneka makanan yang menggoda lidah. Akhirnya, saya pun penasaran untuk mengunjungi pasar ini.

Walaupun letaknya di pusat kota Jakarta, bukan berarti pasar ini memiliki lokasi yang strategis di pinggir jalan raya. Dari jalan besar Jl. Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan, kita masih harus masuk lagi ke jalan yang lumayan kecil untuk menuju ke Pasar Santa. Lokasi persis pasar ini berada di koordinat -6.239861, 106.812115.

Kehebohan Pasar Santa di internet memunculkan ekspektasi yang tinggi bagi saya terhadap pasar ini. Tetapi ekspektasi tersebut sirna ketika memasuki gerbang Pasar Santa. Jalan menuju parkiran begitu hancur, sumpek, dan banyak air menggenang! Saya pun masuk dan mencari tempat parkir motor. Nihil. Tak ada pengelola parkir resmi. Para pengunjung hanya memarkir motor/mobil di sebelah pasar saja tanpa pengelolaan parkir yang bagus, tanpa karcis parkir, dan tanpa penjagaan. Awalnya, saya mengira tarif parkirnya gratis. Ternyata sewaktu saya mau pulang, ditarik uang parkir oleh orang berompi kuning. Hadeuh…

Desain eksterior Pasar Santa amat sangat biasa. Kotak seperti pasar-pasar tradisional pada umumnya. Bau pesing khas pasar tradisionalpun menyeruak tatkala memasuki pasar ini. Memasuki lantai dasar, juga tampak pemandangan kios-kios yang mirip kios-kios di pasar tradisional pada umumnya. Di bawahnya, atau di lantai basement, banyak penjual sayuran yang menjajakan barang dagangannya. Pokoknya, suasananya benar-benar mirip pasar pada umumnya deh. Namun, ketika kaki menginjakkan tangga menuju lantai dua, kemeriahan yang banyak orang-orang tampilkan di sosial media tampak begitu nyata!

Baca juga:  Berburu Sate Buntel di Solo

Para anak muda gaul Jakarta tampak memadati area “gaul” di lantai dua Pasar Santa. Panasnya suhu di dalam ruangan pasar tak menyurutkan para anak muda ini untuk mengantre di kios-kios di Pasar Santa. Padahal, beberapa kipas angin sudah dipasang di dalam pasar lho, tapi tetap saja masih terasa lumayan gerah. Bukan hanya pengunjungnya yang tampak gaul, desain kios, penjual, dan barang yang dijual pun juga bernuansa “gaul” khas anak muda jaman sekarang. Banyak sekali kios yang menjual makanan unik dan kontemporer, sebut saja es durian cendol nuttela, black hot dog, dan lain sebagainya. Rasa dan harganya? Sejauh ini masih enak dan memuaskan. Yummy.

Es Cendol Durian
Es Cendol Durian

Selain makanan, para anak muda di Pasar Santa juga menggelar barang dagangan berupa distro dan galeri seni. Beberapa penjualnya malah masih berstatus siswa SMU di Jakarta. Ngehits-nya Pasar Santa pun membuat harga kios di Pasar Santa melonjak tinggi. Dulu, ketika pasar ini masih sepi, sewa kios di Pasar Santa hanya sekitaran Rp3,5juta/bulan. Sekarang? Kabarnya harus menunggu 3 tahun untuk bisa mendapatkan kios di “area gaul” Pasar Santa. Itupun dengan harga sewa yang sudah berkali-kali lipat!

Pasar Santa
Galeri seni Art Box di lantai dasar Pasar Santa

Above all, para anak muda ini layak diacungi jempol untuk kreatifitasnya menghidupkan pasar yang hampir mati ini. Nongkrong di pasar pun bukan menjadi hal yang memalukan lagi sekarang. Dulu orang boleh bilang “Loe gak gaul kalo gak nongkrong di mall”, sekarang orang bisa bilang  “Loe gak gaul kalo gak nongkrong di pasar” hehehe… Yuk ah ke Pasar Santa.

Follow

Twitter : @puppytraveler

Instagram: @puppytraveler

Facebook: Puppy Traveler

SHARE

LEAVE A REPLY