Kami Tahu Daerah Petak Sembilan Justru dari Bule

0
Pecinan Petak Sembilan Jakarta
“A wise man can learn more from a foolish question than a fool can learn from a wise answer.” – Bruce Lee

Jakarta. “Memang Will mau jalan ke mana?” Tanya saya ke salah seorang teman saya. “Dia pengen ke Petak Sembilan” jawab dia. “Hah? Petak Sembilan? Di mana tuh?” “Gue sendiri juga baru denger” “Ya sudah, ntar gue googling trus kita cari di google maps deh”

Demikian obrolan saya dengan teman saya ketika Will, teman kami seorang bule dari Amerika Serikat sedang berkunjung ke Indonesia. Kami yang boleh dibilang sudah lebih dari satu dekade tinggal di Jakarta benar-benar dibuat kelabakan oleh keinginan teman kami tersebut. Kami tidak tahu di mana letak Petak Sembilan! Memalukan banget gak sih? Hehehe…

Masih dalam rangka memperingati Imlek, saya akan bahas satu daeran pecinan (China Town) di Jakarta yang bernama daerah Petak Sembilan. Ketika memasuki daerah ini, nuansa Tionghoa sangat terasa sekali, mulai dari rumah, tempat ibadah, penduduk, sekolah, sampai dengan tukang becak. Bukannya rasis ya, tapi ini memang pertama kalinya saya melihat tukang becak yang berasal dari etnis Tionghoa, kalau saya boleh cerita.

Usut punya usut, setelah mencarinya di google maps, ternyata lokasi Petak Sembilan berada di belakang Glodok. Saya memang sering ke Glodok untuk membeli peralatan elektronik. Tapi mengapa baru sekarang saya tahu ada daerah pecinan bernama Petak Sembilan di sini?

 Petak Sembilan merupakan bagian dari jalan kemenangan di belakang Pertokoan Glodok.  Dahulu  kompleks rumah di kawasan ini dibagi-bagi menjadi petak-petak yang berjumlah Sembilan, sehingga kawasan ini pun terkenal dengan sebutan “Petak Sembilan”. Tempat yang biasa dikunjungi di Petak Sembilan antara lain klenteng Kim Tek Ie/Jin De Djuan, Toko Obat Karti Djaja, Pembuatan Kue Bulan Viki, Gereja Maria de Fatima, klenteng Fat Cu Kung Bio, klenteng Tang Seng Ong, Rumah Keluarga Wongso, Klenteng Toa Se Bio, dan Kawasan kuliner Gang Gloria.

Baca juga:  Cave Tubing Gua Kalisuci

Waktu itu kami mengunjungi klenteng Kim Tek Ie/Jin De Djuan (koordinat lokasi -6.143918, 106.812575), sebuah klenteng tua yang dibangun sekitar tahun 1650. Semerbak harum dupa menyentil indera penciuman tatkala memasuki klenteng ini. Kabarnya, klenteng ini digunakan oleh 3 ajaran agama: Tao, Khonghucu, dan Buddha. Rukun ya? Karena penasaran, kami bertanya kepada seorang penjaga di depan pintu “Bapak, boleh kami masuk?” “Oh silakan saja” Jawab bapaknya dengan ramah. Kami pun masuk ke dalam klenteng dan ternyata banyak orang Tionghoa yang sedang khusyuk beibadah. Tak banyak foto yang bisa saya abadikan dan saya bagi di sini. Kami tahu diri bahwa mereka sedang sembahyang, sehingga kami juga tidak mau mengganggu mereka. Kami hanya ingin mengamati tata cara mereka sembahyang. Tak perlu mengambil foto. Itupun kami sangat bersyukur masih diperbolehkan masuk.

FYI, sebelum ke Jakarta, teman saya Will terlebih dahulu berkunjung ke Taiwan. Dari raut mukanya, sepertinya dia tampak kurang puas jalan-jalan di Petak Sembilan. Mungkin sebelumnya, dia mempunyai ekspektasi sebuah pecinan indah seperti yang dilihatnya di Taiwan. Ternyata tidak. Nuansa China memang begitu terasa di Petak Sembilan. Namun, harus diakui memang kawasan ini  kurang begitu terawat. Semarak “pecinan”nya masih kalah gaung dengan pecinan di luar negeri.

Ada satu hal yang membuat Will tersenyum, yaitu ketika kami melewati sebuah selokan di dekat Glodok. Kalau boleh saya bilang, ini bukan selokan, tapi aliran limbah. Airnya sangat hitam dan pekat! Ditambah lagi dengan tumpukan sampah yang menggenang di limbah hitam kental tersebut. Herannya, ada beberapa orang yang memancing di selokan hitam tersebut! Wow… Kami sempat berfikir, memang ada ikan yang bisa hidup di selokan yang superpekat itu? Mungkin yang mereka pancing bukan ikan, tapi monster limbah… Hehehe… Setidaknya dia tahu bahwa hal unik seperti ini tak bakal dia temukan di pecinan manapun di dunia! Hehehe…

Baca juga:  10 Hal yang Bikin Bintan Jadi Pulau Paling Keren!
SHARE

LEAVE A REPLY