Sawah Jaring Laba-laba di Cancar, Flores

2
“The web of life, love, suffering and death unites all beings.” – Alex Grey

Cancar, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Selalu ada hikmah dari suatu peristiwa. Waktu berkunjung ke Ende di Nusa Tenggara Timur, tiba-tiba Gunung Sangeang di Pulau Bima meletus. Akibat dari letusan Gunung Sangeang, pesawat dari dan menuju Ende tidak ada sama sekali. Akhirnya kami harus melalui perjalanan darat yang amat sangat jauh dari Ende ke Pulau Bali. Dalam perjalanan tersebut, kami mengunjungi beberapa kota, di antaranya Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Tak disangka, ternyata Ruteng memiliki tempat wisata yang luar biasa indah, salah satunya adalah sawah berbentuk seperti jaring laba-laba (spider web rice field)  yang mirip crop circle!

Daerah subur Ruteng menjadi lumbung padi Nusa Tenggara. Di dekat Ruteng, terdapat pedesaan bernama Cancar yang juga menjadi area persawahan. Tak seperti area persawahan pada umumnya di Indonesia (maupun di belahan dunia lainnya), bentuk sawah di Cancar, Ruteng sangatlah unik. Jika dilihat dari dekat, bentuknya hampir sama dengan area persawahan pada umumnya. Namun, jika dilihat dari atas, area persawahan di Cancar berbentuk seperti jaring laba-laba. Beruntung area persawahan di Cancar dikelilingi oleh perbukitan, sehingga pengunjung seperti diberi tempat yang terbaik untuk melihat sawah jaring laba-laba. Jumlah sawah jaring laba-laba tak hanya satu lho, tapi banyak!

Mengapa Sawah di Cancar Berbentuk Jaring Laba-laba?

Ternyata, bentuk sawah yang menyerupai jaring laba-laba tersebut merupakan tradisi adat masyarakat Kabupaten Manggarai dalam hal pembagian lahan sawah dan kebun yang disebut dengan lingko. Lingko adalah tanah adat yang dimiliki bersama dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama. Tanah adat ini dibagikan pada anggota mayarakat sesuai ketentuan adat. Lingko ini diberi nama sesuai jenis tumbuhan saat dibukanya lahan lingko tersebut. Atau bisa juga diberi nama sungai di dekat lingko saat lingko dibuka.

Sawah jaring laba-laba dilihat dari Google Earth)
Sawah jaring laba-laba dilihat dari Google Earth)

Pertama-tama, pembagian tanah adat dilakukan dengan menentukan titik pusat (disebut dengan teno/lodok). Pada titik pusat ditanam kayu khusus. Dari titik tersebut, ditarik garis menjauh, baru kemudian tanah tersebut dibagi-bagi. Besar kecilnya pembagian tanah ditentukan oleh kedudukan seseorang dalam kampung dan jumlah keluarga. Semakin tinggi kedudukan seseorang dan semakin besar jumlah anggota keluarga, semakin besar pula tanah yang di dapat. Tanpa disadari, pembagian tanah adat seperti ini malah membentuk sawah seperti jaring laba-laba jika dilihat dari atas.

Halaman berikutnya, lokasi dan cara menuju sawah jaring laba-laba spider web Cancar

Baca juga:  Pantai Ambalat, Kutai Kartanegara. Pernah ke Sini?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY