Tanjung Ringgit, Ujung Tenggara Pulau Lombok

0
Tanjung Ringgit Lombok
“Everything has beauty, but not everyone sees it.” – Confucius

Tanjung Ringgit, Lombok. Ujung, ketika sebuah perjalanan jauh telah mencapai ujung. Ketika tak mungkin lagi kita menambah perjalanan karena di depan adalah aral melintang. Apa yang harus kita lakukan? Berhenti dan bersyukur bahwa kita telah melalui perjalanan ini? Ataukah akan terus melaju menerabas semua tantangan di depan kita. Ya, ini adalah perjalanan yang begitu berat menuju ke Tanjung Ringgit, tebing elok di ujung tenggara Pulau Lombok

Berat, begitu berat perjalanan menuju sesuatu yang kita impikan. Impian yang telah lama tertanam di benak kita. Ya, tanaman kering seolah-olah berpagar betis menyambut setiap inci perjalanan kita menuju impian itu. Apakah kita menyalami tanaman tersebut satu persatu? Tidak. Kita bahkan dengan sombongnya melewati tanaman-tanaman kering itu. Menoleh pun tidak. Taukah kamu bahwa mereka telah lama menunggumu. Menunggumu hingga mereka menjadi kering dan gersang. Gersang menunggu cinta yang tak kunjung tiba. Dan ketika saat itu tiba, cinta itu datang, namun hanya berlalu begitu saja.

Tanjung Ringgit
Perjalanan menuju Tanjung Ringgit yang kering dan gersang serta jalanan yang tak beraspal

Gua Jepang. Begitulah mereka menyebut gua di Tanjung Ringgit, yaitu Gua Jepang. Jepang yang saat jaman perang berada di mana-mana. Di mana-mana pun terdapat gua. Mengapa kita harus menempuh perjalanan sejauh ini hanya untuk melihat sebuah lubang bumi. Apakah lubang kecil di tanah pekaranganmu tidak begitu mempesona hingga kau harus menempuh perjalanan sejauh ini untuk melihat sebuah lubang jua? Tapi mengapa kau selalu saja mencari lubang yang baru? Ataukah sebenarnya kamu menyembunyikan niat tertentu dengan kedok mencari sebuah gua?

Sumur air tawar. Begitulah sebutan sumur yang mereka cari di Tanjung Ringgit. Air tawar, bukankah setiap hari kita selalu meminumnya? Meminumnya dan tubuh rapuh ini merubahnya menjadi sesuatu yang tidak murni lagi. Tidak murni menjadi asin peluh. Peluh yang membantumu memberi daya tuk melakukan perjalanan berat itu. Dan ketika kau sampai ke ujung perjalanan itu, bertemu dengan sumber air tawar itu, apakah kau akan tetap meminumnya? Apakah kau akan membasuh tubuhmu dengan air itu dan membuat air itu tidak murni lagi. Mengapa kau tidak membasuh tubuhmu ke dalam lautan saja sehingga peluh itu hanyut bersama peluh bumi yang bernama samudera.

Baca juga:  Snorkeling di Pantai Senggigi, Lombok
Tanjung Ringgit
Ujung Tebing Tanjung Ringgit seolah-olah memberitahu kita bahwa kita sudah berada di ujung pulau Lombok

Pohon surga. Begitulah mereka menyebut pohon di Tanjung Ringgit ini. Apakah pohon ini berasal dari surga? Ataukah seluruh pohon di bumi kau sebut pohon neraka sehingga kau menyebut pohon ini sebagai pohon surga? Surga, mungkin pohon ini bisa meluruhkan dosa kita. Jika demikian adanya, biarkan tubuhku bercinta dengan pohon surga. Biarlah pohon neraka menjadi kesepian karenanya.

Mercusuar kuno peninggalan Belanda. Belanda, begitulah sebutan buku sejarah untuk penjajah bumi pertiwi. Kalau mereka menjajah, mengapa mereka membangun mercusuar? Taukah kau mentari tak sudi menemani kita sepanjang hari? Taukah jika sang surya bosan, ia akan meninggalkan kita begitu saja, tenggelam di birunya cakrawala. Cakrawala itu kemudian memerah dan tak lama kemudian menghitam. Kala itu tiba, keindahan itu sirna. Langit begitu gelap dan hitam. Bintang pun membutuhkan jutaan tahun cahaya untuk memberikan cahayanya ke bumi. Sedangkan kita hanya punya waktu satu malam menunggu cinta sang mentari kembali. Mercusuar. Ya, hanya mercusuar yang bisa membantu kita. Kita yang sedang berada di suatu kegelapan lautan mencari tempat berlabuh. Tapi mengapa justru penjajah itu yang membantu kita membangun mercusuar? Bukankah mereka seharusnya begitu jahat menjajah kita seperti yang diceritakan buku sejarah itu?

Meriam kuno Tanjung Ringgit. Mereka menyebutnya sebagai meriam kuno peninggalan Jepang. Jepang yang oleh buku sejarah juga diceritakan sangat keji. Sekeji itukah mereka menggunakan meriam di tanjung ini. Untuk menghancurkan apa dan siapa? Bahkan sampai sekarang pun tak ada penduduk yang mendiami ujung tandus ini. Ataukah justru mereka menggunakan meriam itu untuk melindungimu. Melindungimu dari kehancuran. Kehancuran dari hati yang hancur karena tidak hati-hati menggunakan hati.

Baca juga:  Kuliner Tak Populer di Jakarta

Pada akhirnya kita akan berhenti di suatu titik. Titik di mana kita harus kembali ke pangkal perjalanan karena kita tidak tahu kemana lagi kaki ini harus melangkah, titik ujung di mana kita berhenti karena kita begitu lelah dengan perjalanan dan melihat suatu pencapaian yang luar biasa, atau titik di mana ujung ini berubah menjadi pangkal kita untuk memulai suatu perjalanan baru. Ya, perjalanan baru menuju impian baru.

Gila ye, akhirnya gue bisa mendramatisir tulisan dengan gaya Cakra Khan. Next, halaman selanjutnya kita akan membahas lokasi, transportasi, rute, dan cara menuju Tanjung Ringgit.

1
2
SHARE

LEAVE A REPLY