Kuta Lombok, Sebuah Dilema

0
Pantai Kuta Lombok

“Somewhere in the world there is an epigram for every dilemma.” – Hendrik Willem Van Loon

Pantai Kuta, Lombok. Kesorean. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kunjungan saya ke Pantai Kuta Lombok. Bagaimana tidak, dua kali mengunjungi Pantai Kuta Lombok dan selalu saja hanya bisa menikmati senja di pantai yang digadang-gadang bakal menjadi pusat wisata baru Lombok ini. Apakah kesorean yang saya alami adalah sebuah kutukan ataukah suatu kesengajaan sehingga selalu saja tak bisa menikmati keindahan Pantai Kuta Lombok siang hari.

Kami memang terkesan menomorduakan Pantai Kuta sehingga selalu saja datang kesorean di Kuta Lombok. Pertama kali datang kesini, kami datang kesorean karena kami terlalu lama mengunjungi toko yang menjual perhiasan dari mutiara di Mataram. Akibatnya, agenda jalan-jalan ke Kuta Lombok meleset dari itinerary yang telah kami buat sebelumnya. Kedatangan kedua memang faktor kesengajaan dan keterbatasan waktu. Ya, target kami waktu itu adalah mengunjungi pantai-pantai indah di Lombok dan mengunjungi 3 gili (Gili Nanggu-Gili Kedis-Gili Sudak). Akibatnya, walaupun kami menginap di Kuta Lombok tapi jalan-jalan di Kuta Lombok agak terabaikan.

Senja di Pantai Kuta
Senja di Pantai Kuta

Namun bukan berarti senja di Pantai Kuta Lombok tidak dapat di nikmati. Sunset di Pantai Kuta Lombok juga indah kok. Siluet keemasan langit karena sang surya mau beristirahat malam tampak begitu indah di Pantai Kuta. Dengan garis pantainya yang panjang, banyak sisi-sisi Kuta yang menarik sebagai objek fotografi..

Pasir merica adalah ciri khas Pantai Kuta Lombok dan sekitarnya. Sesuai dengan sebutannya, pasir merica mempunyai bentuk seperti merica. Bulat sempurna. Dan pasir seperti ini hampir menguasai bibir Pantai Kuta Lombok. Sampai sekarang saya masih penasaran mengapa pasir di Kuta Lombok berbentuk mirip merica.

Baca juga:  Sajak Laut Kaliantan
Pasir Merica di Pantai Kuta
Pasir Merica di Pantai Kuta

Kami menjadikan Pantai Kuta sebagai markas kami sebelum berkunjung ke pantai-pantai indah di Pulau Lombok. Waktu itu kami menginap di penginapan Matahari dengan tarif Rp170.000/kamar/malam. Penginapan ini kamarnya sangat luas. Jika bisa digunakan ramai-ramai, lumayan bisa menghemat biaya jalan-jalan lho. Selain lumayan banyak penginapan, di Pantai Kuta Lombok juga tersedia banyak rumah makan dan toko-toko kelontong/cinderamata.

Sewa motor di Pantai Kuta Lombok juga mudah. Tinggal hubungi pihak hotel, maka mereka akan mencarikan kita motor untuk jalan-jalan. Demikian pula dengan sewa mobil di Kuta Lombok. Tinggal berkeliling saja di sekitar pantai ini atau hubungi pihak hotel, maka mereka akan membantu kita mencarikannya. Tarif sewa motor di Kuta Lombok waktu itu Rp50.000/hari. Lumayan murah kan? Sedangkan tarif sewa mobil di Kuta Lombok yang kami gunakan waktu itu adalah Rp550.000 termasuk sopirnya. Kita harus menyewa mobil/motor mengingat waktu kita sangat terbatas, sehingga dengan menyewa mobil/motor perjalanan akan menjadi lebih fleksibel kemana-mana dengan waktu yang terbatas tersebut.

Yang agak kurang dari Pantai Kuta Lombok adalah pedagang cinderamata yang sangat mengganggu. Mereka akan mendekati kita dengan muka dan cara bicara yang sangat memelas. Ya, mereka memang mencari uang untuk hidup. Wisatawan pun kalau tertarik juga bakal membeli cinderamata kok. Tapi wisatawan juga berhak menikmati keindahan Pantai Kuta Lombok dengan tenang dong ya.

Akankah dilema itu bakal terus ada…

Antara menikmati Pantai Kuta atau menjadikan pantai ini sebagai markas saja untuk mengunjungi pantai-pantai lainnya.

Antara mengabaikan pedagang cinderamata karena mereka annoying atau membeli dagangan mereka karena mereka juga butuh makan juga.

Halaman selanjutnya, lokasi dan cara menuju Pantai Kuta, Lombok

Baca juga:  (Agak Sial) Saat Berkunjung di Pulau Lengkuas, Belitung
1
2
SHARE

LEAVE A REPLY