Skydiving di Ketinggian 14 Ribu Kaki

2

 “Time is flying never to return.”- Virgil

Cedartown, Georgia. Bagaimana sih rasanya jatuh dari pesawat di ketinggian 14 ribu kaki atau sekitar 4,5 kilometer di atas permukaan bumi? Bagaimana rasanya berada di atas awan tapi diluar pesawat? Bagaimana pula rasanya jatuh dari atas pesawat dengan kecepatan 120mph atau sekitar 193km/jam? Mengerikan? Hmm… Tidak juga, lebih mengerikan melihat pocong malahan 😀 (Follow juga Twitter  @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)

Skydiving

Skydiving atau terjun payung adalah salah satu atraksi yang diawali dengan menaiki pesawat, kemudian menjatuhkan diri di ketinggian tertentu, selanjutnya terbang dengan menggunakan parasut, dan diakhiri dengan landing kembali ke bumi di mana tempat kita berpijak. Boleh saja sih kalau mau diartikan secara harfiah menyelam di angkasa hehehe (sky: angkasa, diving: menyelam). Untuk skydiver pemula seperti saya, diwajibkan untuk menggunakan tandem seorang penerjun payung profesional. Jadi, tubuh kita terikat erat di depan tandem yang akan mengarahkan semua prosedur terjun payung. Tugas kita hanya menikmati serunya skydiving.

Akhir-akhir ini, olah raga ini banyak digandrungi oleh orang-orang Amerika. Setiap kali melihat profil teman-teman Amerika, banyak di antara mereka yang memajang foto skydiving. Pertanyaan yang selalu terbesit di benak saya adalah: “Kok mereka berani ya? Sudah bosan dengan hidup?” Sampai pada akhirnya saya putuskan untuk mengikuti jejak mereka berpetualang di atas angkasa.

Terbang Dengan Pesawat Kecil yang Terbuka

Hal pertama yang membuat saya takut adalah saat pendaftaran skydiving dan hari-hari menjelang skydiving. Saya merasa sangat bodoh mempertaruhkan nyawa hanya untuk kenikmatan sesaat (yang ternyata pada akhirnya kepuasannya benar-benar everlasting). Hal kedua yang membuat saya sedikit takut adalah sewaktu mau naik pesawat. Ini pertama kalinya saya naik pesawat kecil yang lebarnya hanya selebar kepakan tangan, duduk dibangku kayu tanpa seat belt, dan terbang dengan pintu dibiarkan terbuka!

Baca juga:  Konser Third Eye Blind (Live @ Tabernacle, Atlanta)
Skydiving
Sesaat setelah keluar dari pesawat (Follow juga Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)

Setelah pesawat take off, angin berhembus masuk dari pintu yang dibiarkan terbuka dan saya hanya bisa berharap supaya tubuh cungkring saya ini tidak terbawa angin keluar hehe. Hal yang saya rasakan adalah pasrah, menyerahkan sepenuhnya nasib pada sang pilot dan Yang di Atas.

Free Fall

Free fall adalah saat di mana kita keluar dari pesawat kemudian menjatuhkan diri ke bawah tanpa parasut. Ini bagian yang awalnya membuat banyak orang yang pertama kali skydiving ketakutan. Bayangkan saja kita jatuh dari pesawat kecil di ketinggian 14 ribu kaki dengan kecepatan 193km/jam tanpa peralatan apapun. Benar-benar wisata gravitasi!

Setelah saya mencobanya sendiri, ternyata rasanya tidak semengerikan yang saya bayangkan sebelumnya. Hal ini karena bumi tampak masih sangat jauh di bawah sedangkan kita masih terbang melayang di angkasa. Jantung saya malah lebih berdegup kencang saat naik roller coaster dibanding skydiving. Selama free fall, fotografer dan videografer menyuruh kita bergaya bebas semau kita (liat video dibawah kalau ingin melihat gaya cupu saya di atas udara selama free fall hehehe).

Skydiving
Free fall, jatuh dari pesawat di ketinggian 14 ribu kaki (Follow juga Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)

Parasut

Setelah di ketinggian tertentu, tandem akan membuka parasut yang membuat tubuh kita rasanya seperti ditarik dengan tenaga yang kuat. Di saat inilah kita jatuh dengan pelan-pelan dan menikmati pemandangan indah dari atas. Terkadang tandem melakukan manuver atau kita bisa minta melakukan manuver membelokkan parasut ke kiri dan ke kanan. Nikmatnya hampir sama seperti naik pesawat. Bedanya, dengan terjun payung, posisi kita berada di luar pesawat menikmati pemandangan di bawah disertai dengan semilir angin menyapu muka. Life is good!

Skydiving
Terbang melayang di atas awan (Follow juga Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)

Setelah parasut dibuka, hal yang saya pikirkan adalah “Free fall-nya masih kurang!!!”. Apa daya kalau ditambah free fall-nya, yang ada malah bukan terjun payung tapi ambles ke tanah hehehe…

Baca juga:  Gatlinburg, Kota di Belantara Smoky Mountains
Terjun payung dengan parasut
Terjun payung dengan parasut (Follow juga Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)

Landing

Di akhir episode skydiving, parasut secara perlahan mengantarkan kita kembali ke permukaaan bumi. Seolah berkata “Kembalilah ke fitrahmu sebagai manusia, bukan sebagai burung”. Tak kalah dengan free fall dan terjun dengan parasut, landing juga merupakaan saat yang menyenangkan. Selain rasa syukur yang luar biasa karena masih diberi keselamatan, kita juga merasakan kepuasan maksimum karena berhasil menaklukkan rasa takut.

Skydiving Terjun Payung
Landing (Follow juga Twitter @puppytraveler, instagram @puppytraveler, atau like Facebook page Puppy Traveler ya)

Halaman berikutnya, biaya skydiving/terjun payung

1
2
SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY