Yulai-yulai di Ho Chi Minh

Yulai-yulai di Ho Chi Minh

0 197

Ho Chi Minh City Town Hall

“One of the greatest casualties of the war in Vietnam is the Great Society… shot down on the battlefield of Vietnam. ” – Martin Luther King, Jr.

Backpacker ke Ho Chi Minh. Awal dari perjalanan ke Vietnam ini adalah karena tiket promo suatu maskapai. Tak perlu pikir panjang, akhirnya saya dan teman saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Ho Chi Minh, Vietnam saja. Dengan persiapan yang sangat minim, kami nekat saja jalan-jalan ke Ho Chi Minh. Sampai menginjakkan kaki di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh pun, penginapan belum dipesan, tujuan wisata masih dalam perdebatan, ehmm… maksudnya masih dalam pembahasan, uang yang dibawa pun masih dalam bentuk dollar, belum ditukar ke dalam Dong, tiba di sana malam hari pula!! Okay, setelah kembali ke Indonesia, saya baru nyadar bahwa apa yang kami lakukan tersebut jangan sampai terulang lagi. Setiap jalan-jalan harus ada persiapan itinerary yang matang.

Sampai menjelang hari H keberangkatan pun informasi yang kami dapatkan masih sedikit. Bayangkan saja kami go show begitu saja tanpa memesan penginapan terlebih dahulu. Iya kalau lagi low season, kalau high/peak season? bisa-bisa tidur di emperan toko deh hehehe.. Untung Tuhan masih bersama kami, sehingga kami tak memperoleh kesulitan mencari penginapan di Ho Chi Minh City.

Penginapan kami berada di pusat keramaian Ho Chi Minh City, sehingga mau mencari apa saja ada di dekat penginapan: convenient store, restoran (yang halal juga ada), travel agent, toko oleh-oleh, klub malam, dan lain sebagainya. Karena keasyikan jalan-jalan malam di Ho Chi Minh, kami lupa waktu bahwa jam menunjukkan di atas pukul 24.00. Kami pun kembali ke hotel kami yang lebih menyerupai ruko dibanding menyerupai penginapan. Yup, rata-rata hotel di kawasan ini memang berbentuk ruko. Dan apa yang terjadi? Hotel kami sudah ditutup dengan pintu besi seperti ruko-ruko di Indonesia. Busyet… Bagaimana ini, masak tidur di pinggir jalan?

Crazy Buffalo Sai Gon

Crazy Buffalo Sai Gon, di De Tham Street

Ternyata penginapan kami ada jam malamnya. Mungkin hanya hotel kami saja atau hotel-hotel di sekitar sini memberlakukan hal yang sama, kami juga tidak tahu. Akhirnya kami ketok-ketok saja pintu besi tersebut. Dan memang ada penjaga yang siap membukakan pintu ketika tamu hotelnya datang. Mereka sepertinya maklum dengan kelakuan turis-turis kayak kami yang doyan jalan-jalan tengah malam kali ya hehehe..

Lambang Komunis di Mana-mana

Sepanjang jalan, kami sering menemui lambang dan bendera komunis di mana-mana, yaitu lambang palu arit (yang mungkin sangat haram di Indonesia kali ya?). Lambang ini merupakan simbol universal dari paham komunis. Ternyata, Vietnam merupakan salah satu dari 4 negara yg masih menganut paham komunis selain China, Laos, dan Kuba. Karena tidak mungkin kami lakukan di Indonesia, kamipun foto-foto narsis sepuasnya di dekat lambang komunis ini. Eh, bukan berarti kami pendukung paham komunis lho ya, kami hanya pendukung paham komunarsis aja kok, maksudnya narsisnya rame-rame hehehe..

Ho Chi Minh, Vietnam

Gambar lambang komunis di jalanan di Ho Chi Minh

Kami Kena Tipu di Vietnam!

Menyebalkan adalah ketika sudah tahu trik-trik tertentu, ternyata masih saja melakukan kesalahan. Dan itu yang kami alami ketika jalan-jalan di Ho Chi Minh City. Kami kena tipu tukang taksi abal-abal. Waktu itu kami ingin menuju ke patung Uncle Ho atau patung Ho Chi Minh, tokoh paling terkenal di Vietnam yang namanya diabadikan menjadi nama kota menggantikan nama Sai Gon atau Saigon. Masih ingat gak ada band yang namanya Saigon Kick? Itu lho yang lagunya berjudul “I Love You” atau ” Love Is On The way”. Duh kok malah jadi nostalgia jaman slow rock sih. Lanjut ah cerita traveling-nya.

Okay jadi ceritanya seperti ini. Kami menunggu taksi untuk menuju ke City Hall dan Patung Uncle Ho. Dari info yang kami baca, taksi yang bisa dipercaya adalah Vinasun. Okay, dari jauh tampaknya ada taksi Vinasun (padahal belum tentu Vinasun, baca di sini untuk tahu taksi mana yang bisa dipercaya dan mana yang palsu). Kemudian lihat pakaian sopirnya, harus berkemeja. Okay, sopirnya berkemeja. Kami stoplah taksi itu. Sesampainya di Patung Uncle Ho, kami bayarlah taksi sesuai argo, yaitu 20.000 Dong atau 10.000 rupiah. Dan sopirnya menolak, dan meminta kami membayar 200.000 Dong! Apah!

Uncle Ho, Ho Chi Minh

Gara-gara Patung Uncle Ho nih kita ditipu ma tukang taxi hehehe…

Kami shock dong, lha wong argonya cuma 20.000 Dong kok ditagihkan 200.000 Dong. Salah satu teman saya langsung membentak sopir taksi tersebut “yulai, yulai!!”. Kami pun bengong, kirain teman saya tersebut bisa bahasa Vietnam. Wah beres nih kayaknya. Eh ternyata dia bilang “you lie, you lie”… kamu bohong pak sopir taksi… Dan kami pun tertipu kuadrat, tertipu sama sopir taksi, juga tertipu teman sendiri hahaha!  Kalau dilihat secara nominal, 200.000 Dong itu cuma 100.000 rupiah ya, biayanya dibagi bertujuh dengan rombongan kami semua pula. Tak seberapa sebenarnya. Tapi ditipunya itu lho yang menjadi kesan tersendiri bagi kami. Dongkol? Iya kami dongkol, cuman beberapa saat setelah kejadian saja sih, setelah itu malah jadi bahan bercandaan yang makin bikin seru perjalanan.  Jalan-jalan ke Ho Chi Minh ini merupakan bagian perjalanan saya ke 5 kota di 3 negara: Vietnam, Kamboja, Malaysia. Panduan Lengkap jalan-jalan ke Ho Chi Minh, Vietnam bisa dibaca di sini


NO COMMENTS

Leave a Reply