Jul 282012
 

Baluran

“A man who wants time to read and write must let the grass grow long.” – Sloan Wilson

Taman Nasional Baluran merupakan taman nasional yang terletak di Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, Indonesia. Nama Baluran berasal dari nama gunung yang berada di area ini, yaitu Gunung Baluran. Karena padang rumputnya yang luas dan menjadi habitat beberapa binatang mamalia penghuni padang rumput, kawasan ini sering mendapat julukan Africa van Java. Hanya dengan tiket masuk Rp2.500/orang, Rp3.000/motor, dan Rp6.000/mobil, kita sudah bisa menikmati suasana Afrika ala Jawa ini.

Jogja – Banyuwangi

Baluran dapat dijangkau baik dari Situbondo maupun dari Banyuwangi. Kami sendiri memilih melalui Banyuwangi tanpa alasan yang jelas. Karena kehabisan tiket kereta api ekonomi Sri Tanjung jurusan Jogja – Banyuwangi, kamipun memutuskan untuk menggunakan bus jurusan Banyuwangi saja.

Berangkat dari terminal Giwangan Jogja pada pukul 16.30 (katanya ini bus terakhir yang berangkat ke Banyuwangi), bus akan sampai di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi pada pukul 06.30 atau menempuh perjalanan 10 jam dari Jogja ke Banyuwangi. Selain pada jam tersebut, ada pula bus yang berangkat pada pukul 15.30. Tarif bus ini adalah Rp87.000.

Setelah sampai di Banyuwangi dan istirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan ke Baluran dengan menyewa mobil Av@nza selama kurang lebih 2 jam. Mobil ini nantinya juga digunakan untuk berkeliling di dalam area Taman Nasional Baluran yang luas dan juga digunakan untuk berkeliling di Kota Banyuwangi. Biaya sewa mobilnya sendiri adalah Rp450.000 sudah termasuk bensin dan sopirnya.

Padang Rumput Bekol (Bekol Savanna)

Sekitar 40% lokasi taman nasional ini berupa padang rumput (savanna). Persentase tersebut katanya sudah sangat menyusut. Dulu hampir seluruh wilayah Baluran adalah padang rumput. Mengapa demikian?

Informasi dari petugas di sini menyebutkan bahwa dahulu padang rumput di Baluran sering terbakar karena tidak adanya pohon pelindung. Akhirnya diputuskan untuk menanam pohon Akasia untuk mengurangi kebakaran rumput tersebut. Yang terjadi, pohon-pohon ini malah menjadi subur, cepat menyebar, dan mengurangi area padang rumput. Akibatnya, populasi banteng dan beberapa hewan penghuni padang rumput yang lain juga ikut menyusut karena rumput sebagai makanan mereka mulai berkurang. Datangnya hewan-hewan penghuni hutan juga mulai mengganggu ekosistem mereka. Serba salah ya…

Baluran

Bekol Savanna, padang rumputnya masih hijau karena bukan musim kering

Kami memang datang pada bulan menjelang kemarau. Walhasil, padang rumputnya pun masih kehijauan belum begitu kuning. Yah… tidak jadi Africa van Java malah jadi Lapangan Bola van Java deh. :D

Binatang Liar yang Dilindungi

Beberapa binatang liar yang dilindungi dan dibiarkan hidup bebas di Baluran antara lain banteng, rusa, burung merak, ayam hutan, berbagai macam burung lain, biawak, dan lain sebagainya. Untuk melihat merak dan ayam hutan tidaklah terlalu sulit karena jumlahnya yang lumayan banyak. Akan tetapi, untuk melihat banteng sebaiknya dilakukan pada jam-jam tertentu saat mereka sedang mencari makan/minum, karena jumlahnya yang tinggal beberapa puluh ekor saja! Sudah langka bro…

Selain diakibatkan penyusutan area padang rumput, keberadaan anjing hutan yang sering memangsa banteng juga menjadi penyebab berkurangnya populasi banteng di Baluran sini. Dasar anjing… Eh maksud saya anjing beneran lho, bukan anjing yang itu… *itu yang mana?*

Musim kawin burung merak biasanya terjadi pada bulan Oktober – November. Pada musim kawin ini, merak-merak akan memamerkan bulu-bulunya yang sangat indah. Kalau pas tidak musim kawin memang seperti apa? Ya kayak melihat ayam gondrong aja hehehe…

Bekol

Tengkorak banteng yang dipajang di area padang rumput

Snorkeling di Pantai Bama

Sampailah kita di tempat terakhir wisata Baluran yaitu Pantai Bama. Pantai ini merupakan pantai berpasir putih dengan pohon bakau dipinggirnya. Pengelola kawasan ini telah menyediakan beberapa fasilitas wisata air, seperti kapal, kano, peralatan snorkeling, dan juga fasilitas kamar mandi. Ada warung yang jualan juga lho di sini.

Siang-siang mau snorkeling kok masih malas ya… Okelah kami tunggu agak sore buat snorkeling daripada kulit terbakar asmara… Oops… Maksudnya daripada terbakar matahari, mending ngadem dulu saja. Pas matahari sudah mulai dadah-dadah buat pulang di balik cakrawala sana, kamipun bermaksud menyewa peralatan snorkeling ke petugas di sini. Apa yang terjadi?

“Mas, kalau mau snorkeling pagi atau siang saja, kalau sore air laut surut jadi tidak bisa snorkeling. Kalau mau menggunakan kapalpun juga tidak bisa karena air laut sudah terlalu surut sehingga kapal sulit menuju ke laut.” Kata yang petugas yang nyewain alat snorkeling. “APAHHHH!!!” Gagal dong guwe snorkelingan.

Hmmm… Air laut memang cepat sekali surut sore itu. Tak patah semangat, saya pun berjalan ke laut hanya karena ingin melihat underwater Pantai Bama ini. Jauh sekali sampai hampir ke tengah lautan. Air lautnya dangkal sih hanya sedalam paha seksi saya (kok ya disebutin pula seksinya. Nda penting you know). Lah… kok… Underwater di sekitar Pantai Bama ini isinya rumput doang. Mana terumbu karangnya?

Saya tanya lagi dong ke petugasnya “Mas, spot snorkeling di Pantai Bama ini di mana sih”. Kemudian petugasnya menjawab “Ya di pinggir pantai itu Mas”. Itu mah terumbu rumput bukan terumbu karang masberowwww…. Namanya juga padang rumput Baluran bro… Rumputnya pun ikut menghiasi underwater-nya brooooh… :D

Pantai Bama

Monyet-monyet yang mencari makan ketika air laut sedang surut di Pantai Bama, Baluran. Gak keliatan ya monyetnya? Klik gambarnya deh buat memperbesar

Setelah air laut benar-benar surut, para monyetos a.k.a mongki-mongki penghuni Baluran pun mulai berhamburan di laut untuk mencari makan. Tidak mendapat pemandangan terumbu karang, malah dapat pemandangan terumbu rumput dan terumbu mongki. Hmmm… Kalau saya pikir-pikir lagi, saya sudah terlalu sering melihat terumbu karang di mana-mana (sombong!). Tapi melihat monyet-monyet bertebaran di laut untuk mencari makan seperti ini… Sesuatu banggget gitu bro…

Gambar/Foto Lengkap Baluran


  2 Responses to “Baluran: Padang Rumput di Ujung Timur Pulau Jawa”

  1. Mau tanya, itu akomodasi di Baluran nya bagaimana ya? Bisa di jangkau dengan jalan kaki atau harus sewa kendaraan. Dan bagaimana dengan penginapan nya? Mungkin ga ya kalo misalkan mengunjungi savanah nya tapi menginap di pantai Bama nya.

    Rencana nya libur lebaran ini pengen coba bertualang ke Baluran dari Bondowoso.

    Ma’kasih

    • @Dian
      Kalau jalan kaki sepertinya tidak mungkin ya karena areanya sangat luas. Kalau gak pake mobil mungin ya pake motor.
      Di Pantai Bama ada rumah2, tapi saya tidak begitu tahu apakah dapat disewa atau tidak. :)

 Leave a Reply

(Wajib Diisi)

(Wajib Diisi)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>