Trip Penebus Dosa ke Pulau Menjangan, Bali

3

“The virtue of justice consists in moderation, as regulated by wisdom.” -Aristotle

Pulau Menjangan, Bali. Ya ampun… Judulnya berasa guwe ini pendosa banget gitu ya… hehehe… Jujur saja, tujuan utama jalan-jalan kali ini memang mengunjungi Pulau Menjangan di Bali yang sangat indah. Tapi, sebenarnya ada misi penebusan dosa di dalam perjalanan menuju Pulau Menjangan ini.

Perjalanan Penebusan Dosa dari Jogja ke Banyuwangi

Perjalanan kali ini 98% solo traveling (jalan-jalan sendirian), 2% umbyukan traveling (umbyukan = rame-rame dalam Bahasa Jawa). Dari Jogja berangkat sendirian naik kereta ekonomi Sri Tanjung, sedangkan di Bali ketemu satu teman dan rombongan bule dalam satu kapal.

Dari Jogja, saya naik kereta Sri Tanjung yang berangkat pukul 07.00 pagi. Awalnya sempat males juga mendengar kata “kereta ekonomi”, pasti penumpang yang duduk/tidur di lantai kereta, pedagang asongan, pengemis, pengamen, pencopet bergabung menjadi satu umpel-umpelan kayak cendol di dalam kereta. Tapi kenyataan yang saya rasakan lain adanya. Ternyata, kereta ekonomi jaman sekarang sedikit lebih manusiawi dibanding kereta api jaman dulu. Tiket penumpang tanpa tempat duduk/berdiri sudah tidak berlaku lagi, jadi semua penumpang diwajibkan membeli tiket dengan tempat duduk.

Dalam perjalanan, ada salah satu orang yang berkhotbah “Saya barusan keluar dari penjara, daripada saya menodong mendingan saya meminta-minta bla bla bla”, eh… tak lama kemudian orang itu langsung ditangkap polisi di dalam kereta hahaha… Fyuh… paling males kalo ada orang berkhotbah demikian. Walaupun begitu, tetap saja di dalam kereta masih banyak pengemis, pengamen, dan pedagang asongan lalu lalang kayak belalang.

Terganggukah saya dengan pengemis, pengamen, dan pedagang asongan ini? Tidak. Justru keadaan inilah yang saya manfaatkan untuk penebusan dosa *walah*. Semua pengemis dan penjual jasa gak jelas, seperti misalnya menyapu lantai kereta (yang sebenarnya sudah bersih gak perlu disapu lagi) dan lain sebagainya, malah saya cari untuk saya beri sedekah. Tajirkah guweh? Kalo tajir mah sudah naik pesawat deh jalan-jalan ke Bali hahaha…

Baca juga:  Perjalanan ke Bali Lewat Jalur Darat

Awalnya saya paling sinis kalau ada pengemis atau pengamen. Enak saja tidak perlu banyak usaha tapi dapat duit secara cuma-cuma. Tidak adil rasanya dengan orang-orang yang sudah susah payah bekerja mencari uang tapi mendapat hasil yang tak seberapa. Kemudian, entah hidayah dari mana saya juga tidak tahu, tiba-tiba saya mendapatkan pencerahan. Kita tidak tahu motif yang melatarbelakangi orang tersebut mengemis atau mengamen, apakah memang malas beneran atau memang lagi ada kebutuhan yang mendesak. Siapa tahu pengemis/pengamen tersebut membutuhkan uang untuk menghidupi seribu orang anak, atau pengemis/pengamen tersebut butuh biaya untuk keluarganya yang sakit. Who knows? Pokoknya misi saya pengen memberi sedekah ke semua pengemis, pengamen, dan lain sebagainya yang ada di kereta pada saat itu. Titik #Sandora *Btw, kabar Titik Sandora dan Muchsin Alatas gimana ya?*

Uang receh yang saya kumpulkan sebelum trip, saya bagikan ke hampir semua pengemis, pengamen, dan penjual jasa gak jelas (ada beberapa kelewat mungkin karena saya tertidur di kereta hehehe). Tentunya saya memberikannya dengan ikhlas dan senang hati. Tidak adilkah? Dunia memang tercipta untuk tidak adil. Kalau adil, mungkin kita bisa memilih lahir di keluarga Hilton dengan tampang rupawan dan kecerdasan melebihi Einstein. Kenyataannya? Ya gitu deh… #tumbenwaras #jiahgitudoangdibilangwaras

Iseng-iseng saya menghitung jumlah pengemis, pengamen, pedagang asongan, dan tukang bersih-bersih gak jelas di dalam kereta api ekonomi dari Jogja sampai Banyuwangi. Total jumlah pengemis adalah sekitar 6 orang, total jumlah pengamen adalah sekitar 10 grup, total jumlah pedagang adalah sekitar 142 orang, dan tukang bersih-bersih gak jelas sejumlah 3 orang. Perhitungan bisa jadi melenceng sedikit karena penghitungan ganda (double counting) atau karena saya tertidur. Lah, ini kok malah seperti membahas pelajaran statistik sih. Hahaha… namanya juga iseng…

Baca juga:  Naik Pesawat di Indonesia dan Amerika itu Beda!

Melihat ke luar jendela, kereta melewati suatu daerah di Banyuwangi yang bernama Glenmore. HAH… GLENMORE? Bule banggggget namanya… Tak ada info lengkap mengapa daerah ini bernama Glenmore kecuali dulu adalah suatu kebun bernama Glenmore, sedangkan Glenmore sendiri adalah nama Skotlandia/Irlandia. Nah loe… Masih gak ngerti juga kan mengapa dinamai Glenmore? Sama dong hehehe… Ada yang tau mungkin sejarah lengkapnya Glenmore ini?

halaman berikutnya, peta, lokasi, dan cara menuju Pulau Menjangan, Bali

1
2
3
SHARE

3 COMMENTS

  1. hi ,,,temen2 yg mo nyoba snorkeling ke menjangan bali..ni ada lagi contac parsonnya; 0852 3883 9596/snorkelingwithkadek@gmail.com.

  2. Sekedar Info aja… Web resmi taman nasional bali barat, ini http://www.tamannasionalbalibarat.co.id. yg la?nnya punya perorangan/agent. Asal dapat cp pemandu resmi taman nasional ga mungkin dapat harga/biaya yg mahal ke pulau menjangan. For info snorkeling ke menjangan, kadek sms/wa 0852 3883 9596. /snorkelingwuthkadek@gmail.com.

LEAVE A REPLY