Laskar Pelaknat Menggila di Belitung

Laskar Pelaknat Menggila di Belitung

“A liberal is a man or a woman or a child who looks forward to a better day, a more tranquil night, and a bright, infinite future.” -Leonard Bernstein

Belitung. Maaf ya Bang Andrea Hirata, bukannya mengejek Laskar Pelangi, tapi nama Laskar Pelaknat sebutan bagi geng kami yang mengunjungi Pulau Belitung ini cuma bercanda kok hehehe… Jujur aja memang agak sedikit mlesetin mahakarya Mas, tapi sumpah gak ada maksud buruk lho Bang…

Baiklah, berikut ini kisah kami, Sang Laskar Pelaknat, jalan-jalan di pulau yang luar biasa dahsyat indahnya bernama Belitung.

Belitung atau Belitong atau Biliton, pulau dengan pemandangan alam yang sangat fantastis yang tiba-tiba mencuat menjadi populer setelah buku dan film Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata sukses menggemparkan dunia hiburan dan sastra di Indonesia. Hal ini berpengaruh tehadap kunjungan wisata di Belitung. Saking pesatnya perkembangan pariwisata di Belitung, pemerintah daerah setempat bahkan akan menjadikan Belitung sebagai Bali kedua.

Mayoritas penduduk Belitung adalah Suku Melayu. Mata pencaharian utama dulunya adalah di pertambangan timah. Sekarang seiring perkembangan zaman dan semakin banyaknya wisatawan yang datang, bisa jadi proporsi pekerjaan penduduknya sudah berubah pula. Banyak wisatawan yang mengakui keramahan dan kejujuran penduduk Belitung. Entah benar atau tidak, yang jelas saya sendiri juga merasakan ketulusan penduduk Belitung ini dan semoga akan selamanya demikian.

Angkot yang Sangat Lama

Setiba di Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin Belitung (susah banget ya nama bandaranya), kami langsung menuju keluar bandara untuk mencari angkot. Pas ditawari taksi/sewa mobil di dekat pintu keluar bandara, kami menolak. Yah seperti kebiasaan kalau di Jakarta kan banyak yang menawarkan jasa angkutan di bandara dengan harga yang tidak sesuai ama kantong dan saya mengasumsikan demikian pula di Belitung tanpa mencari info terlebih dahulu. Ngeloyorlah kami ke luar bandara dengan maksud mencari angkutan umum. Dan yang terjadi adalah hampir 3 jam kami menunggu, tak ada angkot satu pun yang lewat. Stress setengah mampus dah… Setelah angkot datang, langsung kami minta antar ke hotel dan kami bayar Rp20.000. Harusnya ongkosnya kurang dari harga tersebut, namun sebagai tanda terima kasih karena telah datang di saat kami gundah gulana menunggu, kami kasih lebih saja. Pak Sopirnya langsung sumringah gitu… Sama-sama senang ya pak *toss*

Usut punya usut, ternyata tren kredit sepeda motor yang mudah persyaratannya membuat banyak penduduk beralih menggunakan sepeda motor daripada menggunakan angkot, sehingga pengguna angkot pun menurun. Padahal dulu jumlah angkot lumayan banyak, sekarang tinggal sedikit. PR besar buat Belitung nih supaya daerahnya menjadi destinasi wisata favorit: Angkutan umum yang memadai!

Akhirnya, untuk hari selanjutnya kami memutuskan menyewa mobil plus sopirnya (sewa mobil di Mas Erwin 081929777074). Kami berkeliling dari Belitung Barat sampai ke Belitung Timur. Belitung Barat terkenal dengan pantai-pantainya yang sangat menakjubkan, sedangkan Belitung Timur terkenal dengan SD Laskar pelangi dan Kuil Dewi Kwan Im. Pusat kota Belitung, yaitu Tanjung Pandan sendiri terletak di Belitung Bagian Barat.

Halaman berikutnya, mengunjungi SD Laskar Pelangi


1 2 3 4 Next

4 COMMENTS

Leave a Reply