Menghabiskan Weekend di Dieng, Negeri di Atas Awan

Menghabiskan Weekend di Dieng, Negeri di Atas Awan

Bukit Cikunir

“A cloud is made of billows upon billows upon billows that look like clouds. As you come closer to a cloud you don’t get something smooth, but irregularities at a smaller scale.” – Benoit Mandelbrot

Pernah membaca dongeng “Jack and the Beanstalk” di mana sebuah biji kacang secara ajaib tumbuh sampai menembus awan kemudian di atas awan tersebut tenyata terdapat istana yang megah? Terus pernahkah merasakan bagaimana rasanya sensasi menembus awan? Jawabannya pasti pernah ya kalo naik pesawat hehehe… Perjalanan ke Dieng ini sensasinya lain karena kita merasakan sendiri sensasi menembus awan dan merasakannya di alam. Kalo di pesawat kan mustahil, yang bisa dilakukan hanya melihat awan dari balik jendela.

Perjalanan Menembus Awan

Perjalanan dari bawah ke atas dataran tinggi ini sangat mengagumkan bagi wong ndeso seperti saya. Karena setelah menembus awan, tampaklah negeri Dieng yang indah yang secara lebay nya saya bayangkan seperti istana di atas awan di dalam dongeng-dongeng yang biasa kita baca tersebut. Apalagi ditambah pemandangan bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang perjalanan. Wuih… cantik bener… Penggambaran penembusan awannya kurang lebih seperti ini:

Perjalanan dari bawah bawah awan

Dieng

Perbukitan di Daratan Tinggi Dieng

Saat berada di dalam awan

Dataran Tinggi Dieng

Berada di antara kabut awan Dieng

Indahnya pemandangan di atas awan

Gunung Cikunir Dieng

Berada di atas awan di bukit Cikunir, Dieng

Kami memulai 3,5 jam perjalanan pada Sabtu sore dengan menyewa mobil Av4nz@ dari Jogja (Alif Trans 0274-7434961) dan tiba di Dieng pada malam harinya. Sebenarnya bisa saja menggunakan angkutan umum karena aksesnya memang gampang. Tapi karena mempredikatkan diri sendiri sebagai seorang lazy traveler alias pejalan yang sangat malas, saya dan temen-temen lebih memilih menggunakan jasa sewa mobil saja berikut sopirnya. Tarif sewa mobilnya Rp250.000/24 jam kalau plus sopir ya nambah 100ribu/24jam. Rute perjalanan yang dilalui adalah melalui Jogja-Magelang-Wonosobo-Dieng.

Bukit Sikunir

Wajib dan harus adalah dua kata untuk saya mengunjungi Bukit Sikunir ini. Rela bangun jam 3.30 pagi hanya untuk mengejar sunrise di sini. Bukit Sikunir dapat ditempuh 15 menit dari penginapan. Setelah mendaki bukit selama kurang lebih 15 menit juga dari parkiran dekat Telaga Cebong, tampaklah sebongkah sunrise yang indah banget. Siluet gelap latar belakang Gunung Sindoro berhias matahari terbit ini gothic banget dah. Tiket masuk ke Bukit Sikunir adalah Rp3.000 (sudah termasuk tiket ke Telaga Cebong)

Bukit Cikunir

Bukit Cikunir

Telaga Warna

Telaga warna ini sangat eksotis menurut saya. Dengan latar belakang gunung yang indah, dan gradasi warna air danau dari coklat ke hijau, benar-benar memberikan background yang bagus buat foto narsis. Tiket masuk telaga warna ini adalah Rp3.000 (sudah termasuk tiket masuk Telaga Pengilon)

Danau Warna Dieng

Telaga Warna yang dengan warna air bergradasi

Candi Arjuna

Candi Arjuna adalah kawasan candi terluas (dan katanya terindah pula) di Dieng. Candi Hindu ini terawat dan sangat indah dengan latar belakang bukit. Untuk masuk ke kawasan ini, tiket masuk yang dikenakan adalah Rp10.000 (harga termasuk tiket masuk Kawah Sikidang)

Candi Dieng

Candi Arjuna dekat penginapan di Dieng

Si Rambut Gimbal

Beruntung sekali saat mengunjungi Dieng kemarin ketemu anak berambut gimbal. Kami menemukannya di area Telaga Warna. Rambutnya memang sangat ikal seperti benang kusut. Fenomena anak berambut gimbal ini jarang terjadi di manapun, kecuali di Dieng ini.

Anak Gimbal Dieng

Gadis kecil berambut gimbal di Dieng

 

Untuk menuju lokasi wisata tersebut di atas, kami menggunakan mobil yang kami sewa dari Jogja. Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan ojek. Sebenarnya masih banyak spot-spot menarik lainnya di Dieng ini seperti Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda, Kawah Sikidang, Candi Bima, dan lain sebagainya. Karena keterbatasan waktu, kami belum sempat mengunjungi lokasi tersebut.

Mie Onglok

Mie Ongklok adalah makanan khas daerah Dieng/Wonosobo. Di dalam kota Wonosobo pas perjalanan berangkat/pulang dari Dieng terdapat dua warung Mie Ongklok yang paling terkenal yaitu Mie Ongklok Longkrang (Alamat Jl. Pasukan Ronggolawe No.14, Wonosobo) dan Mie Ongklok Pak Muhadi (alamat JI. Ahmad Yani, Wonosobo). Manakah yang lebih enak? Relatif ya tergantung jenis lidah Anda apakah termasuk jenis lidah buaya atau lidah iasha. :D

Menurut informasi temen saya yang asli Wonosobo, Mie Ongklok Pak Muhadi lebih enak dari yang di Longkrang. Dan katanya nih, penjual asli Mie Ongklok Longkrang yang asli sudah pindah dari tempat jualannya yang sekarang. Dengan kata lain, penjual yang sekarang adalah pal…..?

Penginapan

Banyak sekali penginapan di daerah Dieng ini. Salah satu yang paling terkenal di kalangan backpacker mungkin Bu Djono. Akan tetapi saya lebih memilih menginap di penginapan di sebelahnya Bu Djono, yaitu penginapan Dieng Plateau (0857 433 708 29). Alasannya tentu saja harganya yang murah (Rp50.000/malam), secara kami cuman menginap setengah malam di situ. Kamarnya hanya disekat tripleks, tempat tidur sangat luas, kamar mandinya di luar shared dengan para penginap lainnya. Lokasi penginapan ini sangat dekat dan hanya beberapa langkah saja dari Candi Arjuna

Malam hari, pas melepas sendal karena ingin tidur di kasur, kaki pun menyentuh lantai kamar (ya iyalah, emangnya gue kuntilcucu yang tidak menapak tanah). Dan apa yang terjadi? Kaki rasanya seperti menginjak es batu…. dingiiiiin mampus…. brrrrrr…

Gambar-gambar/Foto-foto Lengkap Dieng


1 COMMENT

  1. saya beberapa kali ke Dieng buat gawe.. nginep di Wonosobo..tapi ya gitu deh, dulu boro-boro terpikir mau jalan-jalan apalagi nulis cerita di sana

    mie ongklok pak Muhadi emang enaaak.. *dipikir-pikir kok mau-maunya ya makan irisan kol sebanyak itu? padahal aslinya ga suka*

Leave a Reply