Solo Traveling ke Pantai Lombang, Madura

9

“Always give a word or sign of salute when meeting or passing a friend, or even a stranger, if in a lonely place.” – Tecumseh

Pantai Lombang, Madura, Jawa Timur. Solo traveling saya di Jawa Timur yang sebelumnya di Malang, akhirnya berlanjut ke “negeri asing”, yaitu Madura. Kenapa asing? Bukankah Madura masih masuk di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Jayalah Selamanya? Secara kedaulatan dan secara gpsdangooglemapsgrafi (ilmu yang mempelajari tentang peta GPS dan Google Maps, halah ngasal!) memang masuk Indonesia, tapi mendengar cerita seorang temen dari Surabaya, yang notabene kota terdekat Madura aja bilang dia sendiri takut masuk Pulau Madura karena karakter penduduknya yang “menyeramkan”. Cerita-cerita buruk tentang orang Madura memang acapkali terdengar tanpa mereka membuktikan sendiri. Apakah saya juga mengalami hal yang sama? Hmmm… mari kita buktikan sama-sama…

Perjalanan

Pukul 19.00, saya tiba di Terminal Bungurasih setelah menempuh perjalanan dari Malang. Wah, jam segini masih ada gak ya bus yang ke Madura. Tanya-tanya deh ke petugas terminal. Dan ternyata, bus Surabaya ke Madura itu ada 24 jam!!

Bus patas Surabaya-Madura hanya ada di siang hari. Begitulah kata pak petugas terminal. Yo wis ndak apa-apa lah naik bus akas non patas dengan tarif Rp33.000…

Sungguh perjalanan malam hari yang tidak menyenangkan. Jalanan benar-benar gelap gulita. Suramadu yang indah di siang hari pun, hanya nampak biasa dari dekat kalo malam. Sepanjang perjalanan di Pulau Madura juga disuguhi pemandangan gelap seperti kota mati. Rumah-rumah jarang nyalain lampu, jalan raya kurang penerangan, dan.. mulai ada rasa agak deg-degan juga… Jangan-jangan saya bukan masuk Pulau Madura, tapi masuk ke Pulau Madurasa (apa sih!!)

Suramadu Bridge
Jembatan Suramadu di siang hari

Akhirnya, setelah menjelajah kegelapan dari Surabaya-Madura selama 4 jam, pukul 23.00 saya tiba di kota Sumenep, kota paling timur dari Pulau Madura. Malu bertanya, bukalah Google, niscaya gak sesat di jalan, saya dapet penginapan hotel Wijaya I (tarif Rp40-150.000 tergantung fasilitas). Naik becaklah saya ke hotel dengan ongkos Rp10.000 yang ditawarkan pak tukang becaknya dengan bahasa yang halus… Nah loe, orang Madura Sumenep halus kan cara ngomongnya…

Setelah semalam menginap di Hotel Wijaya I (yang cuman dikasih air teh hangat saja sarapannya wkwkwk), paginya saya langsung menuju Pantai Lombang. Rute yang harus dilalui adalah Sumenep – Bangkal – Legung – Pantai Lombang. Dari Sumenep ke Bangkal dapat naik becak Rp10.000 dengan jarak tempuh sekitar 15 menit. Bangkal ini seperti pasar buat transit taksi (sebutan untuk angkot di sini adalah taksi). Nah dari Bangkal ke Pantai Lombang harus naik taksi dulu ke Legung kemudian sambung becak lagi ke Pantai Lombang. saya memang naik taksi dulu ke Legung dengan ongkos Rp10.000, tapi kenek angkotnya menawarkan mau dianterin sampe ke pantainya langsung mau gak dengan nambah Rp10.000? Ya udah, karena sama ongkosnya kayak kalo kita naik becak, saya iyain aja tawaran mas-mas keneknya.

Halaman berikutnya, ada apa sih di Pantai Lombang, Madura?

Baca juga:  Pulau Tanjung Putus, Semuanya Ada di Dekat Dermaga

9 COMMENTS

  1. busetttt…!! ngeliat foto diatas.. pantainya asik beuddd.. sepii.. *secara, saya tidak suka keramaian*
    siap.. *masukkan nama Madura dalam list tempat-tempat yang harus dikunjungi* 😀

  2. kalo dikelola dgn baik, rasanya ga rugi deh perjalanan 6 jam dari surabaya ke panati ini.. tapi ya gitu deh,, waktu saya kesana, pantainya kotor, dan fasilitas kamar mandi untuk bersih-bersih setekah renang pun ala kadarnya banget.. 🙁

  3. Trims bro. Amazing how no one goes 2 these places. I’m headed there now. I recommend the suramadu hotel in sumenap fo the price, wifi, landscaping, hot water, etc o ya, dapat salam dari kepala desa tecumseh

LEAVE A REPLY