Surfing di Sawarna, Banten

Surfing di Sawarna, Banten

Sawarna Surfing

“Surfing soothes me, it’s always been a kind of Zen experience for me. The ocean is so magnificent, peaceful, and awesome. The rest of the world disappears for me when I’m on a wave.” ~Paul Walker

Desa Sawarna, sebuah desa yang akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan di internet karena keindahan alamnya. Di tempat ini terdapat pantai pasir putih dengan ombak yang indah, goa, dan karang yang berdiri kokoh. Desa Sawarna ini masih  alami, turis masih sedikit, bersih, dan penduduk lokal yang baik hati.

Sejarah yang saya dengar dari cerita penduduk setempat, Sawarna ini “ditemukan” oleh bule pada tahun 1996. Setelah itu, bule tersebut tidak kembali lagi. Kemudian mulai berdatangan turis2 dari mancanegara (Australia, Perancis, dsb) dan turis domestik ke tempat ini. Bahkan, katanya artis seperti Fathir Muchtar dan artis-artis lainnya seperti Valentino pun juga sering berselancar di sini. Bule-bule tersebut biasanya meninggalkan Sawarna dengan memberikan papan surfing-nya ke penduduk lokal yang akhirnya membuat penduduk Sawarna banyak yang bisa bermain surfing.

Sabtu, 2 Oktober 2010

- Perjalanan

Pukul 9.00-an pagi, kami berempat berangkat dengan naik mobil dari Bintaro, Jakarta Selatan. Ada 2 rute yang bisa kita pilih untuk menuju ke Sawarna

1. Jalur yang sering digunakan orang, yaitu melalui Jakarta- Tol Jakarta Merak – keluar di Jalan Serang Timur – Jalan Serang Pandeglang – Jalan Raya Labuan – Jalan Raya Sindangsari Rawasari – Jalan Raya Saketi Malingping – Jalan Bayah – Jalan Bayah Malingping – Bayah – Sawarna

keuntungan menggunakan jalur ini adalah tidak macet, sedangkan kekurangannya adalah lebih jauh dan kondisi jalan rusak

2. Jalur pendek, yaitu melalui jalan Tol Lingkar Luar Selatan Jakarta – Jalan Tol jagorawi – keluar di Ciawi – Jalan Raya Sukabumi – Cibadak – Cikidang – Pelabuhan Ratu – Cisolok – Sawarna

Walaupun banyak yang merekomendasikan jalur pertama karena alasan jalan raya Sukabumi sering macet, tapi kami sengaja mencoba menggunakan jalur yang kedua. Dan memang benar, Jalan Raya Sukabumi macet!! Namun begitu kondisi jalanan masih mulus.  Di bagian perjalanan menuju Cibadak – Cikidang – Pelabuhan Ratu – Cisolok – Sawarna, jalanan mulai naik turun tanjakan turunan dengan lebar jalan yang agak sempit. Tapi semua itu tergantikan dengan pemandangan perkebunan sawit, teh, pegunungan, dan Pantai pelabuhan Ratu yang sangat indah.  Pemandangan indah ini “menghambat” perjalanan kami karena “memaksa” kami untuk turun dan menikmatinya (serta foto-foto narso tentunya :P )

Perkebunan Sawit Jawa Barat

Perkebunan Sawit di Cikidang

Karena melalui Pelabuhan Ratu, kami pun harus melewati pos retribusi Pelabuhan Ratu. Di sini kami membayar tiket retribusi  Rp 2.000/orang dan Rp 5.000/mobil.

- Penginapan

Pukul 4.30-an sore, kami sampai di Saung Chlara yang telah kami sewa sebelumnya. Saung ini dimiliki oleh Ibu Nenda (087772095744) yang notabene adalah kepala sekolah (entah ibunya atau suaminya gw gak nanya lebih lanjut). Ibu Nenda ini sangat baik, sampai-sampai beliau kasih wejangan untuk berhati-hati kepada orang-orang tertentu yang dicurigai kleptomania. Ibu Nenda ini juga baik banget mau membantu kita mencarikan penyewaan papan surfing beserta guide-nya (ehm… kami memang belum bisa surfing sebelumnya :D )

Saung Chlara ini cocok sekali bagi anda yang membawa mobil pribadi, karena halaman rumahnya bisa buat parkir. Kalo wisma lain yang dekat dengan pantainya justru tidak bisa dimasuki mobil. Wisma ini cuman beberapa langkah dari jembatan Sawarna yang legendaris itu. Jarak saung ini dengan pantai sekitar 10 menit jalan kaki. Kalo kesini ngeteng pakai angkutan umum bisa sewa juga saung Chlara yang dekat dengan pantainya, karena Bu Nenda ini punya dua saung.

Senja di Sawarna

Senja di Sawarna

Tarif yang dikenakan oleh Ibu Nenda adalah Rp 100.000/orang/malam tapi kami tawar jadi Rp 80.000/orang/malam. Tarif tersebut amat sangat murah karena sudah termasuk makan 3 kali yang makanannya sangat banyak dan enak!!!

Saat pulangnya, karena service bu Nenda yang luar biasa baik ini, kami agak menyesal juga pake nawar harga penginapan hahaha… Akhirnya kami tambahin jadi Rp350.000 buat 4 orang dari yang seharusnya kami bayar Rp320.000.

Makanan di Saung Chlara

Makanan di Saung Chlara: Oncom, ayam, nasi, ikan, air mineral dsb

Karena kami nyampe sore di sawarna, kami putuskan untuk jalan-jalan sebentar saja di pantai sesaat setelah nyampai sawarna. Dan tentu saja suguhan pemandangan pantai di sore hari dengan semburat jingga di langit benar2 ta’jubilah

Malam hari, datang 2 buah papan surfing yang dibawa langsung sama guide-nya yang ditelpon sebelumnya oleh bu Nenda. Tarif sewa papan ini Rp 50.000/hari. Sedangkan tarif guide-nya terserah kita, setidaknya itu yang dibilang guide-nya sendiri. Karena terserah kita, guide yang melatih surfing (namanya Irfan) ini kita kasih Rp 100.000.

Sinyal hape di Sawarna sendiri tidak ada masalah, kecuali teman kami yang menggunakan Simpa(nze)ti yang agak terganggu sinyalnya. Saya sendiri menggunakan Indocrut, dan Excel. Lancar jaya….

- Pantai Ciantir

Pantai Ciantir ini adalah pantai yang berdekatan dengan Pelabuhan Ratu. Kalau Pelabuhan Ratu masuk Jawa Barat, Pantai Ciantir ini masuk Banten. Kalo Pelabuhan Ratu warna pasir pantainya hitam, kalo Pantai Ciantir warna pasirnya putih. Persamaan dari dua pantai ini adalah memiliki ombak yang bagus.

Pantai sawarna

Pantai Ciantir

Pasir putih Pantai Sawarna

Pasir putih Pantai Ciantir

Jalan menuju pantai tidak bisa dilalui mobil karena harus melalui jembatan kayu yang kecil. Motor masih bisa lewat jembatan ini. Jadi sekali lagi, untuk yang membawa mobil pribadi ke sini sebaiknya mencari penginapan di penginapan sebelum jembatan. Sedangkan yang ke sini ngeteng menggunakan angkutan umum atau menggunakan motor pilihannya lebih banyak, bisa menginap di penginapan sebelum jembatan atau sesudah jembatan.

Jembatan Sawarna

Jembatan Sawarna

Minggu, 3 Oktober 2010

- Surfing di Pantai Ciantir

Pukul 7 pagi, kami siap-siap berangkat surfing. Tujuan kami datang kesini adalah SURFING! Kami tidak mengunjungi pantai indah lain di sekitar sini seperti Lagun Pari, Karang Taraje, Palistir dan Goa Lalay. Waktu yang tepat buat surfing, kata guide kami, adalah pagi hari. Akhirnya kami pun berselancar dari pukul 7.30 sampai pukul 11.30.

Entah kenapa, pergi ke Sawarna ini kami selalu melawan mainstream. Kalo yang lain kesini melalui Serang, kami justru memilih lewat Sukabumi. Kalo yang lain tujuannya kesini menikmati pemandangan indah, kami justru lebih memilih surfing. Saya sangat susah mencari informasi dan cerita surfing di Sawarna melalui Google. Kebanyakan bercerita keindahan dan takut dengan ombak lautnya yang besar. Sebenarnya agak deg-degan juga melihat ombak besar di pinggir Pantai Ciantir. Tapi ternyata rasa takut itu sirna ketika kita berjalan ke tengah laut yang ternyata landai sampai sebatas sampai leher tinggi air lautnya.

Surfing pun dimulai dengan arahan guide kami, Irfan. Sangat menyenangkan ternyata di atas papan selancar, kemudian tersapu ombak… Benar-benar sensasi tersendiri!!! Kurang puas sebenarnya cuman berselancar 4 jam saja, tapi apa daya kami harus kembali ke Jakarta pada siang harinya. Sebelum pulang, kami sempatkan dulu main di Tanjung Layar, sepasang bongkahan karang raksasa yang jaraknya cuman 5 menit jalan kaki ke sebelah kiri pantai Ciantir.

- Tanjung layar

Tanjung layar adalah dua bongkah karang yang berdiri tinggi bak sepasang kekasih. Indah memang karang ini sehingga sering menjadi objek buruan para fotografer.  Sepulang dari Tanjung Layar menuju ke penginapan, kami melalui semak-semak yang sedang berbunga warna-warni indah.

Tanjung Karang sawarna

Tanjung Layar, Sawarna

Pukul satu siang kami kembali ke Jakarta dengan rute yang sama dan juga masih mengalami kemacetan di Jalan Raya Sukabumi. Total biaya untuk bahan bakar mobil yaitu Rp200.000 Bintaro-Sawarna-Bintaro. Sebenarnya kami ingin merasakan jalur Serang, tapi penduduk setempat menyarankan kami lebih baik lewat Jalur Sukabumi saja karena jalanan di jalur Serang ini lumayan rusak. Oh ya, kami disarankan penduduk sekitar jangan melalui jalur Serang pada malam hari karena “menyeramkan”… hiiiiiy… attuuutt….

Gambar-gambar/Foto-foto Lengkap Sawarna


12 COMMENTS

    • @riris
      Kebetulan belum pernah. Setahu saya, naik angkutan umum ke Sawarna rutenya seperti ini:
      (Kalideres/Tanjung Priuk/Slipi Jaya/Kampung Rambutan/Pulo Gadung) -> (Terminal Pakupatan Serang) -> (Malingping) -> (Bayah) -> (Sawarna)

Leave a Reply