Perjalanan ke Bali Lewat Jalur Darat

Perjalanan ke Bali Lewat Jalur Darat

 

“Destination is never a place, but a new way of seeing things.“ Henry Miller

Bali. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Bali. Tempat impian saya sejak lama ingin saya kunjungi yang akhirnya kesampaian juga, Bali. Sebuah tempat yang katanya lebih terkenal di dunia dibanding Indonesia, negari yang menaunginya. Perjalanan ke Bali ini saya lakukan melalui jalur darat. Banyak hal yang menarik yang terlewatkan kalo kita lewat cara cepat melalui jalur udara. Banyak pemandangan yang indah yang dapat kita nikmati selain gumpalan awan di udara. Hanya satu hal yang kita korbankan: waktu.

18 Januari 2009 (Kota Solo)

Perjalanan dimulai dari Kota Solo tempat lahir saya. Siang hari, kami berangkat naik mobil Zebra jadul. Tujuan kami adalah menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Kilometer demi kilometer kami lalui melewati Sragen, Ngawi, Kertosono, Nganjuk, Situbondo, sampai ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi kesesokan harinya.  Perjananan kami juga memalui perkebunan karet yang berasa masuk ke hutan, namun dengan pohon-pohon yang tertata rapi.

Di Situbondo, sebuah pembangkit listrik tenaga uap bernama PLTU Paiton tampak begitu megah. Di malam hari, PLTU ini memancarkan kerlip-kerlip lampu dan kilatan listrik raksasa yang mirip petir!

 

19 Januari 2009

 – 06.17 (Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi)

Perjalanan tak selancar yang kami harapkan. Dalam perjalanan menuju Ketapang, kami harus melewati jalanan berlubang. Gelap. Entah hutan mana yang kami masuki malam itu. Akhirnya, sampailah mobil kami yang berisi tujuh orang di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Harga tiket kapal Indonesian Ferry adalah Rp5.700/orang dan mobil Rp 94ribu rupiah (untuk update tarif silakan klik disini).

Pelabuhan Ketapang di tampak begitu memukau di pagi hari dengan background pemandangan gunung, burung walet, sunrise, air laut, kapal ferry, dan ini dan itu..arggghh… Setting waktu di handphone saya buat otomatis sesuai dengan waktu provider terdekat. DI tengah laut, jam saya berubah-ubah seenak udelnya sendiri. Kadang mengikuti WIB, kadang WITA. Apakah ini yang dinamakan time travel? Beginikah rasanya menembus waktu? Dengan mudah raga ini kembali 1 jam sebelumnya atau kembali ke 1 jam sesudahnya.

– 07.13 (Pelabuhan Gilimanuk, Bali)

Sampailah kami di Pelabuhan Gilimanuk. Senang luar biasa menginjakkan kaki di tanah impian. Tanah yang dulu hanya bisa saya lihat melalui foto dan majalah. Tujuan perjalanan kami selanjutnya adalah Tanah Lot. Perjalanan dari Pelabuhan Gilimanuk ke Tanah Lot ini luar biasa mengesankan, karena kami melihat perkampungan tradisional penduduk yang sangat unik. Desain rumahnya sangat orisinil, penuh ukiran, penuh cita rasa seni yang tinggi, mistis, indah sekali. Benar-benar mirip dengan yang saya lihat di foto dan majalah. Kami juga melewati pantai sebelah barat daya Bali yang jarang diekspos. Pantai dengan gulungan ombak yang sangat rata, dengan sawah dipinggirnya. Cantik sekali.

Halaman berikutnya, jalan-jalan di Bali

1 2 Next

1 COMMENT

Leave a Reply